Ini adalah cerita cintaku. Ya
walaupun sedikit banyak aku udah ubah ceritanya, tapi pada intinya tetap sama
kok... have fun ya bacanya.... maaf kalau jelek dan ceritanya Cuma sedikit.
Nanti pasti ada kelanjutannya... okesiip.... happy reading guys....
*My Love Story*
Senja sore ini
terasa begitu indah. Siluet-siluet kuning kemerahan menambah cantiknya mentari
sore ini. Pepohonan bergoyang seirama dengan angin yang berhembus pelan. Sepi,
sunyi, tenang, dan tentram. Itu yang ku rasakan saat ini. Ini hari terakhirku
disini. Esok pagi, aku harus berangkat ke Kota untuk meneruskan pendidikanku.
Meninggalkan orang tua, saudara, teman-teman, dan tempat ini.
Tempat
ini telah menyimpan berjuta kenangan dalam hidupku. Ditempat ini, aku merasa
tenang. Ditempat ini, aku merasa nyaman. Ditempat ini, aku sempat menemukan
cintaku. Bahkan ditempat ini pula, aku memutuskan untuk mengakhiri kisah
cintaku.
Angin
yang berhembus tenang, membawaku terlelap dalam kesunyian. Menghantarkanku pada
mimpi indah yang telah menunggu. Tiba-tiba...
“Oktaaaaaaaaa!!
Oktaaaaaaaa....”
Suara
apa itu? Sepertinya aku mengenal suara itu. Tapi... ahh, mungkin itu hanya
halusinasiku saja. Kemudian aku kembali terlelap.
“ya
Allah!!! Okta!! Udah sore begini kamu gak pulang?!! Ayo cepet pulang, mandi!!!”
Astaghfirullah...
ibu?! Jadi tadi benar suara ibu? Mati aku... bisa-bisa aku dibikin sate sama
ibu gara-gara tidak segera pulang.
“heheheheee...
ibu. Iya, ini baru mau pulang” jawabku.
“cepet
sana! Anak gadis kok jam segini belum mandi!” omel ibu.
“iya-iya..”
Kemudian
aku pun segera pulang ke rumah.
*****
keesokan
harinya, aku telah siap untuk berangkat. Semua barang-barang yang ku perlukan
selama di kota sudah siap. Pukul 07.00 WIB tepat, aku sudah berada didepan
mobil yang akan mengantarkanku ke kota. Setelah berpamitan dengan kedua orang
tua dan kedua kakakku, aku segera masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kota.
Perjalanan
antara desaku dengan kota cukup memakan waktu lama. Karena perjalanan yang
cukup membosankan, akhirnya aku tertidur dalam mobil.
Pukul
15.00 WIB aku telah sampai di alun-alun kota. Aku turun disana karena mobil
yang aku tumpangi tadi tidak bisa mengantarkanku sampai tempat kost-an yang
telah dipilih orang tuaku sebelumnya. Akhirnya, akupun naik angkutan kota.
Sesampainya
ditempat kost, aku menurunkan semua barang-barangku yang menurutku, itu cukup
banyak. Entah, ibu membawakanku barang apa saja. Kemudian aku memencet bel yang
ada didepan pintu gerbang kost putri tersebut. Kulihat disekeliling tempat kost
itu. Didekat kost putri tersebut, terdapat kost putra. Letaknya tak terlalu
jauh. Cukup sekali menyebrang jalan, sudah sampai di tempat kost putra
tersebut. Apakah mungkin kedua tempat kost ini dimiliki oleh pemilik yang sama?
Hemh.. entahlah. Berkali-kali aku memencet bel, tetapi tak ada seorangpun yang
keluar.
Tiba-tiba,
seorang lelaki muda yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerikku itu pun
menghampiriku. Ia menepuk pundak sebelah kananku. Kontan aku terkejut akan
kedatangannya. Segera saja ku tangkis tangannya lalu ku putar badannya.
“eh
eh aduh!!... apa-apaan nih!! Gua salah apa?!!” kata lelaki itu dengan mengaduh
kesakitan.
“mau
apa lo?!! Jangan macem-macem sama gue!” kataku dengan terus memegangi
tangannya.
“gue
Cuma mau ngasih tau lo, kalo bu riska (ibu kost) ga ada dirumah!!” jelas lelaki
itu.
Segera
saja aku melepaskan tangannya, dan meminta maaf padanya.
“Astaghfir..
maaf-maaf.. gue ga tau! Gue kira lo...”
“penjahat?”
sahut lelaki itu. Aku menganggukkan kepala. “makanya neng, kalo mau berbuat itu
lihat-lihat orangnya dulu. Masa tampang keren dan sekece ini dikira penjahat,
ada-ada aja..” tutur lelaki tersebut dengan gaya yang menurutku berlebihan.
“iya
maaf..”
“iya
gapapa. Eh kenalin, gue rasya. Lo?”
“okta..”
“oh
okta, em.. ngomong-ngomong lo anak baru yang mau nge-kost disini? Darimana?”
tanya dia.
“iya,
gue baru mau nge-kost disini. Gue dari desa” jawabku.
“gadis
desa?” aku menganggukkan kepala. “ternyata ada juga ya gadis desa yang cantik
kayak gini” ucapnya. Aku tersenyum.
“eh
bu riska nya kemana? Trus masa dikost-an ini ga ada orang satupun?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan.
“iya
tadi bu riska pergi sama suaminya. Ga tau kemana.. di kost-an ini kalo jam
segini mah anak-anaknya belum pada pulang. Ya mungkin nanti sekitar jam 5 sore-an
baru pada pulang” terang rasya.
“lah
trus gue? masa gue harus nunggu disini sampe jam 5 gitu? sambil berdiri pula..”
“em...
iya ya? Kalo lo gue bawa ke kost-an gue, bisa-bisa gue dihajar abis-abisan sama
anak-anak yg laen. Em.. mending kita duduk dibangku sana aja. Tempatnya adem..”
jawabnya seraya menunjuk ke arah tempat yang dimaksud. Aku meng-iya-kan saja.
Kemudian, dengan dibantu oleh rasya, aku membawa semua barang-barangku ke
tempat tersebut.
“banyak
banget sih barang bawaan lo..” kata rasya.
“tau
nih, ibu bawainnya banyak banget. tau tuh apa aja yang dibawain..hehe” jawabku.
*****
Malam
harinya setelah mandi dan membereskan kamar, aku pun memutuskan untuk
jalan-jalan keluar. Tetapi ira, teman satu kost ku mencegah.
“kenapa?”
tanyaku pada ira.
“lo
kan gatau daerah sini. Kalo ada apa-apa gimana?” tutur ira. Ternyata dia
perhatian juga padaku.
“gue
bisa jaga diri kok...” jawabku enteng, lalu meninggalkan ira. Ira hanya
menggeleng-gelengkan kepala.
Diluar,
udara begitu dingin. Tak ada bintang. Beginilah kota. Terlalu banyak polusi,
sehingga bintang pun tak ada yang mau nampak dimalam ini. Terlihat anak-anak
lelaki di kost putra begitu ramai. Entah apa yang mereka lakukan, aku tak tahu,
dan tak mau tahu. Perlahan kubuka pintu gerbang kost putri. Kemudian aku
keluar, lalu ku tutup kembali. Belum sempat aku melangkah keluar, sudah ada
anak lelaki yang berusaha menggodaku.
“cewe...
godain kita dooong... hahahahaha!” aku berusaha untuk tetap tenang dan berjalan
kedepan. Aku berjalan, terus berjalan menyusuri jalanan yang gelap itu.
Tiba-tiba, aku merasa ada yang mengikutiku. Kudengar suara derap langkahnya,
semakin dekat. Laluu... seeeett.. aku memasang kuda-kuda.
“weits...
woles neng... ini gue, rasya!”
“huuuuft...
kirain siapa. Lo tu senengnya ngagetin gue aja ya..” kataku seraya kembali ke
posisi semula.
“hehehehe...
sebegitu takut kah dirimu?” tanya rasya.
“bukannya
gue takut, gue Cuma hati-hati aja. Kejahatan itu kan ada dimana-mana. Apalagi
dikota sebesar ini...” jawabku.
“ohehe...
tenang, gue bukan penjahat kok! Eh, ternyata cewe kayak lo bisa karate juga
ya... gue kira, gadis desa itu Cuma bisa diem dan.. pasrah”
“wehh..
jangan salah. Gadis desa itu ga selemah yang lo pikir. Emangnya cewe kota,
bisanya Cuma manja-manjaan doang! Gue dulu sempet ikut taekwondo gitu. tapi itu
dulu..” jawabku.
“ikut
taekwondo? Udah dapet sabuk apa?” tanya rasya.
“maunya??”
“seriusann!!”
“baru
dapet merah kok...” jawabku enteng.
“wihhh
kalo udah merah mah hebaaat!! Gue aja dulu mau dapet kuning aja susahnya minta
ampun.. hehe” kata rasya.
“iya
si tapi itu dulu... yg gue lakuin tadi mah Cuma seinget gue aja.. hehe... lo
pernah ikut taekwondo juga?” tanyaku.
“iya,
tapi waktu SD. Itupun Cuma coba-coba aja...”
Sepanjang
perjalanan aku dan rasya terus berbincang-bincang. Ternyata, dia orangnya asik
juga... menurutku!!
*****
Esok
pagi, pagi-pagi sekali, aku telah bersiap untuk menuju sekolah,menerima
pengumuman tentang apa saja yang diperlukan pada saat MOS nanti. Tak seperti
biasanya aku bersiap se-pagi ini. Ya.. karena ini di kota. Telat sedikit saja,
macet menghadang. Jadi, mau tak mau harus seperti ini. Sembari aku memakai
sepatu, ku panggil-panggil nama “ira” berulang kali. Tapi tak ada jawaban
apapun. Yang kudapat hanyalah teriakan dari kakak-kakak yang kebisingan akan
suaraku yang merdu ini, ya merdu... merusak dunia. kemudian, aku menghampiri
ira ke kamarnya. Ku ketuk pintunya berkali-kali. Tak ada jawaban. Kemudian, aku
membuka pintunya. Tak di kunci. Akupun masuk. Dan ternyata...
“MasyaAllah
iraaaa!!! Kenapa lo malah masih molooor??! Ini udah jam berapa?! Cepet bangun!!
Nanti telat!!!!” kataku seraya mengobrak-abrik tubuhnya.
“hmmm...
jam berapa si?” tanya ira dengan mata berat. Kemudian ia melihat ke arah jam
dikamarnya. “baru juga jam setengah 6.. HAH?! SETENGAH 6??!!! Mampus gue... eh
eh, tungguin gue ya.. ya... plissss!!”
“ya
udah buruuuu!!!”
*****
“gila.. dimana gue harus nyari semua ini?! Susah banget sih!!” keluh
ira.
“ga ada yang sulit kalo belum dicoba... nanti kita coba cari
bareng-bareng!!” kataku berusaha menenangkan. Ira hanya mengangguk.
*****
Hari ini, hari pertama mulai pelajaran setelah MOS selesai. Aku
berangkat bersama ira dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Didepan gerbang
kost, kami berhenti sejenak. Terlihat ditempat kost putra, rasya sudah siap
diatas sepeda motornya untuk pergi ke sekolah juga. Sempat aku bercengkrama
dengannya.
“mau ke sekolah neng?” tanya dia.
“iya, aa juga?” tanyaku kembali. Aa? Sejak kapan aku memanggilnya
aa? Hmm... kalian ingin tahu? Kasih tau gak ya... hehe... iya, sejak malam itu,
saat aku pertama kali berjalan keluar bersamanya, kita sepakat untuk memakai
panggilan seperti itu. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, dan dia
pun juga sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri, sekalipun kita seumuran.
Dan karena ini di tanah “Sunda” jadilah panggilan “aa” dan “neng” yang timbul.
“iya neng, ga bareng sama aa aja?” tawar nya.
“ga usah a, aku sama ira. Lain kali aja...” jawabku.
Rasya tersenyum, begitupun aku. Ira sedari tadi hanya senyum-senyum
tak jelas.
“lo kenapa ra? Senyum-senyum ga jelas kayak gitu..” tanyaku pada
ira.
“hehehe...gapapa, tuh cowo ganteng juga ya..” jawabnya.
“siapa?”
“itu yang dibelakangnya rasya” ujar ira dengan berbisik.
“farhan?”
“iya...hehe”
“hmmmm.... ya udah ahh, ayok berangkat, duluan ya a’, farhan...”
kataku seraya meng-klakson mereka berdua. Mereka tersenyum pada kami berdua.
*****
Sepulang sekolah, aku menunggu ira ditaman sekolah. Hampir 1 jam
sudah aku menunggunya. Entah apa yang dilakukan ira didalam kelas. Tiba-tiba ia
datang dengan membawa setumpuk buku tebal yang cukup banyak. Dengan
tergopoh-gopoh ia menghampiriku.
“lama banget sih ra.. sampe berlumut gua nungguin lo!!” kataku
kesal.
“sorry-sorry.. gue ga bisa pulang sekarang ta, nih baru hari pertama
aja gue udah dikasih tugas buanyak banget!!” jawab ira.
“trus gue pulang bareng siapa?”
“em.... ya gimana... aduuuh bingung gua...”
“ya udah lah, gue naik angkot aja.... duluan ya ra!!” ucapku pada
ira.
“iya, skali lagi sorry ya ta!!”
“siiip” jawabku seraya mengacungkan jempol.
Aku menunggu angkot didepan pintu gerbang sekolah. Tak ada sama
sekali. Padahal sudah hampir 2 jam aku menunggu. Harus berapa lama lagi aku
menunggu? Tiba-tiba ada sebuah motor berhenti tepat didepanku. Saat
pengendaranya membuka helm, ternyata itu...
“mau bareng neng?” itu aa, eh maksudku rasya. Mengapa ia ada disini?
Bukankah jarak sekolahnya dengan sekolahku ini cukup jauh?
“kok aa ada disini? Bukannya....”
“cerewet ahh! Buruuu!! panas nih..” kata rasya seraya menyodorkan
sebuah helm padaku. Aku mengambilnya lalu memakainya. Aku naik ke atas motornya
itu. “udah siap?”
“udah..”jawabku
“turun lah...” ucap rasya.
“yahhh kok turun??”
“hehehe... gak-gak, bercanda. Ayok!! Capcuss cyiiin” kata rasya.
“ihh rempong dehh...” jawabku sembari memukul-mukul tubuh rasya.
Disepanjang perjalanan kita terus tertawa. Entah mengapa setiap kali
aku dekat dengan rasya, aku selalu merasa nyaman. Apakah ini yang disebut
cinta? Ahh... apa-apaan aku ini. Rasya tak mungkin merasakan hal yang sama
sepertiku. Ia telah menganggapku sebagai adik. Tak mungkin ia menyimpan rasa
padaku. Lebih baik ku buang jauh-jauh perasaan ini. Daripada nanti akan membuatku
sakit.
*****
Malam itu aku tengah duduk sendiri. Anak-anak kost putri sibuk
dengan urusan masing-masing. Ira, dia pergi entah kemana. Mungkin ia sedang
berduaan dengan farhan. Memang, sudah 2 minggu ini mereka jadian. Sedangkan
aku, hanya bisa duduk dan diam disini.
“eneeeeeng!!!” rasya memanggilku.
“iya??” jawabku sedikit berteriak.
“boleh masuk gak?”
“mangga atuh!!”
Lalu rasya pun masuk. Ia duduk di bangku depan kost yang telah
disediakan khusus untuk tamu. Aku pun menghampirinya, lalu duduk didepannya.
“ada apa a’?” tanyaku.
“gapapa, Cuma pengen maen ajah.. hehe” jawabnya.
“hemmmmm...”
“neng, tau gak kenapa bintang malam ini gak ada yang muncul?” tanya
dia lagi.
“kan ini di kota, polusi dimana-mana... jadi bintang ga ada yg
muncul lah..” jawabku.
“salah neng...”
“em... trus apa? ga tau, emang kenapa?” tanyaku.
“iya soalnya mereka malu. Cahaya mereka kalah indahnya dengan senyum
neng malam ini” jawabnya.
“aaaaaaaaaaaaaaahhh gombal!!” kataku.
“enggak, aa mah gak gombal, orang ga bisa gombal..”
“trus tadi apa kalo ga gombal?!”
“ngerayu.. hehehe”
“yahhh sama ajah aa!!!!” jawabnya.
Malam ini hidupku serasa berwarna karena kehadirannya. Canda tawa
memenuhi keseharianku bersamanya. Mengapa? Mengapa disaat aku ingin membuang
jauh perasaan ini, justru perasaan ini terasa semakin dalam? Ya Tuhaaan...
tolong aku! Tolong buang perasaan ini terdahapnya. Aku tak ingin sakit lagi.
*****
Pagi ini seperti biasa, aku berangkat bersama ira. Dan seperti biasa
pula, aku menunggu ira yang sedang berdandan layaknya ibu pejabat yang lama
sekali dandannya. Memang, kebiasaan itu anak seperti itu. Sudah hampir setengah
jam aku duduk disini menunggunya. Harus berapa lama lagi aku menunggu. Sambil
menunggu ira, aku melihat-lihat sekeliling. Ternyata ada gitar yang tergeletak
di bangku depan sana. Lalu, ku ambil gitar itu dan ku mainkan.
“every night in my dreams....” belum selesai aku bernyanyi.
Seseorang menyahut nyanyianku.
“i see you.. i feel you...”
Aku pun menoleh ke arahnya. Ternyata..
“aa??” ucapku. Ternyata dia rasya. Ia berjalan menghampiriku. Aku
hanya diam tak berkutik.
“cieee... lagi galau tah neng?” tanya dia dengan sedikit menggoda.
“apaan sih, gak kok...” jawabku dengan tersenyum. “kok belum
berangkat a’? nunggu apa lagi?” tanyaku.
“iya, nunggu farhan tuh. Kelamaan. Kayak cewe aja dandannya lama!!”
tuturnya sedikit kesal.
“hmmm... mereka berdua memang klop ya. Ini aku juga lagi nunggu
ira..” jawabku.
“pasangan yang serasi...”
“serasi sih serasi. Tapi serasinya gak yang kayak begini juga
kali... bikin orang kesel nunggu aja!!” jawabku.
“eheheheheee... neng, mau bareng gak?!” tawarnya padaku.
“lah.. trus ira sama farhan gimana dong?” tanyaku.
“ya mereka berdua kan bisa barengan. Lagian, kan ini juga supaya
mereka bisa berduaan kan...” jawab rasya.
“iya juga sih, ya udah... IRA!! GUA BERANGKAT DULUAN YA!! NANTI LO
BARENG AJA SAMA FARHAN... DAAAAAAHH!!” teriakku lantas berlari menuju motor
rasya yang sudah terparkir didepan kost-an. Tanpa basa basi lagi, aku langsung
naik ke atas motor rasya dan cussss.. berangkat!!
*****
Malam harinya aku berjalan menuju taman dekat kost. Aku duduk disana
dengan membawa sebuah gitar. Perlahan aku memetik gitar itu hingga membuat
sebuah alunan nada yang indah. Ku nyanyikan sebuah lagu yang sangat pas dengan
keadaan hatiku saat ini.
Setiap waktu memikirkanmu
Kukatakan pada bayangmu
Sampai kapan ku harus menunggumu jatuh cinta..
Rindu ini terus menganggu
Ku tak sabar ingin bertemu
Berapa lama lagi menantikan kata cinta...
Tiba-tiba saja, rasya menghampiriku. Tanpa berkata apapun, ia lantas
duduk disampingku dan mendengarkan lagu yang ku nyanyikan. Akupun terus
menyanyi..
Andaikan dia tahu apa yang kurasa
Resah tak menentu mendamba cintamu..
Andaikan dia rasa hati yang mencinta
Kuyakini kau belahan jiwa..
“neng lagi suka sama seseorang ya?” tanya rasya.
“maunya?” jawabku.
“siapa neng? Cerita dong sama aa!” pintanya.
“kasih tau ga yaaa....”
“kasih tau dong neeeng...” ucapnya dengan memohon padaku.
“ahh udahlah, lagian belum tentu dia juga suka sama aku a’” jawabku.
“emangnya neng udah bilang gituh sama dia?” tanya rasya.
“belum..”
“lah... ya bilang dong neng sama dia kalo neng itu suka sama dia.”
“udahlah a’... lupain aja. Belum tentu dia suka sama aku...”
jawabku.
“kan belum dicoba neng... optimis dong neng. Aa ga suka orang yang
pesimis kayak gini” ujarnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah depan.
“tapi masa cewe duluan sih yang mulai a’..”
“ya emang ada yang salah gitu kalo cewe duluan?”
“ya ga gitu. gini ya... kalo misalkan aku ngomong ke dia. Trus dia
itu kan ga ada rasa gitu ya sama aku. Dia jadi jauhin aku. Kan aku juga yang
sakit a’... lebih baik aku pendam perasaan ini bahkan buang jauh-jauh perasaan
ini daripada aku harus kehilangan dia” tuturku.
“siapa sih neng orangnya?” tanyanya.
“mau tau?” tanyaku. Rasya menganggukkan kepala. “wani piroooo....hehehehe”
“ishh si neng.... seriusan!!!”
“emmm.... orangnya itu bawel, jahil, tapi bisa ngajarin aku mana
yang baik dan mana yang nggak. Dia bikin aku nyaman. Dia bisa bikin aku seneng.
Dia udah aku anggap sebagai kakak, dan dia pun juga udah nganggep aku sebagai
adik. Nah maka dari itu, karena dia udah
nganggep aku adik, ya berarti ga mungkin dong dia suka sama aku? Makanya aku
pengen buang perasaan ini a’..” tuturku panjang lebar padanya.
“maksud neng, aa?!” tanya rasya dengan menunjuk dirinya sendiri.
Terlihat diwajahnya, ekspresi wajah yang begitu terkejut.
“maunya?”
“neng seriusan ahh!!”
“hmmm... iya-iya..”
“iya apa? Bener aa?” tanya dia sekali lagi.
“iya a’...”
“yang bener neng?! Neng mah jangan bercanda mulu!” kata rasya.
“tuh kan... ya udahlah lupain aja. Ga penting!! Mending aku balik
aja yah ke kost-an..” akupun beranjak dari tempat duduk.
“tunggu tunggu!! Neng jangan pergi dulu. Ini serius neng? Jangan
bercanda ahh” tanya rasya.
“ih siapa juga yang bercanda. Aku serius!” jawabku dengan wajah yang
meyakinkan. Rasya terdiam. Ia memikirkan sesuatu. sejenak tak ada yang
berbicara. Kita berdua diam dengan pikiran masing-masing. “dari awal aku udah
tau kok kalo kejadiannya bakal kayak gini. Makanya, aku ga mau ngomongin ini”
kataku. Rasya masih diam. “aku balik ya a’..”
“tunggu!!!!” rasya menahanku. Ia memegang tanganku erat. Aku pun
kembali duduk. Ia memengang kedua tanganku. Menatap kearah manik mataku dalam.
“kalo seandainya aa juga suka gimana?” ujar rasya.
“aa seriusan!!”
“neng, aa itu dari awal, dari awal kita ketemu pas neng hampir
matahin tangan aa aja, aa itu udah ada perasaan sama neng. Awalnya aa juga ada
pikiran yang sama dengan neng. Ga mungkin neng juga suka sama aa. Seiring
berjalannya waktu, entah kenapa bukannya perasaan ini hilang, eh malah semakin
dalam aja neng. Aa bingung dengan semua ini. Dan sekarang, aa udah tau gimana
perasaan neng ke aa sebenarnya. Jadi.... neng, mau gak jadi pacarnya aa?”
Aku diam. Aku bingung. Aku malu. Aku... ahh.. semua kurasakan. Aku
harus menjawab apa? Iya-kah? Atau tidak kah? Aku menyayanginya. Tapi, aku tak
mau jika nanti sewaktu mengakhiri hubungan ini, dia akan menjauh dariku. Aku
tak mau itu.
“kok diem neng? Neng? Mau gak?”
“iya..”
“apa?”
“iya aku mau a’..” jawabku.
“serius??”
“iya serius!!”
“tapi aa ga mau ya, buruknya putus itu kalo udahan, udahan semua.
Trus abis itu jauh-jauhan. Aa ga mau kayak gitu. aa itu udah terlanjur sayang
sama neng”
“ya sama a’.. aku juga ga mau kayak gitu..”
“ya udah, jadi kita jadian yak!!” kata rasya dengan mengacungkan
jari kelingkingnya.
“iya.....” aku mengaitkan jari kelingkingku dengan kelingkingnya.
“AAAAAAA makasih neeeeeng!!!” rasya berteriak kegirangan. Tanpa ia
sadari, ia memelukku. Kontan aku melepaskannya.
“weh weh!! Bukan mukhrim!!” kataku.
“oh iya... hehehe.. maap neng.... piss!!”
Akhirnya kita berdua pun berpacaran. Hari-hari kita lewati bersama
dengan penuh canda dan tawa. Rasya selalu ada untukku. Dia selalu menemaniku.
Dimanapun dan kapanpun. Saat senang dia ada. Dan saat sedih pun, dia ada. Aku
sangat menyayanginya. Rasya... Okta... Forever....
*****
***
*
“KLING” ada 1 pesan singkat masuk. Ternyata dari rasya, Kubuka
pesannya..
Neng, aa tunggu
didepan kost ya..
Tanpa kubalas pesan dari rasya, aku langsung menuju depan kost.
Disana sudah ada rasya yang berada di atas motornya. Pakaiannya sudah rapi.
Sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat. Dengan pakaian seadanya, aku
menghampirinya.
“mau kemana a’? rapih amat...” tanyaku dengan bersandar di pagar
kost-an. Ku perhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“loh? Kan malam ini kita mau jalan neng... gimana si...” jawabnya
sedikit kesal.
“ya ampuuun... aku lupa!!! Bentar, aku ganti baju dulu ya” segera
aku berlari menuju kamarku. Rasya hanya menggeleng-gelengkan kepala, heran
padaku yang pelupa tingkat akut ini.
15 menit berlalu. Segera aku memakai sepatu dan menuju tempat rasya
berada.
“huuuuft.... maaf lama a’... ayok!!” ajakku.
“neng serius mau pergi, kayak gini?” tanya rasya tak yakin.
“emang kenapa? Ada yang salah?” tanyaku kembali tak mengerti.
“coba deh ngaca dulu nih!!” ucapnya dengan menunjukkan kaca
spionnya. Akupun berkaca disitu. Dan...
“Astaghfir... bentar ya!! 5 menit!!” aku langsung berlari menuju
kamarku kembali. Ternyata, rambutku acak-acakan. Sudah hampir seperti rambut singa.
Tak karuan. Setelah menyisir rambut. Akhirnya, kita berdua berangkat juga.
Wuuuusssh..
Didalam perjalanan, aku terus berbincang-bincang dengannya. Hingga
sampailah kita berdua di suatu tempat yang menurutku begitu indah. Tempatnya
tak begitu jauh dari tempat kost. Hanya berjarak sekitar 2 km dari kost. Akupun
turun dari motor, dan melihat sekeliling. Indah. Tetapi tempat ini sedikit
ramai. Ya karena ini malam minggu, jadi banyak orang, apalagi anak muda yang
datang kesini.
“tempatnya.... indah a’.... aku suka” tuturku pada rasya.
“iya dong, disini tempatnya emang indah neng..” jawabnya.
“iya sih.. tapi, rame!! Banyak orang..” kataku lagi.
“iyakan malam minggu neng..”
“tempat ini.... hampir sama dengan tempat favoritku, didesa... tapi
disana sepi, kalo disini rame” ujarku.
“tempat apa neng?” tanya rasya.
“tempat yang biasa aku datangi kalo lagi ada masalah, lagi seneng,
semuanya...”
“pasti indah banget tuh tempat... aa’ pengen kesana” ujarnya.
“hmmm tapi itu didesaku. Jauh dari kota ini a’..”
“ya gapapa, kapan-kapan.. aa’ kesana..” kata rasya.
“serius?”
“he’em..”
Ditengah-tengah aku dan rasya berbincang, tiba-tiba ada seorang
perempuan yang mendatangi kita berdua. Terlihat, ekspresi wajahnya menampakkan
jika ia sedang kesal. Dengan tingkahnya yang sedikit manja, ia menghampiri
rasya.
“rasyaaaa.... kenapa kamu ga ngajak aku sih kalo mau kesini??” kata
perempuan itu dengan sedikit menggerser posisi dudukku disitu. Akupun mengalah,
aku bergeser. Aku hanya diam.
“e... sorry, gue lagi sama....”
“eh, gimana kabarnya? Aku kangen banget tau gak sama kamu... kamu
sih ga pernah ngabarin aku. Aku kan kangen” ujar perempuan itu lagi dengan
menggandeng-gandeng tangan rasya dengan mesra.
“eh ga usah pake gandeng bisa gak? Gak enak sama okta..” kata rasya
dengan melepas gandengan perempuan itu.
“okta? Siapa sih?? Cewe ini? Ohh.. namanya okta” ucap perempuan itu.
Aku diam. Aku diam, bukannya perempuan itu sadar, eh malah tambah ngelunjak
kelakuannya. Daripada hatiku semakin hancur melihat tingkah lakunya, lebih baik
aku beranjak dari tempat itu. Ketika aku berdiri, rasya mencegahku..
“mau kemana neng?” tanya rasya dengan menggenggam tanganku.
“mau kesana” jawabku dengan menunjuk sebuah bangku kosong didekat
pohon sana.
“kenapa?” tanyanya kembali.
“disini panas!!” ucapku dengan melirik ke arah perempuan genit itu.
Lalu akupun pergi...
“neng tunggu!!!!” rasya ingin menyusulku, tapi perempuan itu terus
memeganginya. Berusaha mencegah agar rasya tak berlari ke arahku.
“udah disini aja... ngapain sih kamu mau kesana? emang dia siapa?”
tanya perempuan itu.
“dia cewe gue!!” ujar rasya.
“HAH??!! KAMU SERIUS?”
“iyalah... ngapain gue bo’ong. Em.. gue tegasin sekali lagi ya, cit.
Kita ini udah ga ada hubungan lagi. bukannya lo ga boleh berteman ama gue, tapi
gue minta lo jaga sikap sama gue. ga enak dilihat sama orang, apalagi sama cewe
gue sendiri. Lo itu udah punya cowo dan gue juga udah punya cewe. Jadi, urusin
pacar kita masing-masing. Jangan ganggu gue lagi cit...” kemudian rasya pergi
meninggalkan perempuan itu, yang ku ketahui bernama citra. Citra hanya diam tak
menyangka.
Sementara itu, rasya menghampiriku yang sedang duduk melamun.
“neng, maaf ya tadi... aa’ ga bermaksud....”
“udah gapapa, lupain aja...” jawabku langsung.
“tapi neng, aa ga enak sama neng nya. Aa minta maaf ya neng...”
“iya-iya... udah ah, balik yuk! Udah malem” ajakku.
“iya, tapi neng beneran udah maafin aa?”
“iya aa....”
“makasih neng sayang....”
“iya aa sayang, udah... yuk!!”
“yuk!!” kemudian, kami berdua pun kembali ke kost-an.
*****
Sudah hampir 3 bulan aku tak kembali ke desaku. Aku rindu dengan
kedua orang tua dan saudara-saudaraku disana. Aku ingin pulang. Yah... mumpung
ini sedang masa liburan, aku memutuskan untuk kembali ke desa. Hanya sekedar
menjenguk orang-orang yang kusayang disana.
“lo serius mau pulang, ta?” tanya ira.
“iyalah...” jawabku seraya mengemasi barang-barangku.
“trus, lo balik kapan?”
“secepatnya gue bakal balik” kataku.
“kalo gue kangen gimana?”
“yaelah,ra.... gue pulang palingan pol-polan Cuma seminggu disana.
Ntar juga balik lagi... lebay lu ahh... lagian kalo lo kangen, kan lo bisa
nyusul kesana.. hehehe”
“yah... gue kan ga tau desa lo, ta...”
Setelah selesai mengemasi barang-barangku, akupun keluar. Diluar
sudah ada rasya yang siap mengantarku ke terminal. Disana juga ada farhan, yang
siap menjadi sandaran ketika ira menangis nanti. Aku membawa barang-barangku
keluar.
“udah siap semua neng?” tanya rasya.
“udah... eh, gue pamit ya...” kataku dengan bersalaman dengan ira
dan farhan, juga kakak-kakak kost yang ada disitu.
“lo ga lama kan, ta?” tanya farhan.
“gak kok, kenapa?”
“ya gak, nih... kalo lo nya lama kan nih anak nangisnya ga
berhenti-henti...” tutur farhan dengan menunjuk ira yang sedang menangis di bahu nya.
“hehehe... udah lah,ra... gue Cuma bentar kok. Lo jangan lebay gitu
ahh...!! hehe”
“lo beneran gak lama kan, ta?”
“nggak,ra... hehehe... ya udah, gue pergi ya... bye semua!!!”
kataku. Kemudian aku naik ke atas motor dan langsung berangkat ke terminal.
Sesampainya di terminal, akupun turun dari atas motor. Tiba-tiba rasya
mengenggam tanganku erat.
“neng, neng ga lama kan??” tanya dia.
“ih aa mah udah kayak ira aja... hehe gak kok, Cuma bentar doang...
nanti juga bakal balik lagi kok” ucapku.
“bener ya... aa takut aja kalo....” rasya menghentikan kata-katanya.
Seperti ada yang ditutup-tutupi darinya.
“kalo apa a’? kok ga di terusin?” tanyaku penasaran.
“eh nggak, em... berangkatnya jam berapa neng?” tanya rasya
mengalihkan pembicaraan.
“a’... kok ga di jawab sih tadi... ada apa? Tadi, kalo apa a’? jawab
dong... jangan bikin aku penasaran” kataku.
“gak-gak... lupain aja... aa Cuma kelantur aja tadi ngomongnya...”
“em... ya udah, aku pamit ya a’... itu bus-nya udah dateng, dadah aa’....”
“iya... dadah neng... hati-hati ya....”
“iya....”
Lalu akupun masuk kedalam bus. Dan berangkat menuju desaku. Sebenarnya
aku tak ingin meninggalkan sahabat dan pacarku disini, tapi mau bagaimana lagi.
aku sudah amat rindu pada keluargaku di desa. Toh juga aku pergi hanya
sebentar. Dadah ira.. dadah farhan.. dadah.. aa’... dadah semuanyaaaa.....
To be continued..
0 komentar:
Posting Komentar