Pages

Bukan Dia, Tapi Kamu

cerpen baru nihh... hehe... happy reading!!


*Bukan Dia, Tapi Kamu*

 

Pukul setengah 7 pagi, aku sudah berdiri didepan pintu rumah. Seperti biasa, aku menunggu Darwin, kekasihku yang biasa ku panggil awin itu. Pagi ini aku sudah berjanji akan pergi ke sekolah bersamanya.

Lima menit aku menunggu, Darwin datang dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Aku tak tau dia melakukan apa tadi. Segera ku keluarkan sapu tanganku dan mengusap keringat di wajahnya.

“awin.. kamu abis ngapain sih kok keringetnya ampe kayak gini?!” tanyaku dengan terus mengusap keringatnya.

“iya sayang, tadi aku abis dikejar anjing tetangga tuh. Lari-larian tadi!! Huuft..” jawab Darwin.

“dikejar anjing? Lah kamu kan pake motor! Kenapa lari-larian?”

“motor aku ketinggalan, sayang! Aku lupa kalo aku bawa motor. Ya aku maen lari gitu aja!”

“hahahaha... dasar kamu!! Ya udah berangkat yuk! Ntar telat!”

Disepanjang perjalanan, aku dan Darwin terus bercanda. Ya beginilah kami berdua ketika kami masih tinggal di Bandung. Selalu tertawa bersama. Menghibur satu sama lain dan saling mengerti. Aku dan Darwin sering jalan berdua. Kemana-mana selalu berdua. Mungkin bisa dikatakan, tiada hari tanpa bersama Darwin.

Hingga suatu hari, Darwin pindah ke Surabaya ikut dengan orang tuanya dan aku pindah ke Jakarta bersama orang tuaku juga. Saat itu, aku sedih sekali karena harus berpisah dengan kekasih yang aku cintai. Kami berdua pun pernah berjanji akan selalu memberi kabar satu sama lain dan saling menjaga hati masing-masing.

1 bulan.. 2 bulan.. komunikasi tetap berjalan. Tetapi, 1 tahun kemudian, kami pun putus kontak. Tiba-tiba Darwin tak ada kabar sama sekali. Berkali-kali aku berusaha untuk menghubunginya, tapi tetap tidak bisa. Aku benar-benar bingung, tak tau harus berbuat apa. Perasaanku mulai tak karuan. Hingga sekarang..

***

 

“gimana sa, udah ada kabar dari darwin?” tanya Risa, temanku.

“belum ris, belum ada kabar apa-apa dari dia.. gue gak tau harus ngapain lagi..” jawabku frustasi.

“sabar sa, gue yakin suatu hari nanti dia bakal ngasih lo kabar. Bahkan balik lagi kayak dulu.. lo sabar ya..” ujar risa menenangkan. Aku hanya menganggukkan kepala saja.

Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, anak-anak perempuan berlarian. Sepertinya mereka akan menuju lapangan basket tempat dimana pujaan hati mereka akan bertanding. Yuup! Hari ini ada pertandingan basket antara tim basket SMU Cendrawasih dengan SMU Bintang.

“Disa, ke lapbas yuk! Seru tuh kayaknya..” ajak Risa.

“nggak ah, gue disini aja.. disana rame!” jawabku dengan masih duduk dibangku taman belakang sekolah.

“kalo gak rame, bukan lapbas namanya.. ayolah sa!! Ada kak Dafa noh mau main! Gue kan mau nyemangatin kak Dafa. Ayok! Keburu kelar pertandingannya!!” Risa menarik-narik bajuku.

“trus kalo lo udah nyemangatin kak Dafa, lo pikir dia bakal perduli gitu sama lo!!” jawabku ketus.

“ihh lo gitu banget sih sa! Ayolahh.. sekali ini aja! Kali aja dia mau nengok ke gue! Ayok!! Please!!” ujar Risa memohon. Karena aku kasihan melihat dia sampai jongkok didepanku, akhirnya dengan terpaksa aku menerima tawarannya. Aku pun berdiri dan langsung berjalan menuju lapbas tanpa mengucapkan apapun kepada Risa. Segera Risa mensejajarkan langkahnya denganku yang sudah terlebih dahulu berjalan.

Penonton di Lapbas banyak sekali. Hampir semua tempat penuh dengan orang-orang. Aku dan Risa menerobos masuk dikerumunan suporter tim basket SMU Cendrawasih. Akhirnya dengan sedikit perjuangan, aku dan Risa mendapatkan tempat duduk didepan.

Kak Dafa? Iya, dia adalah seorang kapten tim basket SMU Cendrawasih. Memang, dia mempunyai fisik yang nyaris sempurna. Tampan, tinggi, putih, gagah, dan masih banyak kata yang tidak bisa ku ungkapkan semua. Banyak cewe yang tergila-gila padanya. Bahkan dulu ada yang sempat menembak kak Dafa pada saat ia tengah bermain dilapangan. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Menurutku dia biasa saja. Apa yang ku katakan tadi itu adalah apa yang ku dengar dari anak-anak cewe disekolah ini yang tergila-gila padanya.

Semua anak berteriak untuk menyemangati tim basket sekolah masing-masing. Termasuk Risa yang sedari tadi berteriak menyemangati kak Dafa yang sedang bermain disana. Aku hanya diam tak bersuara. Buat apa berteriak menyemangati kak Dafa kalau dia saja tak pernah melihat ke arah kami. Membuang tenaga saja.

Beberapa menit berlalu, tim basket SMU Cendrawasih yang tak lain adalah tim kak Dafa cs sudah unggul. Suasana semakin riuh ketika kak Dafa memasukkan bola ke dalam ring lawan. Tiba-tiba kak Dafa menoleh ke arahku. Eh bukan-bukan, ke arah penonton. Tetapi sudut matanya menunjukkan bahwa ia melihat ke arahku. Tapi aku tak begitu yakin sih. Ah sudahlah.. tidak penting bagiku.

***

 

Pulang sekolah, seperti biasa aku menunggu jemputan didepan gerbang sekolah. Tetapi 1 jam sudah aku menunggu, pak Min supirku tak kunjung datang. Aku sudah lelah menunggu. Tiba-tiba sebuah motor sport merah berhenti didepanku. Ketika sang pengendara membuka helmnya, aku sangat terkejut.

“kak Dafa??” ujarku tak percaya. Ia memberikan sebuah helm padaku. Karena aku tak begitu “nge-fans” dengannya, aku menyikapinya dengan biasa.

“cepet pake! Gue anter pulang. Mau ujan tuh..” ujarnya santai.

“gapapa nih kak?” tanyaku.

“iya, udah buruan..” jawabnya. Lalu aku pun memakai helmnya dan naik ke atas motornya. Kemudian ia menyalakan motornya lalu melesat pergi dengan kecepatan cukup tinggi karena saat itu sudah gerimis.

Diperjalanan tak ada yang berbicara. Kak Dafa fokus dengan jalan didepan. Aku pun hanya diam. Dijalan, tiba-tiba aku melihat anak lelaki yang sangat mirip dengan Darwin. Mirip sekali! Berkali-kali aku mengucek mataku, tapi pandanganku tak berubah. Anak itu begitu mirip dengan Darwin. Segera aku memberhentikan kak Dafa.

“stop kak stop!!” seruku dengan menepuk-nepuk punggung kak Dafa yang tegap itu. Ciiiiiitt... motor berhenti mendadak.

“ada apa sih? Ngagetin aja!” tanya kak Dafa sedikit kesal.

“sorry kak, gue turun disini aja! Thanks ya!” ujarku lalu mencopot helm dan langsung lari mengejar anak yang mirip dengan Darwin itu.

“aneh tuh anak..” kata kak Dafa.

 

Segera ku kejar anak itu. Aku yakin itu Darwin. Setelah susah payah mengikuti, akhirnya anak itu berhenti disebuah pusat perbelanjaan. Ia menemui seorang gadis cantik yang mungkin sudah menunggunya lama. Mereka berdua terlihat mesra. Seperti sepasang kekasih. Aku pun mendekat ke arah mereka. Ku perhatikan betul wajah anak laki-laki itu. Benar, itu Darwin. Tapi mengapa ia bersama wanita lain? Apakah ia sudah lupa dengan janjinya dulu? Segera ku temui mereka yang sedang berduaan.

“awin?? Kamu disini?” tanyaku sumringah. Tetapi responnya tak seperti yang ku harapkan. Ia bahkan terlihat bingung ketika aku memanggilnya ‘awin’.

“awin? Maaf kamu siapa ya?” tanya dia. Aku begitu terkejut ketika ia bertanya seperti itu.

“apa kamu lupa sama aku? Aku ica, win!!” kataku.

“maaf saya gak kenal sama kamu..” jawabnya. Apa? Dia tak mengenaliku? Tidak mungkin.

“kamu gak kenal sama aku? Kamu awin kan? Darwin maksudku!! Aku ica!! Ica, ya Disa win! Masa kamu gak kenal?!”

“iya saya memang Darwin, tapi saya gak kenal sama kamu. Ica? Disa? Siapa?! Maaf ya, saya buru-buru” ujarnya lalu pergi dengan menggandeng gadis disampingnya itu.

Apa? Darwin benar-benar tak mengenaliku? Ini tidak mungkin! Itu benar Darwin, tapi mengapa ia lupa denganku? Secepat itukah dia melupakanku?

***

 

Keesokan harinya disekolah, aku menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Risa. Risa pun tak percaya bahwa Darwin bisa secepat itu melupakanku. Ia berusaha menguatkanku.

Hari ini ada jam kosong, bu Asti yang seharusnya mengajar ada urusan yang membuatnya terpaksa meninggalkan kelas. Tak ada tugas apapun, aku pun memutuskan untuk menuju taman belakang sekolah yang cukup sepi. Ya, aku suka dengan sesuatu yang berbau sepi semenjak Darwin pergi. Aku duduk diatas rumput taman yang hijau. Suasana disana begitu tenang dan nyaman. Tak ada suara bising anak-anak yang gaduh dikelas. Tak ada pelajaran yang membuat pusing kepala. Tenaaaang sekali. Perlahan aku tertidur di atas rerumputan itu terbawa oleh hembusan angin yang membuat mata kantuk.

Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dan berhenti disampingku. Aku masih memejamkan mata, malas untuk membukanya. Aku berpikir, seandainya itu adalah Darwin, betapa bahagianya aku. Kapan aku bisa seperti dulu? Kapan Darwin kembali? Huh.. aku sangat rindu padanya. Aku ingin dia ada disini sekarang.

“eh cewe aneh!!” seseorang berkata seperti itu. Sepertinya itu menuju ke arahku. Aku pun membuka mata sedikit. Ketika melihat siapa yang datang, segera aku bangun dari tidurku dan duduk manis disampingnya.

“kak Dafa ngapain kesini? Gak ada pelajaran?” tanyaku dengan memandang lurus ke depan.

“ada” jawabnya singkat.

“kalo ada, ngapain kesini?”tanyaku lagi.

“gue bolos, emang gak boleh ya gue kesini? Emang ini taman punya lo doang?!” jawabnya ketus.

“yee biasa aja dong.. gue kan Cuma nanya!” kataku kesal.

“lo sendiri ngapain disini? Gak masuk kelas?!” ia balik bertanya.

“gak ada pelajaran” jawabku singkat.

Sejenak tak ada yang berbicara. Kami berdua diam dengan pikiran masing-masing. Suasana hening begitu terasa. Lalu kak Dafa memulai pembicaraan.

“lo suka kesini?” tanya kak Dafa.

“iya.. mencari ketenangan” jawabku.

“emm kalo gue sih gak begitu suka dengan tempat ini.” Ujar kak Dafa. Aku mengerutkan dahi ku. Kalau tidak suka mengapa ia kesini? Aneh.

“emang kenapa?” tanyaku penasaran.

“disini tempatnya sepi. Gue gak begitu suka” jawabnya.

“kalo gak suka, trus ngapain lo kesini?” tanyaku lagi.

“sama kayak elo, mencari ketenangan. Disana berisik. Ternyata cape juga ya jadi orang ganteng.. dikejar-kejar cewe terus! Gue kan juga pingin bebas..” jawabnya.

“jiah PD banget lo,kak!! Ya iya sih banyak cewe yang ngejar-ngejar lo. Setelah gue pikir-pikir, apa coba untungnya..”

“ya jelas ada untungnya lah.. mereka kan berebut buat ngedapetin simpatik gue. Trus abis itu berebut ngedapetin gue.. huh”

“trus kenapa lo gak simpatik ke mereka? Mereka kan udah nyemangatin lo, ngedukung lo, tapi lo kok malah..”

“gue gak suka!!” potong kak Dafa. Aku kembali mengerutkan dahi. “mereka terlalu fanatik! Gue gak suka cewe kayak gitu. Kalo ngefans mah ngefans aja, ga usah ampe kayak gitu! Lebay tau gak!” lanjutnya.

“trus lo sukanya cewe yang gimana?” tanyaku. Kak Dafa melirikku lalu tersenyum evil padaku. Aku bingung. “kenapa?”

“maksud lo, lo mau daftar gitu jadi cewe gue?” tanya kak Dafa dengan masih tersenyum evil.

“dih.. enggak lah! Gue kan Cuma nanya. Gak dijawab juga gue gak rugi kok!” jawabku ketus.

“ahahaha... ternyata lo cantik juga ya kalo lagi marah.” Ujarnya dengan tertawa.

“apasih? Udah ah, gue ke kelas dulu. Udah mau ganti pelajaran!” kataku dengan berdiri. “oh ya, gue Cuma mau ngasih saran. Sebaiknya lo perhatiin tuh fans-fans lo! Kasian mereka. Cape-cape ngedukung lo, tapi lo nya cuek kek gitu. Ya emang mereka gak bisa ngedapetin lo, tapi seenggaknya lo simpatik sama mereka!” tuturku lalu pergi. Kak Dafa masih merenungkan apa yang ku katakan tadi.

***

 

“Disa!! Disaa!! Sumpah gue seneng banget hari ini!!” ujar Risa dengan melompat-lompat kegirangan. Aku yang sedang membaca buku sempat memandangnya aneh.

“ada apa?” tanyaku.

“tau gak? Tadi kak Dafa senyum ke gue! Senyum sa, senyum!! Aaaa gue seneng banget!! Dan lo tau, tadi kak Dafa juga udah mulai simpatik gitu sama yang laen juga, termasuk gue sa!!” tuturnya dengan sumringah. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum. Lalu melanjutkan membaca buku.

Jam istirahat, aku dan Risa memutuskan untuk pergi ke kantin. Hari ini, kantin begitu ramai. Ya, ramai dengan anak-anak perempuan. Entah ada apa, aku tak tau pasti. Aku hendak memesan makanan dan minuman, ada kak Dafa langsung menyerobot.

“gado-gado 2 sama jus jeruk 2,bu!” teriak kak Dafa memesan. Sama persis dengan apa yang akan ku sebutkan. Risa yang melihatnya tersenyum tak jelas. Berbeda denganku, aku meliriknya heran. “gue traktir lo!” ujarnya lalu tersenyum.

“trus dia?” tanyaku dengan melirik Risa yang mukanya sudah memerah. Kak Dafa pun melihat ke arah Risa dan tersenyum.

“lo juga..” ujarnya pada Risa. Lalu ia duduk dikursi dekat mejaku.

“ada angin apa nih, lo ampe nraktir gue kayak gini?” tanyaku.

“ucapan terimakasih” ujarnya singkat. Aku menatapnya bingung.

“buat apa?” tanyaku lagi.

“kemaren”

“maksudnya?” belum sempat ia menjawab, pesanan datang. “makasih..” aku melihat kak Dafa. “lo gak makan?” tanyaku.

“nggak, udah tadi.. ya udah, lo makan tuh ntar biar gue yang bayar!” ucapnya lalu pergi.

“thanks” ucapku. Ia mengacungnya jempolnya dan tersenyum.

 

“miapah kak Dafa nraktir gue?? Ini gak mimpi kan sa?” tanya Risa.

“nggak” jawabku singkat.

“aaaaa.. gue di traktir kak Dafa!! Eh tapi, maksudnya kemaren itu apa sa?” tanya Risa penasaran. Aku hanya tersenyum.

“gapapa, udah makan aja!” jawabku.

***

 

Seperti biasa, hari ini aku ingin ke taman belakang. Tetapi setelah sampai disana, kulihat ada kak Dafa yang mendahuluiku. Aku pun menghampirinya dan duduk disampingnya.

“gak ada pelajaran lagi?” tanya kak dafa.

“gak, gue bolos..” jawabku.

“jaahh udah berani bolos sekarang?”

“abis pelajarannya ngebosenin, bu Asti marah-marah mulu dari tadi” jawabku. “lo sendiri, bolos juga?” tanyaku.

“he’emm..” jawabnya dengan mengangguk.

“jadi sekarang ceritanya lo jadi suka sama tempat ini?” tanyaku lagi.

“ga tau juga sih. Tapi kalo gue kesini, bawaannya tenaaaang terus. Apalagi ada lo..” jawabnya dengan melihatku.

“apasih lo.. yang bikin tenang ya tempat ini. Bukan karena ada atau enggaknya gue.” Kataku.

“gue boleh tanya sesuatu?” tanya kak Dafa. Aku mengangguk. “lo kenapa sih dingin banget sama cowo?”

“maksudnya?” tanyaku bingung.

“iya lo itu dingin banget sama cowo. Gue perhatiin juga, kan lumayan banyak tuh yang ngedeketin lo, tapi lo cuek gitu aja.. lo udah punya cowo?” tanya kak Dafa.

Aku sempat diam. Lalu menjawab “gue gak tau, gue punya cowo atau nggak” jawabku. Kak Dafa tampak bingung.

“maksudnya?”

Aku menghela nafas sebentar. “dulu waktu dibandung, gue punya cowo. Gue sayang banget sama dia. Tp suatu hari dia pindah ke surabaya dan gue pindah kesini. 1-2 bulan komunikasi lancar, tp setahun kemudian, ga ada kabar sama sekali dari dia. Dihubungin juga gak bisa. Gue bener-bener bingung. Gue pasrah aja sama keadaan..” aku menghentikan ceritaku.

“trus sekarang cowo lo gimana?” tanya kak Dafa semakin penasaran.

“beberapa hari yang lalu gue sempet lihat dia di Jakarta ini. Gue ikutin dia. Tapi dia sama cewe lain. Gue kaget banget saat itu. Lalu gue nemuin dia. Eh dianya gak ngenalin gue. Gue udah bilang kalo gue Disa. Tapi dia tetep aja gak kenal, lalu dia pergi. Gue sedih banget saat itu. Makanya gue bilang gue gak tau gue ini punya cowo atau gak. Kalo gue bilang punya cowo, tapi cowo gue pun gak ngenalin gue. Kalo gue bilang gak punya cowo, tapi gue belum putus sama dia.. huh”

Kak Dafa menepuk-nepuk punggungku. “sabar.. gue tau perasaan lo. Gue juga pernah kayak gitu” ujarnya.

“sama kayak gue?” tanyaku.

“iya sama persis, dan sedihnya sekarang dia udah meninggal gara-gara kecelakaan waktu gue mau ngejar dia” jawabnya dengan menunduk. Akupun menepuk-nepuk punggung kak Dafa.

“sabar kak... ceritanya kita senasib seperjuangan nih?” candaku.

“hehe.. bisa aja lo!” jawabnya. Akupun tersenyum lebar.

***

 

Suatu hari, aku pergi kebuah restoran. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, aku mendengarkan musik dengan melihat sekeliling. Disuatu sudut meja, kulihat Darwin bersama gadis kemarin. Mereka ingin keluar. Segera ku kejar mereka. Dan didepan resto, aku berhasil meraih tangan Darwin.

“Darwin! Please tunggu! Lo gak bener-bener lupa kan sama gue?! Gue Disa win, Disa!!” kataku.

“maaf mbak, saya gak kenal sama kamu. Mbak ini salah orang kali” jawabnya.

“nggak, kamu itu Darwin Angga Putra kan?”

“iya, kok kamu tau?”

“iya aku tau, aku ini pacar kamu win! Disa!! Pacar kamu waktu dibandung! Kamu pasti inget win!” ujarku.

“mbak! Saya gak kenal sama kamu!! Mbak ini kok ngelunjak sih? Kemaren bilang katanya kenal tapi nyatanya saya gak kenal. Eh sekarang malah ngaku-ngaku jadi pacar saya. Mbak ini udah gila ya?!!” ujarnya lalu hendak pergi. Aku memegang tangannya.

“aku gak gila win!! Aku Disa, pacar kamu!!” ujarku dengan nada tinggi. Darwin melepaskan genggamanku dengan cara paksa sehingga aku terjatuh ke bawah.

“udah! Jangan kejar-kejar saya lagi!! Saya gak kenal sama kamu!” ujarnya. Kemudian datang kak Dafa. Ia menolongku.

“eh jangan main kasar dong sama cewe!!” ujar kak Dafa pada Darwin.

“mas ini siapa? Ikut campur aja..” jawab Darwin.

“gak penting gue siapa! Yang jelas gue gak suka lo perlakuin cewe, kasar kayak gitu!” hendak kak Dafa memukul Darwin, aku segera menahannya.

“udah kak, udah ayo kita pergi aja..” kataku. Kak Dafa masih kesal dengan Darwin. Tapi ia lebih menurutiku lalu pergi dari sana.

 

Kenapa disaat seperti ini, kak Dafa selalu ada untukku? Sedangkan Darwin? Kemana dia? Aku sangat rindu padanya. Yang ku inginkan sekarang bukan kak Dafa, tapi Darwin. Darwin... kembalilah.

***

 

Hari ini aku dan teman-teman yang lain mewakili sekolah untuk kegiatan sosialisasi di SMU Bintang. Sebenarnya aku tak bersemangat sekali hari ini. Tapi apa boleh buat, ini sudah tugasku.

Sesampainya di SMU Bintang, kami semua disambut hangat oleh warga sekolahnya. Siswa siswinya, guru, kepala sekolah, semuanya. Kebetulan hari itu juga ada beberapa orang tua murid yang datang.

Ketika istirahat, aku dan teman-temanku yang lain duduk dibawah pohon sambi berbicara dengan beberapa murid SMU Bintang. Lalu aku melihat seorang wanita paruh baya yang sepertinya aku mengenalnya. Akupun menanyakannya pada salah satu siswi sana.

“eh, kamu kenal sama ibu itu?” tanyaku dengan menunjuk seseorang yang ku maksud.

“ohh itu bu Mira, orang tua salah satu murid disini..” jawabnya. Aku terkejut ketika mendengarnya. Bu Mira? Apakah itu tante Mira? Mamanya Darwin? Berarti Darwin sekolah disini? Apa benar yang dikatakan anak ini? Aku segera mengikuti tante Mira.

Diparkiran sekolah, aku berhasil menahannya.

“tante Mira?” seruku ketika didepannya. Tante Mira terkejut dengan kedatanganku. Ku lihat raut wajah senang bercampur sedih disana. Ada apa dengan tante Mira?

“Disa? Kamu Disa kan? Kamu kemana aja? Selama ini tante berusaha nyari kamu tapi gak ketemu-ketemu..” kata tante Mira dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya tersenyum dengan mata berkaca pula. “ada yang mau tante bicarakan sama kamu” lanjutnya. Aku pun dibawanya masuk kedalam mobilnya. Sepertinya ini pembicaraan serius.

“apa tante?” tanyaku mulai tak sabar.

“kamu masih ingat sama Darwin? Kamu udah ketemu dia?” tanya tante Mira.

“tentu Disa masih ingat, tante. Beberapa hari yang lalu Disa sempat ketemu sama Darwin, tapi yang Disa bingung, kenapa dia gak ngenalin Disa tante? Ada apa sama Darwin?”

“itu dia yang mau tante bicarakan. Sebenarnya, setahun yang lalu Darwin sempat frustasi karena papa nya tak mengijinkan dia berhubungan dengan kamu.” Perlu diketahui, papa Darwin memang tak pernah setuju dengan hubunganku dengan Darwin. Alasannya karena aku adalah anak dari keluarga biasa. Berbeda jauh dengan Darwin yang seorang anak konglomerat dan keturunan darah biru. Mana mungkin ada seorang anak keturunan darah biru yang nantinya akah menjadi pasangan seorang anak yang bukan keturunan darah biru.

“lalu Darwin nekad. Ia kabur dari rumah dan berniat menyusul kamu. Tapi naas, dijalan ia mengalami kecelakaan hebat. Akibat benturan yang sangat keras dikepalanya, ia mengalami amnesia. Ia tak mengenal siapapun. Termasuk pada awalnya tante dan papanya Darwin juga. Ia pun tak ingat dengan kamu” tutur tante Mira dengan air mata yang sudah meluruh.

“tapi apa masih bisa Darwin akan ingat kembali sama Disa?” tanyaku penuh pengharapan.

“tante tak tau pasti. Kata dokter, masih bisa, tapi kesempatan itu kecil sekali. Dan tante minta, sebaiknya kamu jauhi Darwin..” ucap tante Mira dengan nada yang tak begitu yakin.

“apa? Nggak tante, Disa gak akan jauhi Darwin. Disa gak bisa kalau harus jauh dari Darwin. Apa alasannya Disa harus menjauhi Darwin?? Apa karena Disa anak orang biasa??” aku mulai menitihkan air mata.

“bukan, bukan karena itu! Tante kasihan sama kamu. Kemungkinan Darwin untuk ingat lagi sama kamu itu sangat kecil” jawab tante Mira.

“tapi tante, Disa masih bisa bantu Darwin untuk ingat kembali masa lalu nya. Disa yakin, dia akan ingat lagi..”

“semakin kamu memaksanya untuk mengingat kembali, itu akan semakin memperparah keadaan Darwin, Disa!! Sudahlah.. kalau kamu memang benar sayang sama Darwin, tante mohon, jauhi dia..” pinta nya. Aku benar-benar bingung. Mendengar itu, rasanya hati ini remuk. Aku tak tau harus berbuat apa. Jujur, aku tak bisa jauh dari Darwin. Aku masih mencintainya. Ku lihat raut wajah tante Mira penuh dengan harapan.

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. “iya.. Disa akan lakukan seperti apa yang tante mau” ujarku pasrah. Terlihat sebuah senyum disudut bibir tante Mira. Tetapi dimatanya, menunjukkan ia tak rela dengan keputusanku. Akupun sebenarnya tak rela. Tapi, aku harus bagaimana? Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik untukku dan Darwin. Mungkin memang Darwin tak pantas untukku.

“eehmm.. Disa pamit, acara udah mau dimulai lagi, tante! Salam aja buat Darwin.. permisi” ucapku lalu pergi berlari dengan air mata yang masih mengalir deras.

Karena aku tak memperhatikan jalan, tiba-tiba aku menabrak seorang siswa hingga terjatuh. Akupun bangkit lalu segera mengucapkan kata maaf berulang kali.

“lo lagi??” ucap siswa itu. Akupun melihat ke arahnya dan ternyata itu..

“Darwin?” lirihku. Aku sempat diam dengan masih memandangnya. Aku tak tau harus senang atau sedih ketika bertemu dengannya. Aku masih ingat dengan apa yang dikatakan tante Mira tadi. Aku harus bagaimana? Dengan berat hati, akupun berlalu begitu saja dari hadapan Darwin tanpa mengucapkan apapun. Tetapi segera Darwin meraih tanganku.

“tunggu! Lo abis nangis ya? Nih tissue buat ngusap air mata lo!” ujarnya dengan memberikan sebuah tissue untukku.

“nggak, makasih.. maaf, gue buru-buru..” jawabku lalu pergi. Darwin hanya diam, tak mengerti dengan sikapku.

***

 

Disaat keadaan hati yang gundah seperti ini, disinilah tempat yang paling pas untuk ku datangi. Mana lagi kalau bukan taman belakang sekolah. Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk tak pulang cepat. Aku lebih memilih berdiam diri sejenak ditaman ini. Merenungi nasib yang ku hadapi. Aku masih tak percaya ini semua terjadi dalam hidupku. Berpisah dengan orang yang begitu ku sayangi, rasanya itu tak mungkin. Tapi kali ini, mungkin-mungkin saja. Bahkan sudah terjadi.

KLING! Terdengar suara dari handphoneku. Ku buka pesan singkat yang masuk itu.

 

To: Disa

 

Lo dimana? Gue ada didepan rumah lo! Tapi kata pembantu lo, lo gak ada dirumah. Lo dimana sekarang?

 

From: kak Dafa

 

Kak Dafa? Sedang apa dia ada didepan rumahku? Ah sudahlah.. aku sedang tak ingin diganggu siapapun. Aku tak membalas pesannya.

Aku kembali ke posisi semula. Kembali memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupku. Darwin.. aku sayang dia. Aku tak ingin berpisah dengannya. Tetapi bagaimanapun, kita tak bisa bersatu. Sekalipun ia mengingatku suatu saat nanti, tetap saja ayahnya tak akan setuju dengan hubungan kami.

“ica..” sapa seseorang dibelakangku. Siapa itu? Darwin kah? Setahuku, yang memanggilku ‘ica’ hanyalah Darwin. Karena, nama ‘ica’ itu adalah panggilan kesayangan kami sewaktu masih bersama. Apa mungkin dia Darwin? Dengan senyum lebar, aku pun menoleh ke belakang.

“Darwin?!!!” ucapku seraya tersenyum selebar mungkin. Tetapi senyum itu menghilang begitu saja ketika ku tau yang datang bukanlah Darwin.

‘kenapa dia? Yang aku inginkan bukan dia, tapi kamu, Darwin!!!’ batinku. Aku kembali seperti semula. Menatap lurus ke depan.

“Darwin?” tanya kaka Dafa yang saat itu sudah duduk manis disampingku.

“gue kira lo Darwin..” jawabku ketus. Kak Dafa hanya senyum-senyum sendiri seperti mengejekku. Akupun mendelik kesal. “eh, tadi lo panggil gue apa? Ica?” tanyaku.

“oh.. iya, tadi gue nemuin ini!” jawabnya dengan memberikan sebuah foto. Disana terdapat aku dan Darwin sewaktu di Bandung dulu. Dibelakangnya ada tulisan “Awin & Ica Forever <3”. Aku langsung merebut foto itu dari tangan kak Dafa.

“lo nemuin ini dimana?!!” tanyaku.

“diteras rumah lo.. nyelip gitu di bunga-bunga” jawabnya enteng.

“kok bisa? Gue aja ampe lupa naro nya dimana..” kataku dengan mengelus-elus foto itu.

“jatoh kali waktu lo bawa” jawabnya. Aku hanya diam seperti tak menghiraukannya. “gimana sama Darwin?” tanya dia.

Sejenak aku terdiam. Lalu menjawab “suram..” jawabku lesu. Kak Dafa mengerutkan keningnya.

“maksud lo?” tanya kak Dafa. Kemudian aku menceritakan semuanya pada kak Dafa. Ia mengangguk-angguk menandakan ia mengerti maksudku. Ia memberikanku sedikit motivasi untukku. Aku hanya mengangguk seraya mengucapkan “terima kasih” padanya.

***

 

Hari demi hari berlalu. Aku semakin dekat dengan kak Dafa. Jika salah satu dari kami mempunyai masalah, kami akan mencurahkan isi hati kami satu sama lain. Kak Dafa sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Dan mungkin, kak Dafa juga sudah menganggapku sebagai adik.

Dia sangat care padaku. Aku beruntung bisa berteman dengannya. Terkadang ia seperti anak-anak dan membuatku tertawa jika aku sedang sedih. Tetapi juga dia bisa berubah menjadi sangat dewasa dan bijaksana disaat-saat tertentu. Dia sungguh baik hati. Pantas saja banyak anak perempuan yang terkagum-kagum padanya. Dan mungkin termasuk aku pula. Ya, kagum hanya sebatas kagum biasa. Bukan apa-apa.

Suatu hari, aku sudah berencana untuk pergi ke toko buku bersama kak Dafa. Ya, dia yang mengajakku kesana. Aku diminta untuk menemaninya mencari buku. Aku sih mau-mau saja. Kebetulan ada buku yang ingin ku cari juga.

Pukul 4 sore, kak Dafa sampai didepan rumahku. Setelah pamit pada bi Nah, pembantuku, aku langsung keluar menemui kak Dafa. Aku naik ke atas motornya dan kami berdua pun pergi.

Sampailah kami disebuah toko buku yang cukup besar dan terkenal disana. Setelah memarkirkan sepeda motor, aku dan kak Dafa masuk ke dalam toko buku tersebut. Aku mencari-cari buku yang sedang ku butuhkan. Begitu juga kak Dafa. Ia sibuk mencari kesana-kemari buku yang dibutuhkannya. Setelah selesai membayar buku yang kami beli, kami berdua pulang.

Diperjalanan pulang, kak Dafa berhenti disebuah resto yang letaknya tak jauh dari toko buku tadi.

“makan dulu yuk! Laper..” ujarnya dengan memasang wajah melas dengan mengusap-usap perutnya yang sixpack itu. Aku hanya mengangguk setuju lalu turun dari atas motornya.

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, kami berdua sedikit berbincang-bincang. Lalu kak Dafa pamit ingin pergi ke toilet, katanya. Aku pun meng-iyakan saja.

Tiba-tiba seseorang dipanggung kecil sana, ada yang menyebut namaku. Aku terkejut begitu melihat siapa yang ada disana. Kak Dafa! Sekarang ia tengah duduk dengan gitar dipangkuannya.

“lagu ini gue persembahkan buat seseorang. Dia adalah inspirasi gue. Dia udah buat gue berubah menjadi lebih baik. Gue sayang sama dia.” Kak Dafa berhenti sebentar, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. “Disa!! Ini buat lo..” lanjutnya. Aku begitu terkejut mendengarnya. Aku tersipu malu. Pipiku memerah. Orang-orang disana melihat ke arahku dengan tersenyum.

Kak Dafa mulai memetik gitar sesuai dengan irama lagu yang dinyanyikannya.

 

Dia hanya dia di duniaku

Dia hanya dia di mataku

Dunia terasa telah menghilang

Tanpa ada dia dihidupku..

 

Sungguh sebuah tanya yang terindah

Bagaimana dia merenggut sadarku

Tak perlu ku bermimpi yang indah

 Karena ada dia dihidupku..

 

Satu persatu bait lagu ia nyanyikan dengan indah. Aku dan pengunjung disana terhanyut dalam suasana. Aku begitu menikmati suasana itu.

 

Ku ingin dia yang sempurna

Untuk diriku yang biasa

Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya

Ku ingin semua yang ada pada dirinya

 

Ku hanya manusia biasa

Tuhan bantu ku tuk berubah

Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya

Tuk menjadi seorang yang sempurna

Untuk dia...

 

Begitu lagu selesai dinyanyikan, didalam sana suasana menjadi riuh dengan suara tepuk tangan pengunjung. Kak Dafa tersenyum dengan mengucapkan terima kasih. Lalu ia kembali ke tempat duduk semula.

 

“keren kak... keren banget!!” ujarku dengan tepuk tangan. Dia hanya tersenyum. Kemudian ia memegang tanganku. Aku tergugup dengan sikapnya ini. Tak seperti biasanya. Kali ini tatapannya begitu dalam. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikannya.

“Disa...” ucapnya lalu berhenti. Aku menaikkan kedua alisku berharap ia melanjutkan perkataannya. “will you be mine??” lanjutnya.

Aku tersentak kaget ketika kak Dafa mengucapkan kalimat itu. Apa dia sedang bercanda? Tapi kulihat diwajahnya, tak ada lelucon. Dia amat serius. Aku harus bagaimana? Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Memang aku sayang dengannya. Tapi hanya sebatas kakak dan adik. Aku masih belum bisa melupakan Darwin. Aku tak bisa jika harus mencintainya dengan setengah hati. Aduuuh.. bagaimana ini?

“hey.. kok diem sih? Jawab dong!” ujarnya mengagetkanku yang ternyata sedari tadi melamun.

“eh.. em... gimana ya? Aku.. aku... aduh gimana nih...” aku tergagap dibuatnya. Lalu kak Dafa mengenggam tanganku semakin erat.

“udah, kalo emang ga bisa dijawab sekarang, gue siap buat nunggu lo! Sampai kapanpun..” ujarnya dengan memberikan senyum termanisnya.

***

 

Hari demi hari berlalu. Hubunganku dengan kak Dafa tak berjalan normal seperti dulu. Kini aku lebih canggung jika harus dekat dengannya. Sampai saat ini, aku belum memberikan jawaban yang pasti. Aku masih belum bisa melupakan Darwin. Hingga suatu hari, kak Dafa pun menagih jawaban dariku.

Ketika itu, aku sedang duduk disebuah bangku taman. Tiba-tiba datang kak Dafa yang langsung mengambil posisi duduk disampingku.

“jadi, apa jawabannya?” tanya kak Dafa to the point. Aku sudah tak kaget lagi jika mendengar pertanyaan itu. Karena sudah lama kak Dafa menginginkan jawaban dariku. Sekarang aku harus memberikan dia sebuah kepastian.

“maaf kak..” aku terdiam sejenak. “maaf gue gak bisa...” jawabku dengan menunduk. Mendengar itu, kak Dafa yang semula hanya menatap ke depan, kini sudah berada tepat didepanku.

“tapi kenapa? Apa gue ada salah? Apa gue gak masuk di kriteria lo? Apa... gue gak seperti Darwin??” tanya dia bertubi-tubi.

“bukan itu.. lo gak akan bisa jadi Darwin. Karena lo sama dia itu beda.. sampai sekarang, gue belum bisa move on dari Darwin kak, gue gak bisa kalo harus membagi hati gue buat 2 orang. Gue gak bisa kalo harus mencintai lo dengan setengah hati.. sorry” tuturku.

“tapi gue bisa bikin lo move on dari Darwin! Gue akan bantu lo, Disa!!”

“sorry kak.. gue gak bisa. Mungkin sebaiknya lo cari yang lain.. jangan gue. Gue Cuma akan nyakitin lo kak!” ujarku lalu pergi meninggalkan kak Dafa. Kak Dafa terdiam disana. Sebenarnya aku tak tega mengatakan itu padanya. Tetapi, mungkin itu memang jalan terbaik untukku dan dia.

Sejak saat itu, aku dan kak Dafa tak pernah berbincang seperti dulu. Bertegur sapa pun tidak. Dia seperti menghindar dariku. Saat berpapasan, tak pernah sedikitpun senyum terukir disudut bibirnya. Ya, sakit memang. Tapi ini salahku, ini sudah menjadi keputusanku. Aku harus menerimanya.

***

 

Suatu hari, aku mendengar kabar dari murid-murid lain kalau ternyata ada anak baru yang masuk disekolah ini. Aku penasaran dengan anak baru itu. Ku dengar, katanya anak baru itu tampan sekali. Bahkan ku dengar pula, bisa menjadi saingan kak Dafa nantinya. Seperti apa sih anak baru itu.

Saat istirahat sekolah, aku berada dikantin bersama Risa. Tiba-tiba dari arah berlawanan, kulihat anak-anak perempuan berteriak histeris seperti melihat artis dunia datang. Aku penasaran. Aku dongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang datang. Aku benar-benar terkejut melihat siapa yang membuat anak-anak itu berteriak histeris. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Jantungku berdebar seperti ada drum yang dipukul sang empunya.

Kemudian anak baru itu memesan makanan dikantin. Disitu aku hanya diam. Lalu tiba-tiba ada yang sedang berdiri tepat disampingku. Sedari tadi Risa sudah menyenggol-nyenggol kakiku, memberi kode. Tapi aku tak tau kode apa itu. Lalu aku melihat ke arah seseorang yang sedang berdiri disampingku tadi. Aku sangat terkejut. Hampir saja jantungku copot dibuatnya.

“D..d..da..darwin???” ucapku tergagap. Dia hanya tersenyum lalu duduk dibangku kosong sebelahku.

“iya.. lo... Disa kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

“lo inget sama gue?” tanyaku balik. Apakah Darwin sudah mengingat semuanya? Benarkah itu semua?

“kan waktu itu kita pernah ketemu... lo lupa ya?!” jawabnya dengan menepuk bahuku. Aku tersenyum miris. Risa hanya melongo setelah tau dia adalah Darwin.

“lo pindah kesini?” tanyaku. Ia mengangguk. “kenapa?” lanjutku.

“gak tau, gue pengen pindah kesini aja... kayaknya ada sesuatu gitu disini”

“maksudnya?”. Darwin mengangkat kedua bahunya.

***

 

Semakin hari, aku dan Darwin semakin dekat. Ya walaupun dia belum sepenuhnya ingat aku, tetapi dia telah sedikit mengingat tentangku. Kita memang sekarang tidak berpacaran lagi, tapi kita semakin dekat. Tetapi, semakin dekat aku dengan Darwin, semakin hilang pula rasa cintaku padanya. Setiap kali bertemu dengannya, yang awalnya aku sempat berdebar luar biasa, tapi sekarang hanya biasa saja. Aku tak merasakan apa-apa. Bahkan aku terkesan lebih cuek dibandingkan dulu dengannya.

Anehnya, dipikiranku selalu terbayang sosok kak Dafa. Entah mengapa aku sekarang merindukannya. Aku rindu akan semua tentangnya. Dulu saat Darwin pergi, dia lah orang yang selalu menghiburku. Saat aku terpuruk, dia lah yang selalu menasehatiku dan membuatku kembali bangkit. Meski memang terkadang aku bersikap cuek padanya, tapi aku pun perduli padanya.

Mengapa hanya karena kejadian waktu itu, kak Dafa sekarang menghindar dariku. Aku tak pernah lagi melihat senyumnya. Bahkan bertemu dengannya saja tidak. Dimana dia sekarang? Aku rindu padanya. Mengapa sekarang aku merasa kehilangan dia? Apa yang sebenarnya ku rasakan ini?

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku menunggu kak Dafa. Tapi sama sekali aku tak melihat sosok kak Dafa. Aku menghubungi nomornya, tak aktif lagi. Ku tunggu dia didepan kelasnya, tapi tak ada sosok kak Dafa disana. Hingga suatu hari, ku beranikan diri untuk menemui salah satu teman baiknya dan bertanya padanya.

“permisi kak..” ucapku dengan sedikit membungkukkan badanku. Reyva Prasetyo, yang biasa dipanggil ‘Kak Rey’ oleh adik-adik kelasnya itu membalikkan badan dan tersenyum padaku.

“ada apa?” tanya dia dengan membereskan beberapa buku yang masih tercecer di mejanya.

“aku.. aku mau nanya sesuatu boleh kak?” tanyaku dengan sopan.

“tentu.. mau nanya apa?” ujarnya seraya masih sibuk dengan pekerjaannya.

“beberapa bulan terakhir, aku gak pernah lihat kak Dafa. Emangnya kak Dafa kemana kak?” tanyaku. Mendengar itu, kak Rey menghentikan pekerjaannya. Ia melihat ke arahku dengan pandangan yang tak bisa ku jelaskan.

“jadi lo yang namanya Disa?” tanya kak Rey. Aku mengangguk. Kak Rey menghembuskan nafas berat. “Dafa pindah ke Australia..” lanjutnya.

Kontan aku terkejut sekali mendengar pernyataan kak Rey tersebut. “hah??? Kapan kak? Kenapa dia gak pamit sama aku?” tanyaku bertubi-tubi.

“beberapa bulan yang lalu.. dia sempet mau pamitan sama lo secara langsung, tapi dia takut kalo lo masih gak mau nganggep dia. Makanya, dia nitip surat ini ke gue.” Jawabnya dengan memberikan sepucuk surat dengan amplop berwarna orange lembut. Aku pun menerimanya.

“oh ya, gue pulang duluan ya. Ada urusan yang lain. Lo yang sabar aja ya..!” ucapnya dengan menepuk pundakku lalu pergi begitu saja.

Aku pun langsung membuka surat dari kak Dafa tersebut yang isinya..

 

To: Disa

 

Disa, sorry banget ya gue main pergi gitu aja, gak pamitan dulu sama lo. Soalnya gue takut kalo lo masih gak mau nganggep gue. Gue tau, waktu itu gue salah banget bilang kayak gitu sama lo. Seharusnya gue gak bilang perasaan ini sama lo biar lo nya gak jauh dari gue. Tapi sekarang udah terlanjur. Gue minta maaf banget ya..

Gue di Australia bakalan lumayan lama sih. Rencananya gue bakal kuliah disini juga, soalnya gue juga dapet beasiswa untuk kuliah disini. Awalnya gue bener-bener bingung. Gue tetep disana deket sama lo dan mengorbankan impian gue sekolah disini, atau gue kehilangan lo tapi impian gue tercapai. Setelah gue pikir-pikir, gue milih juga untuk kuliah disini. Bukannya gue gak mau deket sama lo, gue juga gak pengen kehilangan lo. Tapi orang pernah bilang kalo cinta itu bakal datang dengan seiring berjalannya waktu, tapi kesempatan ini gak akan dateng 2 kali. Yah.. mungkin ini jalan yang terbaik buat kita. Lo bisa lebih leluasa bikin Darwin ingat lagi sama lo dan gue bisa ngeraih mimpi gue. Sakit sih memang kalo lihat lo deket sama Darwin, tapi ya udahlah.. perasaan kan emang gak bisa dipaksain.

Oh ya.. asal lo tau aja, gue gak akan pernah ngebuang rasa cinta ini ke elo. Lo udah ada dihati gue. Gue juga akan selalu ngejaga hati ini buat lo. Ya walaupun gue tau, hati lo bukan untuk gue, tapi perasaan ini gak akan hilang sampai kapanpun.. i always love you, Disa..

 

From: Dafa

 

Butir-butir bening jatuh membasahi pipiku. Aku benar-benar menyesal. Mengapa waktu itu aku tak menerimanya? Padahal ia sangat tulus mencintaiku. Mengapa pula aku mengharapkan Darwin yang jelas-jelas ia tak lagi mencintaiku? Aku menyesal telah membuatnya sakit hati. Memang ya, penyesalan itu selalu datang di akhir.

***

6 tahun kemudian..

 

Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu. Karena di hari ini, aku bisa bertemu lagi dengan kak Dafa. Kak Rey selalu memberikan kabar tentang kak Dafa. Termasuk hari ini, ia mengatakan jika kak Dafa akan pulang ke Indonesia.

Pukul 7 pagi tepat aku sudah berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput kak Dafa. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Bahkan aku sampai rela mengorbankan mata kuliahku hari ini yang notabenenya sangat penting bagi mahasiswa sepertiku ini. Tapi tak apa lah, sekali untuk kak Dafa.

1 jam, 2 jam, 3 jam pun berlalu. Sekarang sudah pukul 16.45 WIB. Hampir jam 5 sore. Pesawat yang ditumpangi kak Dafa belum juga datang. Hampir seharian aku menunggu disini. Apa jangan-jangan kak Dafa tidak jadi pulang? Ahh tidak!! Kak Rey tidak mungkin bohong padaku. Kalau ada apa-apa pasti ia akan mengabariku. Tapi sekarang tidak ada. Berarti kak Dafa benar akan pulang. Tapi mana? Huuft..

Pukul 19.23 WIB aku masih setia menunggu disini. Tapi tetap saja pesawatnya tak kunjung datang. Sampai-sampai aku ketiduran.

Pukul 21.35 WIB aku dikejutkan oleh suara dari pengunjung lain. Ternyata pesawat yang ditunggu datang juga. Mereka berebut untuk dapat melihat teman, sanak saudara mereka yang mungkin juga datang dari luar. Inginnya aku berada didepan pintu keluar langsung. Tapi sayang, disana sudah ditempati oleh banyak orang. Tak mungkin jika aku harus berdesakkan disana. Akhirnya, akupun hanya berdiri dibelakang kerumunan orang-orang itu.

Setengah jam sudah, tapi kak Dafa tak kunjung keluar. Aku benar-benar khawatir jika ia ternyata tak jadi pulang ke Indonesia. Aku masih terus menunggu dengan peluh yang membasahi tubuhku. Tiba-tiba ada seseorang yang keluar. Ia berpostur tubuh tinggi, tegap, kulit putih, memakai kacamata hitam dengan tas ransel dipunggungnya dan sebuah koper berukuran sedang yang dibawanya. Sepertinya aku mengenalnya? Kak Dafa? Iya, itu kak Dafa? Aku masih ingat dengan wajah tersebut. Walaupun 6 tahun sudah aku tak bertemu dengannya, tapi wajah kak Dafa selalu terbayang dipikiranku. Lalu akupun segera berlari mengejarnya.

Kulihat kak Dafa dijemput dengan sebuah taksi yang mungkin sudah dipesannya lebih awal. Setelah memasukkan koper di bagasi, ia hendak masuk. Segera aku memanggil namanya.

“KAK DAFA!!!” teriakku dengan berlari terseok-seok menuju tempat kak Dafa. Kak Dafa menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menuju arah suara.

Setelah sampai didepannya, dengan nafas yang masih naik turun, aku berusaha untuk menyapanya “hay kak!!” sapaku. Kak Dafa terlihat bingung. Ia seperti tak mengenalku. Atau mungkin ia memang sudah tak mengenaliku?

“maaf anda siapa ya?” tanya kak Dafa. Aku begitu terkejut. Kak Dafa tak mengenalku?

“kak Dafa kan?” tanyaku. Ia mengangguk, lalu kembali menanyakan siapa aku. Ya Tuhan.. apakah kak Dafa benar-benar lupa denganku? Atau mungkin ia seperti Darwin? Amnesia? Ahh tidak!! Tapi mengapa ia tak mengenaliku? Apa dia sudah melupakanku?

“kak Dafa udah lupa sama aku?” tanyaku dengan air mata yang ku paksakan untuk bertahan.

“anda siapa? Saya memang Dafa, tapi saya tidak mengenal anda” jawabnya. Hatiku terasa hancur, remuk, seperti ada dentuman-dentuman keras didalamnya. Air mata pun tak kuasa ku tahan lagi. Mereka meluruh dipipiku. Perjuanganku. Perjuanganku untuk bolos kuliah, menunggu dari pagi sampai malam, tidak makan nasi, tak mandi pula, apakah harus terbayar dengan kenyataan ini? Orang yang ku tunggu bahkan tak mengenalku?

Aku menangis dengan tertunduk didepan mata kak Dafa yang tak mengenaliku itu. Perlahan ku balikkan badanku dan hendak pergi. Tetapi tiba-tiba kak Dafa menggenggam tanganku. Akupun berbalik lagi. Ku beranikan untuk menatap matanya. Ia tersenyum padaku. Ia terkekeh sendiri melihatku yang seperti itu.

“dasar cengeng!!” ujarnya dengan terkekeh. Aku menatapnya bingung. “gue gak lupa kok sama lo!... Disa!!” lanjutnya. Sejenak aku mengehentikan tangisku. Ku usap air mata itu. Dengan tatapan heran, aku bertanya.

“lo gak lupa sama gue?” tanyaku yang sudah seperti mendapat pencerahan.

Dengan senyum evilnya, ia menjawab “mana mungkin gue bisa ngelupain orang kayak lo..” jawabnya. Aku tersenyum.

“jadi lo tadi Cuma ngerjain gue? Ihhh parah lo!! Tau gitu, gue gak mau ngeluarin air mata buat lo! Sia-sia kan jadinya gue nangis..” ucapku dengan berubah ekspresi menjadi kesal.

Kak Dafa tertawa terpingkal-pingkal. “abisnya gue kangen buat ngejahilin lo! Di Australia gak ada orang yang bisa gue kerjain kayak lo..!!!” ujarnya lalu tertawa lebar. Aku hanya manyun saja mendengar itu.

“eh ngomong-ngomong, lo bau banget sih?!! Wkwkwk” tanya kak Dafa dengan tertawa.

“iya gara-gara nungguin lo kelamaan!! Dari pagi ampe malem kayak gini! Gak mandi, gak makan, trus balesannya dikerjain kek gitu! Huh!! Parah lo..” ujarku dengan kesal.

“hahahaha iya-iya sorry.. tapi sekarang udah seneng kan ketemu gue?!” ucapnya dengan menaik turunkan alisnya. Aku hanya nyengir lebar.

Kemudian kak Dafa menggenggam tanganku. Manatapku penuh arti.

“Disa.. jujur, sampe sekarang gue masih belum bisa ngebuang perasaan ini. Gue masih sayang sama lo. Gue tau, hati lo bukan untuk gue. Tapi gue Cuma pengen ngungkapin perasaan ini sekali lagi, kalau gue sayang banget sama elo..” ujarnya. Kak Dafa tertunduk setelah mengatakan itu padaku.

“kak.. lo salah besar kalo bilang hati gue bukan untuk lo. Gue sayang banget sama lo kak. Jujur, dulu gue sempet nyesel banget karena harus nyakitin perasaan lo. Gue minta maaf banget..” jawabku.

“trus Darwin gimana?” tanya dia.

“gue sama Darwin udah gak ada rasa apa-apa. Entah kenapa, semakin gue deket sama dia, justru perasaan ini semakin hilang. Bahkan gue malah ngerasa kehilangan lo kak”

“jadi sekarang gak ada yang bisa ngalangin cinta gue ke elo dong?!”. Aku mengangguk.

“trus sekarang lo mau jadi pendamping hidup gue?” tanya kak Dafa dengan tatapan yang sangat dalam. Aku pun tersenyum lalu menjawab.

“iya.. gue mau..” jawabku.

 

Setelah itu, aku dan kak Dafa pun jadian. Susah senang kita lewati bersama. Sekarang kak Dafa telah bekerja disebuah perusahaan ternama di Indonesia. Sedangkan aku, masih meneruskan kuliahku disalah satu universitas di Indonesia pula. Hubunganku dengan kak Dafa berjalan sangat lancar. Darwin? Ia masih menjadi temanku. Bahkan sampai sekarang kita masih berkomunikasi. Dan akhirnya, kisah ini berakhir dengan bahagia. Kini aku sadar, bahwa apa yang kita kehendaki tidak selalu yang terbaik untuk kita. Untuk itu, jangan patah semangat jika mengalami kegagalan. Karena itu berarti, Tuhan tengah mempersiapkan apa yang terbaik untuk kita.

 

The End..

0 komentar: