cerpen baru nihh... hehe... happy reading!!
*Bukan Dia, Tapi Kamu*
Pukul
setengah 7 pagi, aku sudah berdiri didepan pintu rumah. Seperti biasa, aku
menunggu Darwin, kekasihku yang biasa ku panggil awin itu. Pagi ini aku sudah
berjanji akan pergi ke sekolah bersamanya.
Lima
menit aku menunggu, Darwin datang dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Aku
tak tau dia melakukan apa tadi. Segera ku keluarkan sapu tanganku dan mengusap
keringat di wajahnya.
“awin..
kamu abis ngapain sih kok keringetnya ampe kayak gini?!” tanyaku dengan terus
mengusap keringatnya.
“iya
sayang, tadi aku abis dikejar anjing tetangga tuh. Lari-larian tadi!! Huuft..”
jawab Darwin.
“dikejar
anjing? Lah kamu kan pake motor! Kenapa lari-larian?”
“motor
aku ketinggalan, sayang! Aku lupa kalo aku bawa motor. Ya aku maen lari gitu
aja!”
“hahahaha...
dasar kamu!! Ya udah berangkat yuk! Ntar telat!”
Disepanjang
perjalanan, aku dan Darwin terus bercanda. Ya beginilah kami berdua ketika kami
masih tinggal di Bandung. Selalu tertawa bersama. Menghibur satu sama lain dan
saling mengerti. Aku dan Darwin sering jalan berdua. Kemana-mana selalu berdua.
Mungkin bisa dikatakan, tiada hari tanpa bersama Darwin.
Hingga
suatu hari, Darwin pindah ke Surabaya ikut dengan orang tuanya dan aku pindah
ke Jakarta bersama orang tuaku juga. Saat itu, aku sedih sekali karena harus
berpisah dengan kekasih yang aku cintai. Kami berdua pun pernah berjanji akan
selalu memberi kabar satu sama lain dan saling menjaga hati masing-masing.
1
bulan.. 2 bulan.. komunikasi tetap berjalan. Tetapi, 1 tahun kemudian, kami pun
putus kontak. Tiba-tiba Darwin tak ada kabar sama sekali. Berkali-kali aku
berusaha untuk menghubunginya, tapi tetap tidak bisa. Aku benar-benar bingung,
tak tau harus berbuat apa. Perasaanku mulai tak karuan. Hingga sekarang..
***
“gimana
sa, udah ada kabar dari darwin?” tanya Risa, temanku.
“belum
ris, belum ada kabar apa-apa dari dia.. gue gak tau harus ngapain lagi..”
jawabku frustasi.
“sabar
sa, gue yakin suatu hari nanti dia bakal ngasih lo kabar. Bahkan balik lagi
kayak dulu.. lo sabar ya..” ujar risa menenangkan. Aku hanya menganggukkan
kepala saja.
Tiba-tiba
dari arah yang berlawanan, anak-anak perempuan berlarian. Sepertinya mereka
akan menuju lapangan basket tempat dimana pujaan hati mereka akan bertanding.
Yuup! Hari ini ada pertandingan basket antara tim basket SMU Cendrawasih dengan
SMU Bintang.
“Disa,
ke lapbas yuk! Seru tuh kayaknya..” ajak Risa.
“nggak
ah, gue disini aja.. disana rame!” jawabku dengan masih duduk dibangku taman
belakang sekolah.
“kalo
gak rame, bukan lapbas namanya.. ayolah sa!! Ada kak Dafa noh mau main! Gue kan
mau nyemangatin kak Dafa. Ayok! Keburu kelar pertandingannya!!” Risa
menarik-narik bajuku.
“trus
kalo lo udah nyemangatin kak Dafa, lo pikir dia bakal perduli gitu sama lo!!”
jawabku ketus.
“ihh
lo gitu banget sih sa! Ayolahh.. sekali ini aja! Kali aja dia mau nengok ke
gue! Ayok!! Please!!” ujar Risa memohon. Karena aku kasihan melihat dia sampai
jongkok didepanku, akhirnya dengan terpaksa aku menerima tawarannya. Aku pun
berdiri dan langsung berjalan menuju lapbas tanpa mengucapkan apapun kepada
Risa. Segera Risa mensejajarkan langkahnya denganku yang sudah terlebih dahulu
berjalan.
Penonton
di Lapbas banyak sekali. Hampir semua tempat penuh dengan orang-orang. Aku dan
Risa menerobos masuk dikerumunan suporter tim basket SMU Cendrawasih. Akhirnya
dengan sedikit perjuangan, aku dan Risa mendapatkan tempat duduk didepan.
Kak
Dafa? Iya, dia adalah seorang kapten tim basket SMU Cendrawasih. Memang, dia
mempunyai fisik yang nyaris sempurna. Tampan, tinggi, putih, gagah, dan masih
banyak kata yang tidak bisa ku ungkapkan semua. Banyak cewe yang tergila-gila
padanya. Bahkan dulu ada yang sempat menembak kak Dafa pada saat ia tengah
bermain dilapangan. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Menurutku dia
biasa saja. Apa yang ku katakan tadi itu adalah apa yang ku dengar dari
anak-anak cewe disekolah ini yang tergila-gila padanya.
Semua
anak berteriak untuk menyemangati tim basket sekolah masing-masing. Termasuk
Risa yang sedari tadi berteriak menyemangati kak Dafa yang sedang bermain
disana. Aku hanya diam tak bersuara. Buat apa berteriak menyemangati kak Dafa
kalau dia saja tak pernah melihat ke arah kami. Membuang tenaga saja.
Beberapa
menit berlalu, tim basket SMU Cendrawasih yang tak lain adalah tim kak Dafa cs
sudah unggul. Suasana semakin riuh ketika kak Dafa memasukkan bola ke dalam
ring lawan. Tiba-tiba kak Dafa menoleh ke arahku. Eh bukan-bukan, ke arah
penonton. Tetapi sudut matanya menunjukkan bahwa ia melihat ke arahku. Tapi aku
tak begitu yakin sih. Ah sudahlah.. tidak penting bagiku.
***
Pulang
sekolah, seperti biasa aku menunggu jemputan didepan gerbang sekolah. Tetapi 1
jam sudah aku menunggu, pak Min supirku tak kunjung datang. Aku sudah lelah
menunggu. Tiba-tiba sebuah motor sport merah berhenti didepanku. Ketika sang
pengendara membuka helmnya, aku sangat terkejut.
“kak
Dafa??” ujarku tak percaya. Ia memberikan sebuah helm padaku. Karena aku tak
begitu “nge-fans” dengannya, aku menyikapinya dengan biasa.
“cepet
pake! Gue anter pulang. Mau ujan tuh..” ujarnya santai.
“gapapa
nih kak?” tanyaku.
“iya,
udah buruan..” jawabnya. Lalu aku pun memakai helmnya dan naik ke atas
motornya. Kemudian ia menyalakan motornya lalu melesat pergi dengan kecepatan
cukup tinggi karena saat itu sudah gerimis.
Diperjalanan
tak ada yang berbicara. Kak Dafa fokus dengan jalan didepan. Aku pun hanya
diam. Dijalan, tiba-tiba aku melihat anak lelaki yang sangat mirip dengan
Darwin. Mirip sekali! Berkali-kali aku mengucek mataku, tapi pandanganku tak
berubah. Anak itu begitu mirip dengan Darwin. Segera aku memberhentikan kak
Dafa.
“stop
kak stop!!” seruku dengan menepuk-nepuk punggung kak Dafa yang tegap itu.
Ciiiiiitt... motor berhenti mendadak.
“ada
apa sih? Ngagetin aja!” tanya kak Dafa sedikit kesal.
“sorry
kak, gue turun disini aja! Thanks ya!” ujarku lalu mencopot helm dan langsung
lari mengejar anak yang mirip dengan Darwin itu.
“aneh
tuh anak..” kata kak Dafa.
Segera
ku kejar anak itu. Aku yakin itu Darwin. Setelah susah payah mengikuti,
akhirnya anak itu berhenti disebuah pusat perbelanjaan. Ia menemui seorang
gadis cantik yang mungkin sudah menunggunya lama. Mereka berdua terlihat mesra.
Seperti sepasang kekasih. Aku pun mendekat ke arah mereka. Ku perhatikan betul
wajah anak laki-laki itu. Benar, itu Darwin. Tapi mengapa ia bersama wanita
lain? Apakah ia sudah lupa dengan janjinya dulu? Segera ku temui mereka yang
sedang berduaan.
“awin??
Kamu disini?” tanyaku sumringah. Tetapi responnya tak seperti yang ku harapkan.
Ia bahkan terlihat bingung ketika aku memanggilnya ‘awin’.
“awin?
Maaf kamu siapa ya?” tanya dia. Aku begitu terkejut ketika ia bertanya seperti
itu.
“apa
kamu lupa sama aku? Aku ica, win!!” kataku.
“maaf
saya gak kenal sama kamu..” jawabnya. Apa? Dia tak mengenaliku? Tidak mungkin.
“kamu
gak kenal sama aku? Kamu awin kan? Darwin maksudku!! Aku ica!! Ica, ya Disa
win! Masa kamu gak kenal?!”
“iya
saya memang Darwin, tapi saya gak kenal sama kamu. Ica? Disa? Siapa?! Maaf ya,
saya buru-buru” ujarnya lalu pergi dengan menggandeng gadis disampingnya itu.
Apa?
Darwin benar-benar tak mengenaliku? Ini tidak mungkin! Itu benar Darwin, tapi
mengapa ia lupa denganku? Secepat itukah dia melupakanku?
***
Keesokan
harinya disekolah, aku menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Risa. Risa
pun tak percaya bahwa Darwin bisa secepat itu melupakanku. Ia berusaha
menguatkanku.
Hari
ini ada jam kosong, bu Asti yang seharusnya mengajar ada urusan yang membuatnya
terpaksa meninggalkan kelas. Tak ada tugas apapun, aku pun memutuskan untuk
menuju taman belakang sekolah yang cukup sepi. Ya, aku suka dengan sesuatu yang
berbau sepi semenjak Darwin pergi. Aku duduk diatas rumput taman yang hijau.
Suasana disana begitu tenang dan nyaman. Tak ada suara bising anak-anak yang
gaduh dikelas. Tak ada pelajaran yang membuat pusing kepala. Tenaaaang sekali.
Perlahan aku tertidur di atas rerumputan itu terbawa oleh hembusan angin yang
membuat mata kantuk.
Tiba-tiba
terdengar suara derap langkah kaki dan berhenti disampingku. Aku masih
memejamkan mata, malas untuk membukanya. Aku berpikir, seandainya itu adalah
Darwin, betapa bahagianya aku. Kapan aku bisa seperti dulu? Kapan Darwin
kembali? Huh.. aku sangat rindu padanya. Aku ingin dia ada disini sekarang.
“eh
cewe aneh!!” seseorang berkata seperti itu. Sepertinya itu menuju ke arahku.
Aku pun membuka mata sedikit. Ketika melihat siapa yang datang, segera aku
bangun dari tidurku dan duduk manis disampingnya.
“kak
Dafa ngapain kesini? Gak ada pelajaran?” tanyaku dengan memandang lurus ke
depan.
“ada”
jawabnya singkat.
“kalo
ada, ngapain kesini?”tanyaku lagi.
“gue
bolos, emang gak boleh ya gue kesini? Emang ini taman punya lo doang?!”
jawabnya ketus.
“yee
biasa aja dong.. gue kan Cuma nanya!” kataku kesal.
“lo
sendiri ngapain disini? Gak masuk kelas?!” ia balik bertanya.
“gak
ada pelajaran” jawabku singkat.
Sejenak
tak ada yang berbicara. Kami berdua diam dengan pikiran masing-masing. Suasana
hening begitu terasa. Lalu kak Dafa memulai pembicaraan.
“lo
suka kesini?” tanya kak Dafa.
“iya..
mencari ketenangan” jawabku.
“emm
kalo gue sih gak begitu suka dengan tempat ini.” Ujar kak Dafa. Aku mengerutkan
dahi ku. Kalau tidak suka mengapa ia kesini? Aneh.
“emang
kenapa?” tanyaku penasaran.
“disini
tempatnya sepi. Gue gak begitu suka” jawabnya.
“kalo
gak suka, trus ngapain lo kesini?” tanyaku lagi.
“sama
kayak elo, mencari ketenangan. Disana berisik. Ternyata cape juga ya jadi orang
ganteng.. dikejar-kejar cewe terus! Gue kan juga pingin bebas..” jawabnya.
“jiah
PD banget lo,kak!! Ya iya sih banyak cewe yang ngejar-ngejar lo. Setelah gue
pikir-pikir, apa coba untungnya..”
“ya
jelas ada untungnya lah.. mereka kan berebut buat ngedapetin simpatik gue. Trus
abis itu berebut ngedapetin gue.. huh”
“trus
kenapa lo gak simpatik ke mereka? Mereka kan udah nyemangatin lo, ngedukung lo,
tapi lo kok malah..”
“gue
gak suka!!” potong kak Dafa. Aku kembali mengerutkan dahi. “mereka terlalu
fanatik! Gue gak suka cewe kayak gitu. Kalo ngefans mah ngefans aja, ga usah
ampe kayak gitu! Lebay tau gak!” lanjutnya.
“trus
lo sukanya cewe yang gimana?” tanyaku. Kak Dafa melirikku lalu tersenyum evil
padaku. Aku bingung. “kenapa?”
“maksud
lo, lo mau daftar gitu jadi cewe gue?” tanya kak Dafa dengan masih tersenyum
evil.
“dih..
enggak lah! Gue kan Cuma nanya. Gak dijawab juga gue gak rugi kok!” jawabku
ketus.
“ahahaha...
ternyata lo cantik juga ya kalo lagi marah.” Ujarnya dengan tertawa.
“apasih?
Udah ah, gue ke kelas dulu. Udah mau ganti pelajaran!” kataku dengan berdiri.
“oh ya, gue Cuma mau ngasih saran. Sebaiknya lo perhatiin tuh fans-fans lo!
Kasian mereka. Cape-cape ngedukung lo, tapi lo nya cuek kek gitu. Ya emang
mereka gak bisa ngedapetin lo, tapi seenggaknya lo simpatik sama mereka!”
tuturku lalu pergi. Kak Dafa masih merenungkan apa yang ku katakan tadi.
***
“Disa!!
Disaa!! Sumpah gue seneng banget hari ini!!” ujar Risa dengan melompat-lompat
kegirangan. Aku yang sedang membaca buku sempat memandangnya aneh.
“ada
apa?” tanyaku.
“tau
gak? Tadi kak Dafa senyum ke gue! Senyum sa, senyum!! Aaaa gue seneng banget!!
Dan lo tau, tadi kak Dafa juga udah mulai simpatik gitu sama yang laen juga,
termasuk gue sa!!” tuturnya dengan sumringah. Aku yang mendengarnya hanya
tersenyum. Lalu melanjutkan membaca buku.
Jam
istirahat, aku dan Risa memutuskan untuk pergi ke kantin. Hari ini, kantin
begitu ramai. Ya, ramai dengan anak-anak perempuan. Entah ada apa, aku tak tau
pasti. Aku hendak memesan makanan dan minuman, ada kak Dafa langsung
menyerobot.
“gado-gado
2 sama jus jeruk 2,bu!” teriak kak Dafa memesan. Sama persis dengan apa yang
akan ku sebutkan. Risa yang melihatnya tersenyum tak jelas. Berbeda denganku,
aku meliriknya heran. “gue traktir lo!” ujarnya lalu tersenyum.
“trus
dia?” tanyaku dengan melirik Risa yang mukanya sudah memerah. Kak Dafa pun
melihat ke arah Risa dan tersenyum.
“lo
juga..” ujarnya pada Risa. Lalu ia duduk dikursi dekat mejaku.
“ada
angin apa nih, lo ampe nraktir gue kayak gini?” tanyaku.
“ucapan
terimakasih” ujarnya singkat. Aku menatapnya bingung.
“buat
apa?” tanyaku lagi.
“kemaren”
“maksudnya?”
belum sempat ia menjawab, pesanan datang. “makasih..” aku melihat kak Dafa. “lo
gak makan?” tanyaku.
“nggak,
udah tadi.. ya udah, lo makan tuh ntar biar gue yang bayar!” ucapnya lalu
pergi.
“thanks”
ucapku. Ia mengacungnya jempolnya dan tersenyum.
“miapah
kak Dafa nraktir gue?? Ini gak mimpi kan sa?” tanya Risa.
“nggak”
jawabku singkat.
“aaaaa..
gue di traktir kak Dafa!! Eh tapi, maksudnya kemaren itu apa sa?” tanya Risa
penasaran. Aku hanya tersenyum.
“gapapa,
udah makan aja!” jawabku.
***
Seperti
biasa, hari ini aku ingin ke taman belakang. Tetapi setelah sampai disana,
kulihat ada kak Dafa yang mendahuluiku. Aku pun menghampirinya dan duduk
disampingnya.
“gak
ada pelajaran lagi?” tanya kak dafa.
“gak,
gue bolos..” jawabku.
“jaahh
udah berani bolos sekarang?”
“abis
pelajarannya ngebosenin, bu Asti marah-marah mulu dari tadi” jawabku. “lo
sendiri, bolos juga?” tanyaku.
“he’emm..”
jawabnya dengan mengangguk.
“jadi
sekarang ceritanya lo jadi suka sama tempat ini?” tanyaku lagi.
“ga
tau juga sih. Tapi kalo gue kesini, bawaannya tenaaaang terus. Apalagi ada
lo..” jawabnya dengan melihatku.
“apasih
lo.. yang bikin tenang ya tempat ini. Bukan karena ada atau enggaknya gue.”
Kataku.
“gue
boleh tanya sesuatu?” tanya kak Dafa. Aku mengangguk. “lo kenapa sih dingin
banget sama cowo?”
“maksudnya?”
tanyaku bingung.
“iya
lo itu dingin banget sama cowo. Gue perhatiin juga, kan lumayan banyak tuh yang
ngedeketin lo, tapi lo cuek gitu aja.. lo udah punya cowo?” tanya kak Dafa.
Aku
sempat diam. Lalu menjawab “gue gak tau, gue punya cowo atau nggak” jawabku.
Kak Dafa tampak bingung.
“maksudnya?”
Aku
menghela nafas sebentar. “dulu waktu dibandung, gue punya cowo. Gue sayang
banget sama dia. Tp suatu hari dia pindah ke surabaya dan gue pindah kesini.
1-2 bulan komunikasi lancar, tp setahun kemudian, ga ada kabar sama sekali dari
dia. Dihubungin juga gak bisa. Gue bener-bener bingung. Gue pasrah aja sama
keadaan..” aku menghentikan ceritaku.
“trus
sekarang cowo lo gimana?” tanya kak Dafa semakin penasaran.
“beberapa
hari yang lalu gue sempet lihat dia di Jakarta ini. Gue ikutin dia. Tapi dia
sama cewe lain. Gue kaget banget saat itu. Lalu gue nemuin dia. Eh dianya gak
ngenalin gue. Gue udah bilang kalo gue Disa. Tapi dia tetep aja gak kenal, lalu
dia pergi. Gue sedih banget saat itu. Makanya gue bilang gue gak tau gue ini
punya cowo atau gak. Kalo gue bilang punya cowo, tapi cowo gue pun gak ngenalin
gue. Kalo gue bilang gak punya cowo, tapi gue belum putus sama dia.. huh”
Kak
Dafa menepuk-nepuk punggungku. “sabar.. gue tau perasaan lo. Gue juga pernah
kayak gitu” ujarnya.
“sama
kayak gue?” tanyaku.
“iya
sama persis, dan sedihnya sekarang dia udah meninggal gara-gara kecelakaan
waktu gue mau ngejar dia” jawabnya dengan menunduk. Akupun menepuk-nepuk
punggung kak Dafa.
“sabar
kak... ceritanya kita senasib seperjuangan nih?” candaku.
“hehe..
bisa aja lo!” jawabnya. Akupun tersenyum lebar.
***
Suatu
hari, aku pergi kebuah restoran. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman,
aku mendengarkan musik dengan melihat sekeliling. Disuatu sudut meja, kulihat
Darwin bersama gadis kemarin. Mereka ingin keluar. Segera ku kejar mereka. Dan
didepan resto, aku berhasil meraih tangan Darwin.
“Darwin!
Please tunggu! Lo gak bener-bener lupa kan sama gue?! Gue Disa win, Disa!!”
kataku.
“maaf
mbak, saya gak kenal sama kamu. Mbak ini salah orang kali” jawabnya.
“nggak,
kamu itu Darwin Angga Putra kan?”
“iya,
kok kamu tau?”
“iya
aku tau, aku ini pacar kamu win! Disa!! Pacar kamu waktu dibandung! Kamu pasti
inget win!” ujarku.
“mbak!
Saya gak kenal sama kamu!! Mbak ini kok ngelunjak sih? Kemaren bilang katanya
kenal tapi nyatanya saya gak kenal. Eh sekarang malah ngaku-ngaku jadi pacar
saya. Mbak ini udah gila ya?!!” ujarnya lalu hendak pergi. Aku memegang
tangannya.
“aku
gak gila win!! Aku Disa, pacar kamu!!” ujarku dengan nada tinggi. Darwin
melepaskan genggamanku dengan cara paksa sehingga aku terjatuh ke bawah.
“udah!
Jangan kejar-kejar saya lagi!! Saya gak kenal sama kamu!” ujarnya. Kemudian
datang kak Dafa. Ia menolongku.
“eh
jangan main kasar dong sama cewe!!” ujar kak Dafa pada Darwin.
“mas
ini siapa? Ikut campur aja..” jawab Darwin.
“gak
penting gue siapa! Yang jelas gue gak suka lo perlakuin cewe, kasar kayak
gitu!” hendak kak Dafa memukul Darwin, aku segera menahannya.
“udah
kak, udah ayo kita pergi aja..” kataku. Kak Dafa masih kesal dengan Darwin.
Tapi ia lebih menurutiku lalu pergi dari sana.
Kenapa
disaat seperti ini, kak Dafa selalu ada untukku? Sedangkan Darwin? Kemana dia?
Aku sangat rindu padanya. Yang ku inginkan sekarang bukan kak Dafa, tapi
Darwin. Darwin... kembalilah.
***
Hari
ini aku dan teman-teman yang lain mewakili sekolah untuk kegiatan sosialisasi
di SMU Bintang. Sebenarnya aku tak bersemangat sekali hari ini. Tapi apa boleh
buat, ini sudah tugasku.
Sesampainya
di SMU Bintang, kami semua disambut hangat oleh warga sekolahnya. Siswa siswinya,
guru, kepala sekolah, semuanya. Kebetulan hari itu juga ada beberapa orang tua
murid yang datang.
Ketika
istirahat, aku dan teman-temanku yang lain duduk dibawah pohon sambi berbicara
dengan beberapa murid SMU Bintang. Lalu aku melihat seorang wanita paruh baya
yang sepertinya aku mengenalnya. Akupun menanyakannya pada salah satu siswi
sana.
“eh,
kamu kenal sama ibu itu?” tanyaku dengan menunjuk seseorang yang ku maksud.
“ohh
itu bu Mira, orang tua salah satu murid disini..” jawabnya. Aku terkejut ketika
mendengarnya. Bu Mira? Apakah itu tante Mira? Mamanya Darwin? Berarti Darwin
sekolah disini? Apa benar yang dikatakan anak ini? Aku segera mengikuti tante
Mira.
Diparkiran
sekolah, aku berhasil menahannya.
“tante
Mira?” seruku ketika didepannya. Tante Mira terkejut dengan kedatanganku. Ku
lihat raut wajah senang bercampur sedih disana. Ada apa dengan tante Mira?
“Disa?
Kamu Disa kan? Kamu kemana aja? Selama ini tante berusaha nyari kamu tapi gak
ketemu-ketemu..” kata tante Mira dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya tersenyum
dengan mata berkaca pula. “ada yang mau tante bicarakan sama kamu” lanjutnya.
Aku pun dibawanya masuk kedalam mobilnya. Sepertinya ini pembicaraan serius.
“apa
tante?” tanyaku mulai tak sabar.
“kamu
masih ingat sama Darwin? Kamu udah ketemu dia?” tanya tante Mira.
“tentu
Disa masih ingat, tante. Beberapa hari yang lalu Disa sempat ketemu sama
Darwin, tapi yang Disa bingung, kenapa dia gak ngenalin Disa tante? Ada apa
sama Darwin?”
“itu
dia yang mau tante bicarakan. Sebenarnya, setahun yang lalu Darwin sempat
frustasi karena papa nya tak mengijinkan dia berhubungan dengan kamu.” Perlu
diketahui, papa Darwin memang tak pernah setuju dengan hubunganku dengan
Darwin. Alasannya karena aku adalah anak dari keluarga biasa. Berbeda jauh
dengan Darwin yang seorang anak konglomerat dan keturunan darah biru. Mana
mungkin ada seorang anak keturunan darah biru yang nantinya akah menjadi
pasangan seorang anak yang bukan keturunan darah biru.
“lalu
Darwin nekad. Ia kabur dari rumah dan berniat menyusul kamu. Tapi naas, dijalan
ia mengalami kecelakaan hebat. Akibat benturan yang sangat keras dikepalanya,
ia mengalami amnesia. Ia tak mengenal siapapun. Termasuk pada awalnya tante dan
papanya Darwin juga. Ia pun tak ingat dengan kamu” tutur tante Mira dengan air
mata yang sudah meluruh.
“tapi
apa masih bisa Darwin akan ingat kembali sama Disa?” tanyaku penuh pengharapan.
“tante
tak tau pasti. Kata dokter, masih bisa, tapi kesempatan itu kecil sekali. Dan
tante minta, sebaiknya kamu jauhi Darwin..” ucap tante Mira dengan nada yang
tak begitu yakin.
“apa?
Nggak tante, Disa gak akan jauhi Darwin. Disa gak bisa kalau harus jauh dari
Darwin. Apa alasannya Disa harus menjauhi Darwin?? Apa karena Disa anak orang
biasa??” aku mulai menitihkan air mata.
“bukan,
bukan karena itu! Tante kasihan sama kamu. Kemungkinan Darwin untuk ingat lagi
sama kamu itu sangat kecil” jawab tante Mira.
“tapi
tante, Disa masih bisa bantu Darwin untuk ingat kembali masa lalu nya. Disa
yakin, dia akan ingat lagi..”
“semakin
kamu memaksanya untuk mengingat kembali, itu akan semakin memperparah keadaan
Darwin, Disa!! Sudahlah.. kalau kamu memang benar sayang sama Darwin, tante
mohon, jauhi dia..” pinta nya. Aku benar-benar bingung. Mendengar itu, rasanya
hati ini remuk. Aku tak tau harus berbuat apa. Jujur, aku tak bisa jauh dari
Darwin. Aku masih mencintainya. Ku lihat raut wajah tante Mira penuh dengan
harapan.
Aku
menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. “iya.. Disa akan lakukan
seperti apa yang tante mau” ujarku pasrah. Terlihat sebuah senyum disudut bibir
tante Mira. Tetapi dimatanya, menunjukkan ia tak rela dengan keputusanku.
Akupun sebenarnya tak rela. Tapi, aku harus bagaimana? Mungkin ini adalah
keputusan yang terbaik untukku dan Darwin. Mungkin memang Darwin tak pantas untukku.
“eehmm..
Disa pamit, acara udah mau dimulai lagi, tante! Salam aja buat Darwin..
permisi” ucapku lalu pergi berlari dengan air mata yang masih mengalir deras.
Karena
aku tak memperhatikan jalan, tiba-tiba aku menabrak seorang siswa hingga
terjatuh. Akupun bangkit lalu segera mengucapkan kata maaf berulang kali.
“lo
lagi??” ucap siswa itu. Akupun melihat ke arahnya dan ternyata itu..
“Darwin?”
lirihku. Aku sempat diam dengan masih memandangnya. Aku tak tau harus senang
atau sedih ketika bertemu dengannya. Aku masih ingat dengan apa yang dikatakan
tante Mira tadi. Aku harus bagaimana? Dengan berat hati, akupun berlalu begitu
saja dari hadapan Darwin tanpa mengucapkan apapun. Tetapi segera Darwin meraih
tanganku.
“tunggu!
Lo abis nangis ya? Nih tissue buat ngusap air mata lo!” ujarnya dengan
memberikan sebuah tissue untukku.
“nggak,
makasih.. maaf, gue buru-buru..” jawabku lalu pergi. Darwin hanya diam, tak
mengerti dengan sikapku.
***
Disaat
keadaan hati yang gundah seperti ini, disinilah tempat yang paling pas untuk ku
datangi. Mana lagi kalau bukan taman belakang sekolah. Sepulang sekolah, aku
memutuskan untuk tak pulang cepat. Aku lebih memilih berdiam diri sejenak
ditaman ini. Merenungi nasib yang ku hadapi. Aku masih tak percaya ini semua terjadi
dalam hidupku. Berpisah dengan orang yang begitu ku sayangi, rasanya itu tak
mungkin. Tapi kali ini, mungkin-mungkin saja. Bahkan sudah terjadi.
KLING!
Terdengar suara dari handphoneku. Ku buka pesan singkat yang masuk itu.
To: Disa
Lo dimana? Gue ada didepan rumah
lo! Tapi kata pembantu lo, lo gak ada dirumah. Lo dimana sekarang?
From: kak Dafa
Kak
Dafa? Sedang apa dia ada didepan rumahku? Ah sudahlah.. aku sedang tak ingin
diganggu siapapun. Aku tak membalas pesannya.
Aku
kembali ke posisi semula. Kembali memikirkan semua yang telah terjadi dalam
hidupku. Darwin.. aku sayang dia. Aku tak ingin berpisah dengannya. Tetapi
bagaimanapun, kita tak bisa bersatu. Sekalipun ia mengingatku suatu saat nanti,
tetap saja ayahnya tak akan setuju dengan hubungan kami.
“ica..”
sapa seseorang dibelakangku. Siapa itu? Darwin kah? Setahuku, yang memanggilku
‘ica’ hanyalah Darwin. Karena, nama ‘ica’ itu adalah panggilan kesayangan kami
sewaktu masih bersama. Apa mungkin dia Darwin? Dengan senyum lebar, aku pun
menoleh ke belakang.
“Darwin?!!!”
ucapku seraya tersenyum selebar mungkin. Tetapi senyum itu menghilang begitu
saja ketika ku tau yang datang bukanlah Darwin.
‘kenapa dia? Yang aku inginkan
bukan dia, tapi kamu, Darwin!!!’ batinku. Aku kembali seperti
semula. Menatap lurus ke depan.
“Darwin?”
tanya kaka Dafa yang saat itu sudah duduk manis disampingku.
“gue
kira lo Darwin..” jawabku ketus. Kak Dafa hanya senyum-senyum sendiri seperti
mengejekku. Akupun mendelik kesal. “eh, tadi lo panggil gue apa? Ica?” tanyaku.
“oh..
iya, tadi gue nemuin ini!” jawabnya dengan memberikan sebuah foto. Disana
terdapat aku dan Darwin sewaktu di Bandung dulu. Dibelakangnya ada tulisan
“Awin & Ica Forever <3”. Aku langsung merebut foto itu dari tangan kak
Dafa.
“lo
nemuin ini dimana?!!” tanyaku.
“diteras
rumah lo.. nyelip gitu di bunga-bunga” jawabnya enteng.
“kok
bisa? Gue aja ampe lupa naro nya dimana..” kataku dengan mengelus-elus foto
itu.
“jatoh
kali waktu lo bawa” jawabnya. Aku hanya diam seperti tak menghiraukannya.
“gimana sama Darwin?” tanya dia.
Sejenak
aku terdiam. Lalu menjawab “suram..” jawabku lesu. Kak Dafa mengerutkan
keningnya.
“maksud
lo?” tanya kak Dafa. Kemudian aku menceritakan semuanya pada kak Dafa. Ia
mengangguk-angguk menandakan ia mengerti maksudku. Ia memberikanku sedikit
motivasi untukku. Aku hanya mengangguk seraya mengucapkan “terima kasih”
padanya.
***
Hari
demi hari berlalu. Aku semakin dekat dengan kak Dafa. Jika salah satu dari kami
mempunyai masalah, kami akan mencurahkan isi hati kami satu sama lain. Kak Dafa
sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Dan mungkin, kak Dafa juga sudah
menganggapku sebagai adik.
Dia
sangat care padaku. Aku beruntung
bisa berteman dengannya. Terkadang ia seperti anak-anak dan membuatku tertawa
jika aku sedang sedih. Tetapi juga dia bisa berubah menjadi sangat dewasa dan
bijaksana disaat-saat tertentu. Dia sungguh baik hati. Pantas saja banyak anak
perempuan yang terkagum-kagum padanya. Dan mungkin termasuk aku pula. Ya, kagum
hanya sebatas kagum biasa. Bukan apa-apa.
Suatu
hari, aku sudah berencana untuk pergi ke toko buku bersama kak Dafa. Ya, dia
yang mengajakku kesana. Aku diminta untuk menemaninya mencari buku. Aku sih
mau-mau saja. Kebetulan ada buku yang ingin ku cari juga.
Pukul
4 sore, kak Dafa sampai didepan rumahku. Setelah pamit pada bi Nah, pembantuku,
aku langsung keluar menemui kak Dafa. Aku naik ke atas motornya dan kami berdua
pun pergi.
Sampailah
kami disebuah toko buku yang cukup besar dan terkenal disana. Setelah
memarkirkan sepeda motor, aku dan kak Dafa masuk ke dalam toko buku tersebut.
Aku mencari-cari buku yang sedang ku butuhkan. Begitu juga kak Dafa. Ia sibuk
mencari kesana-kemari buku yang dibutuhkannya. Setelah selesai membayar buku
yang kami beli, kami berdua pulang.
Diperjalanan
pulang, kak Dafa berhenti disebuah resto yang letaknya tak jauh dari toko buku
tadi.
“makan
dulu yuk! Laper..” ujarnya dengan memasang wajah melas dengan mengusap-usap
perutnya yang sixpack itu. Aku hanya mengangguk setuju lalu turun dari atas
motornya.
Setelah
memesan beberapa makanan dan minuman, kami berdua sedikit berbincang-bincang.
Lalu kak Dafa pamit ingin pergi ke toilet, katanya. Aku pun meng-iyakan saja.
Tiba-tiba
seseorang dipanggung kecil sana, ada yang menyebut namaku. Aku terkejut begitu
melihat siapa yang ada disana. Kak Dafa! Sekarang ia tengah duduk dengan gitar
dipangkuannya.
“lagu
ini gue persembahkan buat seseorang. Dia adalah inspirasi gue. Dia udah buat
gue berubah menjadi lebih baik. Gue sayang sama dia.” Kak Dafa berhenti
sebentar, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. “Disa!! Ini buat
lo..” lanjutnya. Aku begitu terkejut mendengarnya. Aku tersipu malu. Pipiku
memerah. Orang-orang disana melihat ke arahku dengan tersenyum.
Kak
Dafa mulai memetik gitar sesuai dengan irama lagu yang dinyanyikannya.
Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia dihidupku..
Sungguh sebuah tanya yang
terindah
Bagaimana dia merenggut sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia dihidupku..
Satu
persatu bait lagu ia nyanyikan dengan indah. Aku dan pengunjung disana
terhanyut dalam suasana. Aku begitu menikmati suasana itu.
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin
cintanya
Ku ingin semua yang ada pada
dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan bantu ku tuk berubah
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna
Untuk dia...
Begitu
lagu selesai dinyanyikan, didalam sana suasana menjadi riuh dengan suara tepuk
tangan pengunjung. Kak Dafa tersenyum dengan mengucapkan terima kasih. Lalu ia
kembali ke tempat duduk semula.
“keren
kak... keren banget!!” ujarku dengan tepuk tangan. Dia hanya tersenyum.
Kemudian ia memegang tanganku. Aku tergugup dengan sikapnya ini. Tak seperti
biasanya. Kali ini tatapannya begitu dalam. Seperti ada sesuatu yang ingin
disampaikannya.
“Disa...”
ucapnya lalu berhenti. Aku menaikkan kedua alisku berharap ia melanjutkan
perkataannya. “will you be mine??” lanjutnya.
Aku
tersentak kaget ketika kak Dafa mengucapkan kalimat itu. Apa dia sedang
bercanda? Tapi kulihat diwajahnya, tak ada lelucon. Dia amat serius. Aku harus
bagaimana? Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Memang aku sayang
dengannya. Tapi hanya sebatas kakak dan adik. Aku masih belum bisa melupakan
Darwin. Aku tak bisa jika harus mencintainya dengan setengah hati. Aduuuh..
bagaimana ini?
“hey..
kok diem sih? Jawab dong!” ujarnya mengagetkanku yang ternyata sedari tadi
melamun.
“eh..
em... gimana ya? Aku.. aku... aduh gimana nih...” aku tergagap dibuatnya. Lalu
kak Dafa mengenggam tanganku semakin erat.
“udah,
kalo emang ga bisa dijawab sekarang, gue siap buat nunggu lo! Sampai
kapanpun..” ujarnya dengan memberikan senyum termanisnya.
***
Hari
demi hari berlalu. Hubunganku dengan kak Dafa tak berjalan normal seperti dulu.
Kini aku lebih canggung jika harus dekat dengannya. Sampai saat ini, aku belum
memberikan jawaban yang pasti. Aku masih belum bisa melupakan Darwin. Hingga
suatu hari, kak Dafa pun menagih jawaban dariku.
Ketika
itu, aku sedang duduk disebuah bangku taman. Tiba-tiba datang kak Dafa yang
langsung mengambil posisi duduk disampingku.
“jadi,
apa jawabannya?” tanya kak Dafa to the point. Aku sudah tak kaget lagi jika
mendengar pertanyaan itu. Karena sudah lama kak Dafa menginginkan jawaban
dariku. Sekarang aku harus memberikan dia sebuah kepastian.
“maaf
kak..” aku terdiam sejenak. “maaf gue gak bisa...” jawabku dengan menunduk.
Mendengar itu, kak Dafa yang semula hanya menatap ke depan, kini sudah berada
tepat didepanku.
“tapi
kenapa? Apa gue ada salah? Apa gue gak masuk di kriteria lo? Apa... gue gak
seperti Darwin??” tanya dia bertubi-tubi.
“bukan
itu.. lo gak akan bisa jadi Darwin. Karena lo sama dia itu beda.. sampai
sekarang, gue belum bisa move on dari Darwin kak, gue gak bisa kalo harus
membagi hati gue buat 2 orang. Gue gak bisa kalo harus mencintai lo dengan
setengah hati.. sorry” tuturku.
“tapi
gue bisa bikin lo move on dari Darwin! Gue akan bantu lo, Disa!!”
“sorry
kak.. gue gak bisa. Mungkin sebaiknya lo cari yang lain.. jangan gue. Gue Cuma
akan nyakitin lo kak!” ujarku lalu pergi meninggalkan kak Dafa. Kak Dafa
terdiam disana. Sebenarnya aku tak tega mengatakan itu padanya. Tetapi, mungkin
itu memang jalan terbaik untukku dan dia.
Sejak
saat itu, aku dan kak Dafa tak pernah berbincang seperti dulu. Bertegur sapa
pun tidak. Dia seperti menghindar dariku. Saat berpapasan, tak pernah
sedikitpun senyum terukir disudut bibirnya. Ya, sakit memang. Tapi ini salahku,
ini sudah menjadi keputusanku. Aku harus menerimanya.
***
Suatu
hari, aku mendengar kabar dari murid-murid lain kalau ternyata ada anak baru
yang masuk disekolah ini. Aku penasaran dengan anak baru itu. Ku dengar,
katanya anak baru itu tampan sekali. Bahkan ku dengar pula, bisa menjadi
saingan kak Dafa nantinya. Seperti apa sih anak baru itu.
Saat
istirahat sekolah, aku berada dikantin bersama Risa. Tiba-tiba dari arah
berlawanan, kulihat anak-anak perempuan berteriak histeris seperti melihat
artis dunia datang. Aku penasaran. Aku dongakkan kepalaku untuk melihat siapa
yang datang. Aku benar-benar terkejut melihat siapa yang membuat anak-anak itu
berteriak histeris. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Jantungku
berdebar seperti ada drum yang dipukul sang empunya.
Kemudian
anak baru itu memesan makanan dikantin. Disitu aku hanya diam. Lalu tiba-tiba
ada yang sedang berdiri tepat disampingku. Sedari tadi Risa sudah
menyenggol-nyenggol kakiku, memberi kode. Tapi aku tak tau kode apa itu. Lalu
aku melihat ke arah seseorang yang sedang berdiri disampingku tadi. Aku sangat
terkejut. Hampir saja jantungku copot dibuatnya.
“D..d..da..darwin???”
ucapku tergagap. Dia hanya tersenyum lalu duduk dibangku kosong sebelahku.
“iya..
lo... Disa kan?” tanyanya. Aku mengangguk.
“lo
inget sama gue?” tanyaku balik. Apakah Darwin sudah mengingat semuanya?
Benarkah itu semua?
“kan
waktu itu kita pernah ketemu... lo lupa ya?!” jawabnya dengan menepuk bahuku.
Aku tersenyum miris. Risa hanya melongo setelah tau dia adalah Darwin.
“lo
pindah kesini?” tanyaku. Ia mengangguk. “kenapa?” lanjutku.
“gak
tau, gue pengen pindah kesini aja... kayaknya ada sesuatu gitu disini”
“maksudnya?”.
Darwin mengangkat kedua bahunya.
***
Semakin
hari, aku dan Darwin semakin dekat. Ya walaupun dia belum sepenuhnya ingat aku,
tetapi dia telah sedikit mengingat tentangku. Kita memang sekarang tidak
berpacaran lagi, tapi kita semakin dekat. Tetapi, semakin dekat aku dengan
Darwin, semakin hilang pula rasa cintaku padanya. Setiap kali bertemu
dengannya, yang awalnya aku sempat berdebar luar biasa, tapi sekarang hanya
biasa saja. Aku tak merasakan apa-apa. Bahkan aku terkesan lebih cuek
dibandingkan dulu dengannya.
Anehnya,
dipikiranku selalu terbayang sosok kak Dafa. Entah mengapa aku sekarang
merindukannya. Aku rindu akan semua tentangnya. Dulu saat Darwin pergi, dia lah
orang yang selalu menghiburku. Saat aku terpuruk, dia lah yang selalu
menasehatiku dan membuatku kembali bangkit. Meski memang terkadang aku bersikap
cuek padanya, tapi aku pun perduli padanya.
Mengapa
hanya karena kejadian waktu itu, kak Dafa sekarang menghindar dariku. Aku tak
pernah lagi melihat senyumnya. Bahkan bertemu dengannya saja tidak. Dimana dia
sekarang? Aku rindu padanya. Mengapa sekarang aku merasa kehilangan dia? Apa
yang sebenarnya ku rasakan ini?
Berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku menunggu kak Dafa. Tapi sama sekali
aku tak melihat sosok kak Dafa. Aku menghubungi nomornya, tak aktif lagi. Ku
tunggu dia didepan kelasnya, tapi tak ada sosok kak Dafa disana. Hingga suatu
hari, ku beranikan diri untuk menemui salah satu teman baiknya dan bertanya
padanya.
“permisi
kak..” ucapku dengan sedikit membungkukkan badanku. Reyva Prasetyo, yang biasa
dipanggil ‘Kak Rey’ oleh adik-adik kelasnya itu membalikkan badan dan tersenyum
padaku.
“ada
apa?” tanya dia dengan membereskan beberapa buku yang masih tercecer di
mejanya.
“aku..
aku mau nanya sesuatu boleh kak?” tanyaku dengan sopan.
“tentu..
mau nanya apa?” ujarnya seraya masih sibuk dengan pekerjaannya.
“beberapa
bulan terakhir, aku gak pernah lihat kak Dafa. Emangnya kak Dafa kemana kak?”
tanyaku. Mendengar itu, kak Rey menghentikan pekerjaannya. Ia melihat ke arahku
dengan pandangan yang tak bisa ku jelaskan.
“jadi
lo yang namanya Disa?” tanya kak Rey. Aku mengangguk. Kak Rey menghembuskan
nafas berat. “Dafa pindah ke Australia..” lanjutnya.
Kontan
aku terkejut sekali mendengar pernyataan kak Rey tersebut. “hah??? Kapan kak?
Kenapa dia gak pamit sama aku?” tanyaku bertubi-tubi.
“beberapa
bulan yang lalu.. dia sempet mau pamitan sama lo secara langsung, tapi dia
takut kalo lo masih gak mau nganggep dia. Makanya, dia nitip surat ini ke gue.”
Jawabnya dengan memberikan sepucuk surat dengan amplop berwarna orange lembut.
Aku pun menerimanya.
“oh
ya, gue pulang duluan ya. Ada urusan yang lain. Lo yang sabar aja ya..!”
ucapnya dengan menepuk pundakku lalu pergi begitu saja.
Aku
pun langsung membuka surat dari kak Dafa tersebut yang isinya..
To: Disa
Disa, sorry banget ya gue main pergi gitu aja,
gak pamitan dulu sama lo. Soalnya gue takut kalo lo masih gak mau nganggep gue.
Gue tau, waktu itu gue salah banget bilang kayak gitu sama lo. Seharusnya gue
gak bilang perasaan ini sama lo biar lo nya gak jauh dari gue. Tapi sekarang
udah terlanjur. Gue minta maaf banget ya..
Gue di Australia bakalan lumayan lama sih.
Rencananya gue bakal kuliah disini juga, soalnya gue juga dapet beasiswa untuk
kuliah disini. Awalnya gue bener-bener bingung. Gue tetep disana deket sama lo
dan mengorbankan impian gue sekolah disini, atau gue kehilangan lo tapi impian
gue tercapai. Setelah gue pikir-pikir, gue milih juga untuk kuliah disini.
Bukannya gue gak mau deket sama lo, gue juga gak pengen kehilangan lo. Tapi
orang pernah bilang kalo cinta itu bakal datang dengan seiring berjalannya
waktu, tapi kesempatan ini gak akan dateng 2 kali. Yah.. mungkin ini jalan yang
terbaik buat kita. Lo bisa lebih leluasa bikin Darwin ingat lagi sama lo dan
gue bisa ngeraih mimpi gue. Sakit sih memang kalo lihat lo deket sama Darwin,
tapi ya udahlah.. perasaan kan emang gak bisa dipaksain.
Oh ya.. asal lo tau aja, gue gak akan pernah
ngebuang rasa cinta ini ke elo. Lo udah ada dihati gue. Gue juga akan selalu
ngejaga hati ini buat lo. Ya walaupun gue tau, hati lo bukan untuk gue, tapi
perasaan ini gak akan hilang sampai kapanpun.. i always love you, Disa..
From: Dafa
Butir-butir bening jatuh membasahi pipiku. Aku
benar-benar menyesal. Mengapa waktu itu aku tak menerimanya? Padahal ia sangat
tulus mencintaiku. Mengapa pula aku mengharapkan Darwin yang jelas-jelas ia tak
lagi mencintaiku? Aku menyesal telah membuatnya sakit hati. Memang ya,
penyesalan itu selalu datang di akhir.
***
6 tahun
kemudian..
Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu.
Karena di hari ini, aku bisa bertemu lagi dengan kak Dafa. Kak Rey selalu memberikan
kabar tentang kak Dafa. Termasuk hari ini, ia mengatakan jika kak Dafa akan
pulang ke Indonesia.
Pukul 7 pagi tepat aku sudah berangkat menuju
bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput kak Dafa. Aku tak sabar ingin bertemu
dengannya. Bahkan aku sampai rela mengorbankan mata kuliahku hari ini yang
notabenenya sangat penting bagi mahasiswa sepertiku ini. Tapi tak apa lah,
sekali untuk kak Dafa.
1 jam, 2 jam, 3 jam pun berlalu. Sekarang sudah
pukul 16.45 WIB. Hampir jam 5 sore. Pesawat yang ditumpangi kak Dafa belum juga
datang. Hampir seharian aku menunggu disini. Apa jangan-jangan kak Dafa tidak
jadi pulang? Ahh tidak!! Kak Rey tidak mungkin bohong padaku. Kalau ada apa-apa
pasti ia akan mengabariku. Tapi sekarang tidak ada. Berarti kak Dafa benar akan
pulang. Tapi mana? Huuft..
Pukul 19.23 WIB aku masih setia menunggu
disini. Tapi tetap saja pesawatnya tak kunjung datang. Sampai-sampai aku
ketiduran.
Pukul 21.35 WIB aku dikejutkan oleh suara dari
pengunjung lain. Ternyata pesawat yang ditunggu datang juga. Mereka berebut
untuk dapat melihat teman, sanak saudara mereka yang mungkin juga datang dari
luar. Inginnya aku berada didepan pintu keluar langsung. Tapi sayang, disana
sudah ditempati oleh banyak orang. Tak mungkin jika aku harus berdesakkan disana.
Akhirnya, akupun hanya berdiri dibelakang kerumunan orang-orang itu.
Setengah jam sudah, tapi kak Dafa tak kunjung
keluar. Aku benar-benar khawatir jika ia ternyata tak jadi pulang ke Indonesia.
Aku masih terus menunggu dengan peluh yang membasahi tubuhku. Tiba-tiba ada
seseorang yang keluar. Ia berpostur tubuh tinggi, tegap, kulit putih, memakai
kacamata hitam dengan tas ransel dipunggungnya dan sebuah koper berukuran
sedang yang dibawanya. Sepertinya aku mengenalnya? Kak Dafa? Iya, itu kak Dafa?
Aku masih ingat dengan wajah tersebut. Walaupun 6 tahun sudah aku tak bertemu
dengannya, tapi wajah kak Dafa selalu terbayang dipikiranku. Lalu akupun segera
berlari mengejarnya.
Kulihat kak Dafa dijemput dengan sebuah taksi
yang mungkin sudah dipesannya lebih awal. Setelah memasukkan koper di bagasi,
ia hendak masuk. Segera aku memanggil namanya.
“KAK DAFA!!!” teriakku dengan berlari
terseok-seok menuju tempat kak Dafa. Kak Dafa menghentikan langkahnya lalu
berbalik badan menuju arah suara.
Setelah sampai didepannya, dengan nafas yang
masih naik turun, aku berusaha untuk menyapanya “hay kak!!” sapaku. Kak Dafa
terlihat bingung. Ia seperti tak mengenalku. Atau mungkin ia memang sudah tak
mengenaliku?
“maaf anda siapa ya?” tanya kak Dafa. Aku
begitu terkejut. Kak Dafa tak mengenalku?
“kak Dafa kan?” tanyaku. Ia mengangguk, lalu
kembali menanyakan siapa aku. Ya Tuhan.. apakah kak Dafa benar-benar lupa
denganku? Atau mungkin ia seperti Darwin? Amnesia? Ahh tidak!! Tapi mengapa ia
tak mengenaliku? Apa dia sudah melupakanku?
“kak Dafa udah lupa sama aku?” tanyaku dengan
air mata yang ku paksakan untuk bertahan.
“anda siapa? Saya memang Dafa, tapi saya tidak
mengenal anda” jawabnya. Hatiku terasa hancur, remuk, seperti ada
dentuman-dentuman keras didalamnya. Air mata pun tak kuasa ku tahan lagi.
Mereka meluruh dipipiku. Perjuanganku. Perjuanganku untuk bolos kuliah,
menunggu dari pagi sampai malam, tidak makan nasi, tak mandi pula, apakah harus
terbayar dengan kenyataan ini? Orang yang ku tunggu bahkan tak mengenalku?
Aku menangis dengan tertunduk didepan mata kak
Dafa yang tak mengenaliku itu. Perlahan ku balikkan badanku dan hendak pergi.
Tetapi tiba-tiba kak Dafa menggenggam tanganku. Akupun berbalik lagi. Ku
beranikan untuk menatap matanya. Ia tersenyum padaku. Ia terkekeh sendiri
melihatku yang seperti itu.
“dasar cengeng!!” ujarnya dengan terkekeh. Aku
menatapnya bingung. “gue gak lupa kok sama lo!... Disa!!” lanjutnya. Sejenak
aku mengehentikan tangisku. Ku usap air mata itu. Dengan tatapan heran, aku
bertanya.
“lo gak lupa sama gue?” tanyaku yang sudah
seperti mendapat pencerahan.
Dengan senyum evilnya, ia menjawab “mana
mungkin gue bisa ngelupain orang kayak lo..” jawabnya. Aku tersenyum.
“jadi lo tadi Cuma ngerjain gue? Ihhh parah
lo!! Tau gitu, gue gak mau ngeluarin air mata buat lo! Sia-sia kan jadinya gue
nangis..” ucapku dengan berubah ekspresi menjadi kesal.
Kak Dafa tertawa terpingkal-pingkal. “abisnya
gue kangen buat ngejahilin lo! Di Australia gak ada orang yang bisa gue kerjain
kayak lo..!!!” ujarnya lalu tertawa lebar. Aku hanya manyun saja mendengar itu.
“eh ngomong-ngomong, lo bau banget sih?!!
Wkwkwk” tanya kak Dafa dengan tertawa.
“iya gara-gara nungguin lo kelamaan!! Dari pagi
ampe malem kayak gini! Gak mandi, gak makan, trus balesannya dikerjain kek gitu!
Huh!! Parah lo..” ujarku dengan kesal.
“hahahaha iya-iya sorry.. tapi sekarang udah
seneng kan ketemu gue?!” ucapnya dengan menaik turunkan alisnya. Aku hanya
nyengir lebar.
Kemudian kak Dafa menggenggam tanganku.
Manatapku penuh arti.
“Disa.. jujur, sampe sekarang gue masih belum
bisa ngebuang perasaan ini. Gue masih sayang sama lo. Gue tau, hati lo bukan
untuk gue. Tapi gue Cuma pengen ngungkapin perasaan ini sekali lagi, kalau gue
sayang banget sama elo..” ujarnya. Kak Dafa tertunduk setelah mengatakan itu
padaku.
“kak.. lo salah besar kalo bilang hati gue
bukan untuk lo. Gue sayang banget sama lo kak. Jujur, dulu gue sempet nyesel
banget karena harus nyakitin perasaan lo. Gue minta maaf banget..” jawabku.
“trus Darwin gimana?” tanya dia.
“gue sama Darwin udah gak ada rasa apa-apa.
Entah kenapa, semakin gue deket sama dia, justru perasaan ini semakin hilang.
Bahkan gue malah ngerasa kehilangan lo kak”
“jadi sekarang gak ada yang bisa ngalangin
cinta gue ke elo dong?!”. Aku mengangguk.
“trus sekarang lo mau jadi pendamping hidup
gue?” tanya kak Dafa dengan tatapan yang sangat dalam. Aku pun tersenyum lalu
menjawab.
“iya.. gue mau..” jawabku.
Setelah itu, aku dan kak Dafa pun jadian. Susah
senang kita lewati bersama. Sekarang kak Dafa telah bekerja disebuah perusahaan
ternama di Indonesia. Sedangkan aku, masih meneruskan kuliahku disalah satu
universitas di Indonesia pula. Hubunganku dengan kak Dafa berjalan sangat
lancar. Darwin? Ia masih menjadi temanku. Bahkan sampai sekarang kita masih berkomunikasi.
Dan akhirnya, kisah ini berakhir dengan bahagia. Kini aku sadar, bahwa apa yang
kita kehendaki tidak selalu yang terbaik untuk kita. Untuk itu, jangan patah
semangat jika mengalami kegagalan. Karena itu berarti, Tuhan tengah
mempersiapkan apa yang terbaik untuk kita.
The End..