Pages

Pilihan yang salah


Pilihan Yang Salah

Ketika itu, aku sedang berada disebuah tempat yang sepi. aku duduk dan merenung disitu. Aku bingung akan semua yang telah terjadi. Dua anak laki-laki telah menyatakan cinta padaku. Aku harus memilih salah satu dari mereka. Tapi aku bingung untuk menentukan pilihan.
Rafa, anak laki-laki pertama yang menyatakan cinta padaku. Ia baik, ramah, penuh tanggung jawab. Tapi aku dan Rafa sudah berteman sejak kecil. Mana mungkin aku menerimanya. Aku menganggap dia hanya sebatas teman.
Kemudian ada Niko, anak laki-laki kedua yang menyatakan cinta padaku. Ia baik, tampan, gagah, ramah, penuh tanggung jawab, sopan, dan masih banyak kata yang tak bisa kuungkapkan untuk menggambarkan sosok Niko. Jujur aku lebih tertarik pada Niko. Apakah aku memilih Niko saja? Em.. mungkin itu pilihan yang tepat.
Suatu hari, Rafa dan Niko menagih jawaban dariku. Dengan mudahnya aku menjawab “aku memilih Niko”. Mungkin ini sakit untuk Rafa. Tapi mau bagaimana lagi. Aku lebih tertarik pada Niko. Dan pada saat itu pula, aku dan Niko resmi berpacaran.
Hari demi hari kulalui bersama Niko. Canda tawa menyelimuti keseharian kami berdua. Tetapi, semakin jauh kami melangkah, ada suatu keganjalan yang aku rasakan. Niko yang sebelumnya sangat perhatian dan ramah, kin berubah menjadi sosok yang tak mau perduli dan menganggap aku selalu salah dimatanya. Aku tak tahu mengapa ia menjadi seperti ini. Tapi disamping itu, ada Rafa yang selalu menguatkanku.
Suatu ketika Rafa menelponku. Ia mengatakan bahwa ia melihat Niko jalan berdua dengan seorang wanita. Aku terkejut mendengarnya. Apa benar yang dikatakan Rafa? Atau hanya siasat Rafa saja agar aku segera mengakhiri hubunganku dengan Niko?
“yang benar kamu Rafa? Masa sih Niko tega ngelakuin itu? Itu nggak mungkin, Rafa!” kataku.
“Aku serius, Rena! Aku melihat Niko jalan berdua dengan wanita lain. aku nggak bohong!” jawab Rafa.
“Ahh sudahlah! Aku nggak percaya sama kamu. Aku tau, kamu cinta sama aku. Tapi bukan begini caranya buat ngambil hati aku, Rafa!” ucapku lalu menutup telpon secara sepihak. Rafa pun bingung dengan apa yang kukatakan tadi.
Karena kejadian tersebut, aku dan Rafa sedikit menjauh. Aku kecewa padanya karena telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkanku. Aku tak suka itu.
Suatu hari, aku beserta teman-temanku yang lain sedang berada disebuah pusat perbelanjaan. Pada saat sedang asyik memilih pakaian, tiba-tiba aku melihat Niko. Dan benar, ia bersama wanita lain. segera aku mengikuti mereka dari belakang.
Lalu mereka berhenti disebuat tempat makan. Ku lihat mereka berdua sangat mesra. Tatapan mata Niko pada wanita itu sangat berbeda dengan tatapan matanya padaku. Aku sudah tak kuasa menahan amarah. Segera aku menghampiri mereka.
“Oh jadi begini kelakuan kamu dibelakang aku? Siapa perempuan ini? Pacar baru kamu? Tega kamu ya Niko sama aku!” kataku.
“e.... a.. aku bisa jelasin”
“jawab Niko! Ini siapa?!” potongku dengan sedikit menaikkan nada suaraku hingga seluruh pengunjung tertuju pada kami bertiga.
Setelah menarik nafas panjang, akhirnya Niko menjawab “ini pacar gue!”. Begitu terkejutnya aku ketika Niko mengatakan itu.
“Oh jadi bener selama ini lo selingkuh?!”
“iya, kenapa? Gue udah bosen sama lo! Mulai sekarang, kita putus!” ucap Niko.
“Putus? Baguslah kalau lo mutusin gue! thanks yah.. selamat deh buat hubungan lo sama cewe ini. Oh ya, buat lo, pacar barunya Niko! Selamat lo udah dapetin Niko. Siap-siap aja lo bakal ngerasain hal yang gue rasain sekarang!!” ujarku lalu meninggalkan mereka berdua.
Aku pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran. Disana aku meluapkan segala amarahku. Ternyata benar apa kata Rafa. Niko memang selingkuh dengan wanita lain. Aku tak menyangka ini terjadi. Dan mengapa aku sampai  tidak percaya dengan sahabatku sendiri? Ahh! Betapa bodohnya aku yang saat itu lebih memilih Niko. Aku benar-benar memilih pilihan yang salah.
Tiba-tiba kudengar suara derap langkah kaki, kemudian berhenti dibelakangku. Ku tengok ke belakang. Rafa. Ya, itu Rafa. Kemudian aku bangkit lalu memeluknya erat.
“udah-udah.. semuanya udah terjadi. Kamu nggak boleh kaya gini! Kamu harus kuat!” ucap Rafa menenangkanku.
“Maafin aku Rafa. Waktu itu aku nggak percaya sama kamu! Bodoh banget sih aku sampai nggak percaya sama kamu. Maafin aku Rafa” ujarku.
“udah nggak apa-apa. Semua udah terjadi. Sekarang kita ambil hikmahnya aja ya..”
Disitu aku ditemani oleh Rafa. Disaat aku bahagia, disitu ada Rafa. Disaat aku terpuruk, disitu pun ada Rafa. Rafa selalu ada untukku. Begitu bahagianya aku memiliki sahabat seperti dia. Mungkin kita berdua tidak berpacaran, karena aku masih tak berani mengambil keputusan untuk berpacaran. Tapi kita masih tetap bersahabat seperti dulu. Bagiku, sahabat jauh lebih berharga dari apapun.

Tamat.

Love In Hostel


heyy.... ini repost dari facebook aku sih.. :D yang belum baca silahkan baca.. :)

Love in Hostel

"Panggilan kepada Fransischa Putri Indriana, saya tunggu di ruangan saya!" seru Bu Septi dari samping pintu kelas. Dengan perasaan takut, gue keluar nemuin Bu Septi. Guru itu terkenal killer di sekolah ini. Kenapa gue dipanggil? Apa gue ngelakuin kesalahan? Apa kesalahan gue? Aduh.. Perasaan gue makin gak karuan nih jadinya.
Sesampainya di ruangan Bu Septi, suasananya begitu mencekam. Sepi, sunyi, serem, semuanya jadi satu. Gue jadi merinding masuk ke situ. Tapi gue tetep masuk, meski dengan jantung yang berdetak kenceng banget.
Gue lihat disana, ternyata udah ada 4 orang murid lain yang juga mungkin dipanggil sama Bu Septi. Gue gabung aja tuh sama mereka.
"kalian tau kenapa kalian saya kumpulkan disini?" tanya Bu Septi dengan mata tajamnya. Gue dan yang lain geleng-geleng kepala. Kemudian Bu Septi menutup bukunya, lalu menatap lebih lekat pada kami.
"kalian itu saya kumpulkan disini untuk mengikuti pelatihan di Jawa Barat!" ucap Bu Septi. Gue dan yang lain bener-bener gak percaya. Gue kira, kita semua dipanggil kesini karena ada kesalahan. Eh ternyata malah mau di ikutin pelatihan.
"se.. Serius bu?? A.. Apa saya gak salah denger?" tanya salah seorang dari kami yang memberanikan diri bertanya. Bu Septi mengganggukkan kepala. Kami semua bernafas lega.
"kalian akan saya kirim ke Jabar untuk mewakili SMU Harapan Bangsa dalam rangka pelatihan selama kurang lebih 16 hari" ucap Bu Septi lagi.
"tapi kenapa kami bu?" tanya gue dengan nyali segede biji jagung. Bu Septi diam sejenak, ia menatapku tajam-tajam. Ada aroma kemarahan sepertinya.
"karena saya pikir, kalian mampu untuk mengikutinya!!" jawab Bu Septi. Gue bernafas lega.
Setelah di kasih tau apa aja persyaratan dan perlengkapan yang harus dibawa, gue yang lainnya kembali ke kelas. Dengan santainya gue jalan dengan penuh percaya diri dan menebar senyum kesana kemari. Kemudian Elma dateng dan narik gue cepet-cepet.
"lo apaan si narik-narik gue segala?!" kata gue emosi.
"lo yang apaan, pake acara senyum-senyum sendiri, kaya orang gila tau gak?" jawab Elma. Gue cuma bisa manyunin bibir gue. "eh iya, tadi lo kan dipanggil Bu Septi, kok muka lo berseri-seri gitu? Biasanya mah kusuuuut banget! Ada apa?" tanya Elma penasaran.
"lo tau gak? Gue dipilih buat ikut pelatihan di Jabar!! Keren kan?!!" ujar gue dengan PDnya.
"ah masa? Mana mungkin?" jawab Elma gak percaya.
"kalo gak percaya mah udah, lo lihat aja nanti.." ujar gue.

***

Tibalah hari gue dan yang lain berangkat ke Jabar. Pukul 7 pagi tepat gue dan yang lain udah nyampe di sekolah. Barang-barang udah dimasukkin bagasi. Tinggal naik bus-nya dan berangkat. Anak-anak yang berangkat antara lain adalah gue, Siffa, Alin, Ricky, Edo. Sayang banget Elma gak ikut, kalo aja dia ikut, pasti bakalan lebih seru.
Setelah pamitan dengan kepsek, para guru dan temen-temen semua, kita langsung naik bus dan berangkat dengan didampingi Bu Septi dan Pak Hendra.
Perjalanan dari tempat gue ke Jabar cukup memakan waktu. Sekitar sehari semalam baru akan sampai. Hari sabtu pagi, gue dan rombongan udah sampai di salah satu asrama di Jabar, agak di pedalaman sih jadi masih seger udaranya. Tempat itu dijadikan khusus untuk tempat pelatihan kami nanti. Tidak hanya dari SMU Harapan Bangsa, tetapi sekolah dari berbagai daerah juga ikut datang ke sana, termasuk SMU Bintang Utama yang sangat tersohor di kota Bandung.
Setelah turun dari bus, kami berjalan menuju kamar yang telah disediakan. Asrama itu di bagi jadi 2, yang satu khusus putri dan yang satu khusus putra. Letaknya gak jauh-jauh amat si. Asrama putra dan putri berhadapan, cuma di batasi dengan lapangan basket dan taman kecil. Gue lihat sekeliling udah banyak banget anak yang datang. Ada yang lagi ngobrol, baca buku, smsan, main laptop, main basket di lapangan, dan banyak lagi aktifitas yang mereka lakuin. Gue rasa sih anak-anak disini cukup mudah bergaul, baru perkiraan gue sih. Yah, semoga aja..
Gue, Siffa, dan Alin dapet kamar no.12 di asrama putri. Sedangkan Ricky dan Edo dapet kamar no.10 di asrama putra. Sesampainya di kamar, gue, Siffa, dan Alin beres-beres kamar dan setelah itu bersih-bersih diri, alias mandi.
Sepanjang jalan mau ke kamar mandi, anak-anak disitu pada ngeliatin gitu. Gue dan yang lain bingung, apa ada yang salah? Tapi kita cuek-cuek aja. Kita tetep jalan dengan PDnya.
Selesai mandi, gue masih nunggu 2 temen gue tadi yang mandinya lamaaaa banget. Entah mereka itu mandi atau tidur di kamar mandi juga gue gak tau. Yang jelas, ni rambut gue yang asalnya basah jadi kering saking lamanya *lebay*
Saat gue nunggu kedua temen gue, gue sempet lihat sekeliling. Gue lihat ada segerombolan cowo yang lagi nyantai didepan kamar mereka. Salah satu dari mereka ada yang lihatin ke arah gue terus. Gue noleh ke belakang, mungkin aja ada anak lain yang dia maksud. Eh ternyata disitu cuma ada gue. Gue bingung. Kenapa anak itu ngelihatin gue terus? Setelah tuh makhluk 2 keluar, kita langsung balik ke kamar.

Malam harinya, kita semua di suruh kumpul di tengah lapangan untuk brifing acara pelatihan yang akan dimulai. Semua anak boleh menyatu dengan anak dari sekolah yang berbeda. Tapi anak cewe dan cowo gak boleh campur dulu. Nah sekarang gue kaga tau dah mau sama siapa. Siffa udah gabung sama anak dari sekolah lain. Si Alin juga kaga tau dah pergi kemana. Gue sendirian. Saat itu posisi duduk kami adalah melingkar. Kebetulan gue ada tepat disamping anak cowo. Tapi tetep ada jarak tertentu yang memisahkan.
Disitu gue cuma diem. Gue termasuk tipe orang yang gak suka banyak ngomong. Mungkin kalo bergaul sih gue bisa aja gaet anak-anak disini dengan mudahnya. Tapi untuk urusan ngobrol yang gak penting, gue lebih milih jadi pendengar setia.
Cewe disamping gue, namanya Friska, dia cereweeeeet banget. Dari tadi tuh ya dia ngomooong mulu. Kaga ada berhentinya. Sampai-sampai kak Iskandar yang ngomongin tentang acara pelatihan aja gue kaga denger tuh ngomong apaan. Sedangkan cowo di samping gue, dia lihatin gue mulu. Gue kan jadi kaga enak gitu mau ngapa-ngapain. Gue lihat, kayaknya dia deh yang tadi ngelihatin gue mulu waktu di kamar mandi. Sebenernya mau apa sih dia?
Setelah selesai brifing, kita semua boleh masuk kamar, main, ngobrol di lapbas sepuasnya. Kita juga masih dibolehin megang HP sampai nanti jam 10 malam. Setelah itu HP dikumpulin ke panitia untuk disita. Selama kegiatan pelatihan, gak ada yang boleh pegang HP. HP cuma akan di kasih waktu malam minggu saja. Untuk itu kita semua bisa puas-puasin main HP hanya sampai nanti jam 10.
Gue mutusin buat balik ke kamar aja setelah brifing itu. Tapi saat gue mau pergi, kaya ada yang manggil gue. Gue jadi ngerasa aneh, plus bulu kuduk gue berdiri semua kaya pada upacara bendera. Gue tetep jalan menuju kamar gue, tiba-tiba ada yang nepuk pundak gue. Kontan gue kaget dan refleks teriakan maut gue keluar dah tuh. Gue juga udah masang kuda-kuda buat mukul tuh orang yang gangguin gue.
"weitss.. Santai teh, urang orang baik-baik kok. Ieu urang badhe ngasih jadwal untuk 16 hari ke depan." ujarnya.
"huuft... Gue kira siapa. Thanks yah!" jawabku. Ia mengangguk dan pergi lalu melakukan hal yang sama. Gue langsung balik ke kamar dan tidur.

***
Cowo misterius

"TEEEETT TERETETEEEEET!!!...." suara terompet yang kenceeeeeeng banget bikin gue bangun dari mimpi gue semalem. Pelatihan di mulai dari hari minggu ini. Jujur gue belum begitu siap, tapi apa boleh buat. Sebenernya pelatihan ini ada sangkut pautnya sama kegiatan Paskibraka dan Pramuka. Pelatihan ini diadain buat ngebentuk karakter mandiri dalam diri. Kita juga dituntut untuk selalu siap dan on time. Seperti saat ini, belum juga adzan subuh, eh udah dibangunin sama bunyi tuh terompet. Hooaaammm gue masih ngantuk.
Dengan gontai, gue jalan menuju tengah lapangan untuk kumpul. Disana udah ada zombi-zombi banyak banget. Ya zombi, alias anak-anak yang baru bangun. Kak Iskandar udah berdiri tegap didepan sana menghadapi para zombi ini.
Kali ini kak Is gak ngomong panjang lebar tentang pelatihan lagi, kita semua langsung disuruh menuju ke mushola bagi yang muslim dan yang non muslim ke ruang serba guna. Dengan mata yang masih berat, kami berjalan gontai menuju tempat masing-masing.
Setelah cuci muka dan ber wudlu, kami memakai mukena untuk yang putri dan sarung+peci bagi yang putra lalu masuk ke dalam untuk siraman rohani. Setelah tiba waktunya sholat subuh, kami semua mengambil posisi mengatur shaf untuk sholat berjamaah.
Selesai sholat subuh, kami semua kembali ke kamar masing-masing untuk kegiatan selanjutnya. Sesuai jadwal, kami semua buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kegiatan senam pagi pukul 6 nanti.
Gue dan 2 temen gue ini langsung lari menuju kamar mandi. Disana udah banyak banget yang ngantri. Ini udah pukul 5.45, 15 menit lagi senam akan dimulai. Sedangkan ni antrian belum juga kelar. Kalau gini caranya, bisa telat gue. Akhirnya dengan sangat terpaksa, gue gak mandi. Termasuk 2 temen gue dan beberapa temen yang lain juga ikutan kaga mandi. Nah loh baunya kaya apa tuh nanti? Gue langsung buru-buru ganti baju olahraga dan kumpul di lapangan. Untung aja persediaan minyak wangi gue masih banyak, jadi ya gue PD aja gitu gabung sama yang lain, yah walaupun kaga mandi pagi.
Gue ambil posisi gitu di lapangan buat senam pagi. Eh gak taunya ternyata di depan gue adalah cowo yang dari kemarin lihatin gue. Gue mau pindah tempat, eh udah penuh semua. Ya udah deh terpaksa gue disini.
Karena itu hari minggu, jadi kita masih agak santai. Belum ada pelajaran dan sebagainya. Yang ada cuma aturan-aturan biasa dan olahraga kecil.
Lagi asik ngobrol sama yang lain, tiba-tiba 'BUUUK' bola basket melayang tepat ke kepala gue. Gue sampai hampir jatuh dari tempat duduk yang gue duduki itu.           Kontan cowo tadi narik tangan gue. Kaga tau dah tuh orang nongolnya kapan. Tau-tau tangan gue udah ada yang megangin. Saat itu mata kita berdua saling bertemu. Matanya sangat teduh, bikin semua orang seneng mandang dia. Gue lihat ada sesuatu yang aneh di pandangannya. Jantung gue berdebar cepet banget. Gue gak tau ini pertanda apa.
"thanks!" ucap gue sama tuh cowo. Tuh cowo cuma senyum dikit, lalu pergi. Aneh banget sih tuh cowo.

Saat istirahat makan siang, setelah sholat dhuhur, gue dan yang lainnya pergi ke dapur untuk antri makanan. Antriannya panjaaaaaaaaang banget. Lebih panjang dari antrian mandi tadi pagi.
Setelah dapet makanan, gue nyari tempat duduk. Tapi sayang, semuanya udah penuh. Lah trus gue duduk dimana dong? Masa iya gue harus makan sambil berdiri?
Mungkin karena ngeliat gue yang dari tadi mondar mandir kaga dapet tempat, tuh cowo misterius dateng lagi dan ngambil makanan gue. Gue ngejar dia sambil ngomel-ngomel gak jelas.
"eh lo! Mau lo apa sih? Balikin makanan gue sekarang! Mau lo apain tuh makanan gue? Lo kan udah dapet jatah sendiri! Kalo mau nambah jangan ambil punya gue dong. Gue belum makan tau! Balikin sini cepetan!! Lo..." gue tercengang waktu dia naruh tuh makanan gue di meja tempat dia tadi makan. Sedangkan dia langsung pergi cari tempat lain.
Tuh anak maksudnya baik sih, tapi cara dia itu bikin gue senam jantung. Udah gitu kaga pernah yang namanya ngomong sepatah kata pun. Aneh banget.. Gue kira gue gak bakal makan siang ini. Huft..

Sore harinya, seperti biasa.. Ngantri lagi di kamar mandi. Kali ini gue mau mandi ah. Lengket semua badan gue. Kamar mandinya gak cuma satu sih. Ada 6 kamar mandi di asrama putri. Tapi kalau yang menghuni buanyak banget ya tetep aja ngantrinya lama.
Setelah selesai, kita boleh santai sampai nanti menjelang maghrib. Pukul 6 tepat kita yang muslim harus udah ada di mushola dan yang non muslim di ruang serba guna. Selesai sholat maghrib berjamaah, buat yang pingin mengaji silahkan, buat yang pingin belajar juga silahkan. waktu antara magrib dan isya' hanya boleh digunakan untuk 2 kegiatan tersebut.
Isya' pun tiba. Semua anak berbondong-bondong ke mushola untuk sholat isya' berjamaah. Selesai sholat isya, kegiatan selanjutnya adalah makan malam. Seperti biasa, antrian udah kayak kereta api, panjang banget.
Selesai makan malam, kita langsung ke kamar untuk belajar. Jam 8 malem sampai jam 10 malem hanya boleh digunakan untuk belajar. Belajar boleh berkelompok dengan teman-teman dari kamar lain atau kelas lain. Gak ada acara anak cowo ke asrama cewe dan anak cewe ke asrama cowo. Dalam jam belajar, anak cowo dan cewe tidak boleh bergabung. Anak cowo dan cewe boleh bergabung cuma saat ibadah, olah raga, makan, sekolah, dan kumpul di lapangan. Selain itu, NO!! Bila ada yang melanggar, jangan tanya. Kak Revan sebagai keamanan akan bertindak. Pada jam tersebut juga anak-anak tidak boleh keluar kamar. Kecuali untuk ke kamar mandi dan pindah ke kamar teman untuk belajar kelompok. Tidak ada acara mengambil minum atau makan di dapur. Karena disetiap kamar sudah disediakan deespenser dan galon. Untuk makan, semua anak pasti sudah makan malam sebelum jam belajar. Jika memang ada yang belum, maka itu kesalahan sendiri mengapa tidak ikut makan malam. Dan itu bukan tanggung jawab kakak panitia. Satu lagi! Semua gadget disita oleh panitia dan akan dikembalikan hanya waktu malam minggu. Laptop, HP, notebook, ipad, semua diambil. Jika ada yang ingin mengerjakan tugas, bisa dikerjakan menggunakan komputer sekolah.
Pukul 10 malam ke atas adalah jam tidur. Semua anak harus tidur. Tidak ada yang bergadang.

***
Namanya Adit

Hari ini adalah hari senin. Pukul 4 pagi semua anak harus sudah bangun. Kita kumpul di mushola. Waktu menjelang subuh diisi dengan siraman rohani atau mengaji bersama. Setelah adzan subuh berkumandang, maka kita semua sholat berjamaah.
Selesai sholat subuh, gue cepet-cepet balik dan langsung menuju kamar mandi. Gue gak mau lah kayak kemaren kaga mandi. Masa iya hari ini gue sekolah pake acara kaga mandi. Gile aje..
Sekolah? Iya. Walaupun kita ikut pelatihan disini, bukan berarti kita akan bebas dengan yang namanya PELAJARAN. Disini kita juga ada sekolah. Yah bukan disekolah asal kita sih, tapi ini gabungan dari semuanya. Letak sekolahnya ada di belakang asrama putra. Murid-muridnya di acak. Pelajarannya ya seperti pelajaran biasa, cuma ada tambahan sedikit untuk nantinya kita ajarkan dengan teman-teman dari sekolah asal kita masing-masing sewaktu pulang nanti.
Kali ini gue beruntung. Mungkin dewi fortuna baru dateng tadi. Gue dapet antrian mandi didepan. Jadi gue bisa mandi pagi ini. Selesai mandi, gue langsung ke dapur untuk antri yang kedua yaitu sarapan. Kemudian, gue berangkat ke sekolah.

Hari ini kan hari senin, jadi ada upacara bendera. Untuk petugasnya masih dari kakak panitia. Karena kami belum terlatih untuk menjadi petugas. Tetapi untuk senin berikutnya, petugas akan di acak dari berbagai kelas.
Saat itu yang jadi pemimpin upacara adalah kak Is, alias kak Iskandar. Jujur gue ngefans sama kak Is udah dari awal. Dia itu sangat berwibawa, ramah, baik, sopan banget walau pun sama adik-adiknya. Udah gitu orangnya juga ganteng, tinggi, putih, nyaris sempurna lah pokoknya.
Dari tadi gue kaga dengerin tuh pidato bapak-bapak paruh baya itu. Mungkin dia kepala sekolahnya atau gurunya atau tau ahh terserah itu siapa, kaga penting juga. Gue cuma lihatin kak Is sambil senyum-senyum gitu. Sesekali kak Is noleh ke arah gue dan senyum gitu. Hati gue rasanya pengen melayang bener.
Tapi setiap gue senyum ke kak Is, cowo misterius itu selalu merhatiin gue. Dia sok-sok berdehem gitu. Gue kan jadi gak nyaman juga. Sebenernya mau dia apa sih?

Setelah selesai upacara bendera, gue langsung masuk ke kelas baru gue. Kebetulan gue satu kelas sama Edo dan Siffa. Untung aja gue kaga satu kelas sama tuh cowo misterius. Bisa strees gue lama-lama.

Saat jam istirahat, gue dan Siffa ke kantin. Dijalan gue ketemu sama kak Is. Iseng aja gue nyapa dia.
"siang kak Is.." sapa gue.
"oh siang juga dik" jawab kak Is dengan ramah nya. Trus gue agak basa basi gitu ke dia.
"mau kemana kak?" tanya gue.
Kak Is jawabnya dengan ramah banget. Gue jadi makin seneng sama dia.

Pukul 2 siang, sekolah selesai. Gue balik ke asrama untuk ganti baju, dsb. Setelah itu gue ke dapur untuk makan siang.
Selesai makan siang, gue langsung siap-siap buat latihan gabungan nanti jam 3. Semua peralatan udah gue masukin ke tas warna merah gue ini. Baju udah gue ganti, sekarang tinggal berangkat. Gue jalan bareng sama Siffa. Alin masih di kamar mandi. Tau tuh anak ngapain pake ke kamar mandi segala.
Saat latihan, kak Is yang membuka kegiatan ini. Dimana-mana gue selalu ketemu sama kak Is. Tapi sayang, dia gak ngelatih gue. Pasukan gue dilatih sama kak Nova. Sedangkan kak Is melatih anak-anak cowo.
Waktu istirahat, gue duduk di bawah pohon besar yang teduh. Gue cuma duduk sendiri, yang lain pada duduk tuh di samping lapangan. Gue sih lebih milih disini karena disini nyaman dan teduh gitu.
Setelah itu gue lihat ada kak Is lewat. Gue terus ngelihatin dia. Tanpa sadar anak-anak lain pada teriakin gue. Gue kan bingung, ada apa gitu ya. Trus lihat ke atas dan 'BRAAAK' sebongkah ranting, mungkin kayu kali ya soalnya gede banget itu jatoh dari atas gue. Pada saat itu pikiran gue adalah 'mati gue, mati gue, Allahu akbar!!' gitu. Gue cuma nutup mata. Tapi gue gak ngerasain ketiban tuh kayu. Cuma agak perih-perih dikit di bagian lengan kiri dan kaki bagian kiri gue. Masa ketiban kayu yang perih cuma yang kiri doang?
Perlahan gue buka mata dan ternyata disamping gue udah ada tuh cowo misterius. Mungkin dia narik gue gitu pas tuh kayu mau jatoh. Posisi gue saat ini adalah miring ke kiri. Pantes aja tubuh gue yang kiri agak perih gitu. Tapi kenapa ya tuh cowo misterius selalu ada kalo gue butuh bantuan.
Setelah itu gue bangun dan berdiri.
"thanks ya.." kata gue ke dia. Seperti biasa, dia cuma senyum trus pergi. Segera aja gue lari ngejar dia trus gue sejajarin tuh langkah gue sama langkahnya.
"eh tunggu dong! Gue mau ngomong sesuatu sama lo.." ujar gue dengan masih berjalan mengikuti langkahnya. Dia berhenti sejenak. Gue tarik nafas panjang trus neglanjutin kata-kata gue.
"yang pertama gue mau ngucapin makasih sama lo karena lo selalu bantuin gue. Trus yang kedua, gue mau nanya dong. Lo tuh kok selalu ada saat gue butuh bantuan? Yang ketiga, kenapa lo gak pernah ngomong satu patah kata pun sama gue?" tanya gue beruntun.
Tuh cowo cuma senyum lalu pergi gitu aja.
"hey!!!! Kok malah pergi sih???!!" teriak gue. Dia tetep aja jalan. Gue bener-bener bingung ama tuh cowo. Dasar aneh.
Waktu gue ke mushola buat sholat magrib, gue lihat ada tuh cowo misterius lagi ngobrol sama temen-temennya. Termasuk disitu juga ada Ricky dan Edo. Mungkin mereka kenal sama cowo itu. Gue tanya aja sama mereka. Eh tapi gak bisa sekarang. Nanti ajalah selesai sholat aja.
Selesai sholat magrib, gue lihat 2 cecunguk itu lagi duduk berduaan di depan mushola. Ngapain coba tuh anak berduaan gitu. Gue nemuin mereka sebentar. Gue lihat sekeliling kaga ada tuh cowo. Mungkin udah balik ke asrama.
"coy! Gue mau nanya sesuatu!" seru gue dengan agak berbisik.
"nanya apaan coy?" tanya Edo.
"tuh cowo misterius namanya siapa sih?" tanya gue. Mereka bingung gitu. Trus gue ubah pertanyaan gue. "maksud gue, cowo yang tadi ngobrol sama kalian. Yang pake baju biru, peci nya di pegang, dan duduknya tadi disini waktu mau magrib" kata gue dengan nunjukin tempat duduknya.
"oh adit, emang kenapa?" tanya Ricky.
'jadi namanya adit..'
"woy coy!! Ngelamun aja.. Kenapa?!!" tanya Ricky sekali lagi.
"ehehe kaga, thanks ya.. Ya udah gue balik dulu! Bye.." kata gue langsung pergi balik ke asrama.
Jadi tuh anak namanya Adit. Hemmh.. Bego banget!! Kenapa gue kaga tanya kenapa dia diem mulu ya? Aduuuh... Payah payah.

***
Nama yang lucu
(di ubah sudut pandang Adit)

Lagi dan lagi, gue lihat tuh cewe kebingungan nyari tempat duduk. Aduh.. Apa yang harus gue lakuin? Apa gue harus ngelakuin hal yang sama dengan waktu dulu? Hemh..  Kalau kaya gitu terus, kapan gue kenalnya sama dia. Gue juga pingin lagi kenal sama dia. Ahh iya!! Gue ajakin dia duduk bareng aja.
Baru aja gue mau nyamperin tuh cewe, eh dia udah bicara gitu sama kak Is. Gue rasa, dia suka sama kak Is. Tapi apa mungkin? Hemh.. Apa harapan gue bakalan pupus gitu aja?
"hey!! Lo ngapain bro berdiri kaya gitu? Duduk, makan tuh ntar keburu dingin!" ujar Felix yang masih tetap makan di samping gue.
"eh iya.." gue langsung duduk lagi. Gue jadi gak nafsu dah makan ginian. Apa cara gue sih yang salah buat deketin dia? Tapi gue kan cuma pingin buat dia penasaran sama gue. Tapi kalo dia biasa aja, apa gue harus ngelanjutin buat bikin dia penasaran dengan sikap-sikap gue selama ini? Hemh... Tau ahh, pusing gue!!

Malam ini jadwal belajar kelompok adalah di kamarnya Lucky. Eh iya, kelompok belajar gue kan ada Ricky. Dia kan satu sekolahan sama tuh cewe, pasti dia tau tentang tuh cewe. Nah... Mendingan gue tanya aja sama dia. Iya bener!
Lalu gue pergi ke kamarnya Lucky. Gue buka pintu kamar yang gak dikunci itu.
"guys, gue boleh gabung?" tanya gue.
"gabung aja bro!" jawab Lucky sang pemilik kamar. Gue lihat disana selain Lucky udah ada Ricky dan Farhan. Kita satu kelas di kelas B. Andai aja gue satu kelas sama tuh cewe, pasti lebih gampang gue deketin dianya.
Pada saat belajar, gue sempetin dah tuh nanya sama Ricky. Kebetulan dia duduk disamping gue.
"ky, cewe yang...." belum selesai gue ngomong, Ricky udah nyahut duluan.
"sorry bro! Kalo mau nanya yang kaga ada kaitannya dengan pelajaran, tahan dulu! Gue lagi sibuk nih" kata dia. Disitu gue cuma diem. Emang sih dia lagi sibuk tuh bolah balik buku nyari rumus yang pas buat mecahin soal. Temen yang lain ngelirik ke arah kita, lalu kembali dengan buku mereka masing-masing.
Ini udah jam 9.30 malem, Ricky masih sibuk dengan bukunya. Sedangkan mata gue tinggal 5 watt. Yang lain juga udah pada ngantuk. Mereka cuma bolak balik tuh bukunya dengan mata merem melek. Gue berusaha nanya sekali lagi sama Ricky.
"ky, gimana gue udah boleh nanya? Gue udah ngantuk. Kalo gak boleh, gue balik aja.." tanya gue dengan mata berat, seberat gajah. Ricky noleh ke gue sebentar, lalu kembali dengan bukunya.
"lo mau tanya apasih bro?" tanya Ricky masih dengan bukunya. Denger itu, mata gue langsung berubah jadi 100 watt. Gue langsung nanya to the point sama dia.
"gini bro, cewe yang sering deket sama lo itu siapa namanya?" tanya gue.
"cewe mana? Banyak kali bro yang deket ama gue... Yang lebih spesifik napa!" jawab Ricky.
"maksud gue yang dulu satu sekolahan sama lo, orangnya tinggi, putih, kecil, rambutnya pendek, matanya agak sipit" tutur gue sejelas mungkin.
Ricky berpikir sejenak. "maksud lo Ica? Emang kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Ricky.
Disitu muka gue berubah merah. Masa iya gue harus jawab kalo gue suka sama dia. Kaga ahh.. "eum... Kaga bro, gue cuma pingin tau aja.. Thanks ya bro!"
Ricky hanya menggangguk kecil.

Dikamar, gue belum bisa tidur walaupun tadi mata gue emang tinggal 5 watt. Padahal ini adalah jam tidur. Kalo sampe petugas keamanan tau, gue bisa dihukum. Tapi gimana lagi, gue masih kepikiran sama tuh cewe.
Ica.. Namanya lucu, cocok banget sama orangnya. Aduh.. Kenapa gue kepikiran terus sih sama.. Siapa? Ica.. Iya ica. Semenjak dia masuk dipikiran gue, dia gak mau pergi sebentaaaar aja. Gue kan jadi kaga bisa tidur. Hemh...

***
Apakah kak Is...??
(diubah sudut pandang Ica)

Pagi ini gue semangat banget ke sekolah. Karena hari ini kelas gue bakal di ajar sama kak Is. Iya, kemaren kak Is bilang kalo guru yang ngajar hari ini gak bisa hadir, soalnya lagi sakit. Sedangkan guru itu belum ada penggantinya. Makanya kak Is yang bakal gantiin. Gue seneng banget, itu berarti seharian ue bakal ketemu sama kak Is. Memang, rejeki itu gak kemana. hehe...

Sampai disekolah, gue cuma diem, clingak clinguk sana sini. Soalnya masih sepi banget. Anak-anak belom pada dateng. Yang ada dikelas cuma gue dan Refan, cowo pendiem dikelas gue. Anaknya agak susah diajak bercanda, sedangkan gue doyan bercanda. Makanya, gue ga begitu deket sama dia.
15 menit kemudian, kelas udah kayak pasar. Siffa udah dateng, Edo pun juga udah dateng. Gue lagi ngobrol-ngobrol sama Siffa, tiba-tiba Edo nyamperin gue.
"coy!! Lo di tanyain tuh.." seru Edo tiba-tiba dengan duduk disamping gue.
"ditanyain siapa?" tanya gue penasaran.
"adit" jawab Edo singkat dengan muka lempeng se lempeng-lempengnya.
"adit?" gue coba inget-inget nama Adit. Adit?? Eum.... Ohh cowo misterius itu. "nanyain gimana?"
"semalem Ricky bilang ke gue, katanya Adit nanyain nama lo gitu.."
"trus?"
"dia naksir kali sama lo.. Hahahaha" jawab Edo sambil ngakak ga kira-kira.
"apaan sih lo!! Ga kenal juga.. Udah ah!" gue langsung duduk ditempat gue karena bel berbunyi.

Seharian gue semangat banget belajarnya. Ya apalagi kalo gak karena kak Is. Aduh gue bener-bener gak nyangka kalo hari ini gue di ajar sama kak Is. Sering-sering aja deh tuh guru kaga masuk, biar kak Is terus yang gantiin.

Pulang sekolah, Siffa balik duluan sedangkan gue harus ke perpus dulu buat balikin buku-buku yang tadi dipinjem. Sialnya, gue cuma sendirian, sedangkan buku-bukunya itu buanyak banget. Alhasil tumpukan bukunya tinggi banget dan asli, berat cuuuy!!!
Dijalan menuju perpus gue ketemu sama anak-anak yang lain. Bukannya bantuin bawa, eh malah ditambahin buku lagi di atasnya. Huh... Awas aja mereka!
Karena tangan gue udah pegel banget, buku-buku itu jatuh dan berantakan di lantai. Buru-buru gue beresin tuh buku. Pas lagi beresin, tiba-tiba ada yang dateng. Lo tau dia siapa? Kak Is!! Gue kaget banget waktu kak is tiba-tiba bantuin gue. Dengan perasaan yang gak karuan, gue juga beresin tuh buku.
"makasih kak.." ucap gue setelah selesai beresin buku. Kak senyum ke gue, manis banget yaowlloh...
"iya, lain kali hati-hati... Kamu sendirian?" tanya kak Is. Gue nganggukin kepala. Siapa tau aja kak Is mau bantuin gue. Kan lumayan tuh, gue bisa agak lama deket sama kak Is.
"kalo bawa berat kaya gini harusnya kamu ngajak seseorang dong, kan kasian kamunya nanti.." ujar kak Is. Gue makin berbunga-bunga deh kalo kaya gini. Perhatian banget sih. "eum.. Sebentar!" kak Is clingak clinguk kayak nyari sesuatu. "ahh kamu!! Hey!! Sini!" panggil kak Is sama seseorang. Orang itu langsung lari ke arah kak Is.
"tolong bantuin dia bawa buku ke perpus ya..." ujar kak Is sama tuh anak. Anak itu iya-iya aja. "kakak tinggal dulu ya,masih banyak urusan!" pamit kak Is ke kita berdua. Huh... Kenapa kak Is malah nyuruh orang lain sih? Hmmmh... Hah? Ini kan Adit? Tuhan... Kenapa harus dia sih???
"em... Ya udah nih, lo bawa setengahnya, setengahnya lagi gue yang bawa!" kata gue. Dia cuma senyum, yah biasa lah.. Kaga ada sepatah kata apapun yang dia ucapin. Sebel gue... Lalu dengan semangatnya, Adit bawa tuh buku.

Setelah selesai ngurusin tuh buku, gue langsung cabut ke asrama buat ganti baju. Adit? Kaga tau tuh kemana. Abis naruh buku di meja, dia langsung kabur gitu aja tanpa pamit. Biasa lah, tuh anak kan emang kerjaannya ngilang mulu.

Sore ini latihannya agak keras. Panas-panas pun tetep latihan. Di kasih waktu istirahat cuma 5 menit. Latihan ini juga dalam rangka persiapan buat lomba baris berbaris 2 minggu lagi. Lombanya antar kelas sih, tapi hadiahnya lumayan juga. Mau tau hadiahnya? Hmmmh... Rahasia! Hehe, orang gue juga belum dikasih tau hadiahnya apaan. Yang jelas kak Is bilang hadiahnya lumayan buat kita. Makanya, hari ini nih latihannya agak keras dan serius.
Untung aja gue satu kelas sama Siffa dan Edo. Kan enak tuh kalau mau ngapa-ngapain. Kebetulan gue dapet tempat di shaf 1 banjar 3, samping gue yang banjar 2 itu Edo dan belakang gue yang shaf 2 itu Siffa. Jadi koordinasinya gampang karena kita udah biasa latihan dulu.
Hari pertama latihan untuk lomba cukup melelahkan sih. tapi gak apa-apa, soalnya tadi kak Is sempet ngelatih sebentar di kelas gue.
Udah jam 16.35.. Latihan baru aja selesai. Lebih 5 menit dari jadwal sebenarnya, it's oke.. Gapapa lah. Yang lain pada langsung balik ke asrama. Gue, Siffa, dan Rista, temen dari sekolah lain itu, masih duduk dipinggir lapbas. Lagian kalo jam segini, pasti tuh antrian mandi juga udah kayak kereta api. Mending gue duduk-duduk aja dulu disitu, nunggu kalo sepi.
Lagi asik ngobrol sama tuh temen-temen gue, tiba-tiba kak Is dateng dengan bawa 1 botol minuman.
"hey, mau minum gak?" tawar kak Is. Entah yang di tawarin itu siapa juga gak tau, tapi kak Is ngelihatnya ke gue. Ahh masa kak Is nawarinnya ke gue sih? Mana mungkin. Tapi kalo gak, kok pandangannya ke gue? Aduh.. Gimana nih. Masa iya gue langsung bilang 'mau' gitu aja, kan ga jelas siapa yang ditawarin. Ini juga nih 2 kunyuk ini malah cengar cengir ga jelas sambil nyenggol-nyenggol gue. Apaan coba.
"kok pada diem sih, ini!! Mau gak?!!" tawar kak Is sekali lagi.
"ca, noh ditawarin.. Terima gih! Ntar nyesel loh.. Hihi" Siffa bisik-bisik ke gue.
"iya ca, cepetan terima! Ntar gue embat loh.." ini juga si Rista ikut-ikutan juga. Apaan sih mereka nih.
"emm.. Em.. Iya kak, makasih" kata gue dengan nerima tuh minuman. Kak Is senyum ke gue lalu balik. Mimpi apa gue semalem?? Hari ini gue dikasih minuman sama kak Is? Aaaaaa!! Tuhan... Apa ini pertanda bahwa???
"jiahh tuh muka langsung merah!! Hahaha" kata Rista.
"apaan sih lo ris.. Orang tadi juga lo sama Siffa kan yang maksa!" jawab gue.
"alaaah... Kaga di paksa pun lo juga bakal nerima tuh minuman! Haha.. Ngaku lo... Iya kan??"
Gue disitu bener-bener kayak kepiting rebus. Di pojokkin mulu sama tuh 2 kunyuk. Huh... Tapi seneng juga sih. Hehe...

(sudut pandang Adit)

"Ahh sial!! Kenapa kak Is duluan sih yang ngasih. Padahal nih gue udah siap-siap ngasih ke dia.. Hhrrrrrggghh.." batin gue. Gue bener-bener kesel tau gak. Coba aja gue punya keberanian buat ngomong ke dia, pasti gak kaya gini ceritanya.
"kalo gini caranya, mana bisa lo dapetin dia.." ucap seseorang tiba-tiba. Gue yang lagi bengong dibawah pohon, kontan meluk tuh pohon saking kagetnya. Padahal tuh pohon banyak semutnya, garuk-garuk dah tuh gua disitu kayak monyet. Ternyata tuh orang adalah Ricky.
"apaan sih lo ngagetin gua aja.. Gatel-gatel nih badan gue!!" kata gue sambil garuk-garuk.
"siapa suruh meluk pohon, udah tau tuh pohon ada semutnya banyak" jawab Ricky dengan wajah tak berdosa.
"ahh sial!! Lo juga datengnya tiba-tiba!"
"ya sorry, abisnya lo bengong aja disini sih.." gue masih kesel sama Ricky. Gara-gara dia badan gue pada gatel gini. Lalu gue mutusin buat ke UKS ngambil obat gatel. Pas mau pergi, Ricky narik tangan gue. Ada apa nih? Jangan-jangan dia naksir sama gue? Aduh.. Jeruk makan jeruk nih? Ihhh jijay aah.
"apaan si lo narik-narik gue?? Gue masih normal, ky!!" seru gue sambil negelepasin tuh tangan Ricky.
"yeee.. Gue juga masih normal kali!!" jawab Ricky sambil nonyor kepala gue. "gue mau tanya sesuatu sama lo.." lanjut Ricky.
"apa? Lo mau nembak gue? Sorry ky, gue kaga doyan ama lu.. Gue masih waras ky. Dan..."
"hassssuuuuuah!!! Diem gak lo!! Nyerocos aja kaya bemo! Dengerin gue dulu, gue belum selesai ngomong!!" kata Ricky motong perkataan gue.
"iye-iye.. Paan?"
"lo suka sama Ica?" tanya Ricky sambil bisik-bisik. Gue bingung harus jawab apa. Masa iya gue bilang ke Ricky kalo gue suka Ica? Gak kece banget. "woy!! Bengong aja! Suka gak?!!!"
"em... Gue.. Gue..." kenapa gue mendadak jadi gagap gini sih?
"ngaku deh.. Iya kan? Lo suka kan? Iya kan? Iya kan?"
"huuuuft... Iya-iya, gue suka sama dia.." jawab gue akhirnya.
"nahhh bener kan dugaan gue. Kalo lo suka sama dia, kenapa lo gak deketin dia? Kenapa lo malah jadi sok misterius gitu didepan dia?"
"ya.. Gue... Gue belum begitu berani, ky"
"ahh cemen lo!! Masa gitu aja gak berani.. Eh gue bilangin yah, kalo lo kayak gini terus, mana bisa lo dapetin dia! Bisa-bisa dia di embat sama kak Is. Lo tau kan kalo dia suka sama kak Is?"
            gue nganggukkin kepala.
"nah, makanya lo jangan kayak gini terus.. Lo coba ngomong sama dia! Nih bukan apa-apa ya, gue kan temen deketnya, jadi gue tau gimana yang dia mau. Dia itu kaga suka kalo terlalu basa basi dan orang jaim kayak lo!" ujar Ricky panjang lebar.
Bener juga sih kata Ricky. Kalo gue kayak gini terus, bisa-bisa Ica di embat sama kak Is. Aduh... Tapi gue masih gugup kalo deket sama dia. Ahhhh gue bingung!!!!!

***
Cowo misterius itu ngomong ke gue
(sudut pandang Ica)

Hari ini jam makan siang dan istirahat agak lama. Iya soalnya ini kan hari jumat, jadi yang laki-laki muslim pada sholat jumat. Nah gue bisa nyantai dulu dah tuh di asrama. Jam 3 sore nanti biasa lah ada latihan. Ini masih jam 1 siang. Badan gue pegel-pegel, jadi gue mutusin buat tidur siang dulu sebentar. Kebetulan gue lagi free, kaga ada tugas apapun.


"ca, bangun ca!! Udah jam setengah 3 nih.. Buruan!!"
"hooaaaaamm... Apaan sih, ngantuk gua!" gue bener-bener masih ngantuk. Mata gue rasanya kayak ketiban gajah, berat banget.
"lihat noh jam lo!!" kata Alin. Gue lihat jam, dan..
"WHAAAT!! SETENGAH 3??? Mampus gue...!!!" gue langsung buru-buru bangun dan ganti baju. Aduh kenapa bisa telat gini sih. Gue mesti buru-buru, karena kalo sampe gue telat dateng buat latihan, hukuman menunggu. Apalagi hari ini ada kak Revan, ketua dari petugas keamanan. Ya Tuhan... Bantu aku!
Siffa dan Alin udah duluan, soalnya mereka juga kaga mau telat. Sedangkan gue, masih nyari-nyari kaos kaki. Tau tuh dimana kaos kaki gue ngumpet dimana. Aduh... Oh kaos kaki.. Dimana di kau berada? Aku mencarimu..
Setelah ketemu, gue langsung pake tuh kaos kaki dan lari ke sekolah. Asrama udah sepi. Semua anak udah pada di sekolah. Sesampainya di sekolah, semuanya udah pada baris buat Apel siang sebelum latihan. Yah... Gue telat. Siap-siap aja dah buat di hukum. Huh...
Dengan lesu gue jalan ke depan, tempat anak yang telat dateng. Dibarisan kakak senior ada kak Revan yang matanya melotot kaya mau copot. Sampingnya ada kak Is. Kali ini dia bukannya senyum, tapi menatap gue sinis. Aduh.. Kenapa pada kayak gini sih? Ampun kak.. Ampun!
Disitu gue berdiri sendirian. Karena emang cuma gue yang telat. Eh eh, tapi bentar! Itu kenapa ada anak yang disuruh maju ke depan juga? Masa iya dia telat? Kan tadi jelas-jelas cuma gue yang telat. Trus kenapa tuh anak disuruh maju?
Setelah gue lihat lebih deket, ternyata dia adalah Adit. Dia lagi dia lagi... Haduuuh ikut-ikutan aja kerjaannya. Dia langsung ikut berdiri di samping gue.
"lo kenapa disuruh maju?" tanya gue bisik-bisik. Gue lihat wajahnya kayak mau jawab tapi gimana gitu kayaknya. Dia cuman diem. Huh.. Kaga heran lagi gue kalo dia cuma diem kayak gini. Gue lihat ke bawah, ternyata dia kaga pake kaos kaki. Kok bisa? Au ahh.. Terserah dia aja lah.

Selesai Apel siang, yang lain langsung pada latihan sesuai kelas masing-masing. Sedangkan gue dan Adit masih tetep disitu panas-panasan. Kemudian dateng tuh kak Is dan kak Revan. Mukanya pada garang gitu. Karena kita berdua adalah pelanggar pertama selama kegiatan pelatihan ini. Gue berusaha buat senyum ke kak Revan dan kak Is, tapi tetep aja wajah mereka garang. Apalagi kak Revan, aduh.. Serem banget.
"gak usah cengar cengir! Kalian tau kan kalo melanggar aturan disini?" tanya kak Revan langsung. Gue dan Adit nganggukin kepala barengan. "disini gak ada perbedaan, semuanya sama! Cewe cowo sama aja. Kesalahan besar atau kecil, hukuman tetap sama! Sekarang kalian berdua ambil alat kebersihan, lalu bersihkan lapangan yang akan digunakan untuk teman-teman kalian latihan nanti!! Cepat!!" ujar kak Revan.
"i..iya kak!!" gue dan Adit buru-buru ngambil alat kebersihan dan menjalankan hukuman. Gila! Nih lapangan kan luas banget, kapan selesenya kalo kayak gini. Huuft.. Semangat!!

Setengah jam berlalu, lapangan masih belum bersih. Aduh.. Mana panas banget, capek gue! Dan kenapa juga gue harus di hukum barengan sama nih cowo misterius. Gimana gue bisa ngobrol kalo dia nya diem mulu. Gak asik banget! Dari tadi gue ngedumel mulu. Entah karena panas, entah cape, entah karena nih cowo, aduuuh!!

(sudut pandang Adit)

Kali ini gue nemenin dia buat ngejalanin hukuman. Sebenernya gue sengaja kayak gini, karena gue gak mau dia kerja sendirian. Gue sengaja ngelepas kaos kaki gue supaya gue dihukum bareng sama dia. Dan cara gue berhasil. Tapi kasihan juga dia. Dari tadi ngedumel mulu. Gue sebenernya pengen sih ngobrol gitu sama dia, tapi gimana ya.. Aduh..

Akhirnya nih hukuman selesai juga. Kita berdua dikasih waktu istirahat sebentar. Gue lihat dia lagi duduk dibawah pohon, kayaknya dia cape banget. Mending gue samperin dia sambil bawa minum ini. Tapi kalo dia gak mau nerima gimana dong? Kan gue juga yang malu. Tapi, masa iya gue kalah sebelum perang? Coba dulu ahh..
Setelah mengumpulkan keberanian, gue jalan ke arah Ica yang lagi duduk. Ini udah deket, apa gue langsung ngasih nih minuman aja ya? Tapi masa gitu doang? Huuuft... Bismillah.
Kini gue udah berdiri didepan dia. Dia kelihatan bingung gitu dengan keberadaan gue yang datengnya tiba-tiba. Gue nyodorin tuh minuman ke dia dengan sedikit senyum disudut bibir gue. Dia senyum dan nerima tuh minuman dari gue. Gue bernafas lega. Lalu gue beraniin diri buat duduk disamping dia.
"thanks ya minumannya.." ucap dia ke gue. Gue bener-bener berdebar nih disamping dia. Keringet dingin gue keluar semua. Aduh manisnya nih cewe.
"i..i.." aduh please jangan gagap!! Gue tarik nafas panjang dan.. "iya sama-sama.." kata gue. Ahh akhirnya gue bisa juga ngomong di depan dia.

(sudut pandang Ica)

Kena angin apa nih cowo, tumben pake banget dah dia jawab ucapan gue. Baru kali ini gue denger dia bicara ke gue. Biasanya aja dia cuma senyum trus pergi gitu aja. Lah ini? Dia duduk disamping gue dan jawab ucapan gue. Ahh rasanya lega banget denger dia ngomong ke gue. Eh, kenapa gue jadi seneng gini? Apaan sih, itu terserah dia dong..
Disitu gue dan Adit gak banyak ngomong sih, soalnya dia juga ngomong cuma tadi doang. Waktu istirahat selesai, saatnya latihan. Akhirnya...
Selesai latihan, gue langsung balik. Cape banget gue hari ini.

Saat gue mau ke mushola buat sholat maghrib, ada kak Is yang lagi duduk di pinggir lapbas. Dia kelihatan kayak lagi galau gitu, mukanya murung. Gue berusaha buat nyamperin kak Is.
"sore kak Is.." sapa gue ke kak Is. Dia cuma senyum, tapi kayak dipaksain gitu. Lalu gue duduk disamping dia, tapi masih jaga jarak. "bukannya lancang atau gimana, kalo boleh tau kak Is kok kayaknya lagi murung gitu, kenapa?" tanya gue.
"kamu pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta?" tanya kak Is. Denger itu gue langsung kaget kan. Siapa yang dia maksud? Masa gue sih? PD banget yak gue. Tapi sikap kak Is akhir-akhir ini ke gue tuh beda. Dia jadi perhatian gitu ke gue. Tapi masa sih? Ahh... Gue gak boleh ke-PD-an dulu, iya kalo bener, kalo gak??
"pernah kak.. Jadi kak Is lagi jatuh cinta?" tanya gue sok basa basi. Kak Is nganggukin kepala. "sama siapa kak kalo boleh tau?"
"sama seseorang yang deket sama kakak. Tapi kayaknya dia sukanya sama yang lain.." jawab kak Is lesu. Deket? Siapa? Saat ini yang deket sama kak Is kan..... Ahh masa iya sih?!!
"emang kak Is udah ngomong ke dia?" tanya gue. Kak Is geleng-geleng kepala. "kan belum pasti dia suka sama yang lain, orang kak Is juga belum tanya ke dia. Masih ada kesempatan kak.. Coba deh tanya ke dia, siapa tau dia suka juga sama kak Is.." jawab gue.
"iya juga sih, makasih ya sarannya.." kata kak Is.
"iya kak sama-sama.." ya Tuhan, semoga orang itu adalah gue. Gue suka banget sama lo kak!! Gue gak akan nolak! Serius deh..
Adzan maghrib pun berkumandang, gue dan kak Is barengan buat ke musholanya. Gue lihat kak Is udah kaga murung lagi. Berarti bener kan?

***
Bukan aku..


Pagi ini waktu sarapan, tumben-tumbenan Adit nyapa gue. Syukurlah dia udah mau bicara ke gue. Sedikit banyak, dia mau ngobrol sama gue. Kalo kayak gini kan gue dapet temen ngobrol lagi. Hehe..

Pada saat istirahat di sekolah, gue duduk di bangku taman belakang sekolah. Tiba-tiba ada Adit dateng trus duduk disamping gue.
"sendirian aja.. Gue temenin yah!" kata dia. Gue cuma ngangguk aja. Dia ngasih gue minuman lagi. Dikira gue duyung kali yak dikasih air mulu.
"lo setiap ketemu gue, pasti bawa minuman! Lo kira gue duyung apa.." seru gue.
"hehe.. Ya kali aja lo haus. Eh gimana sama pasukan lo, siap buat lomba lawan pasukan gue nanti?" tanya dia sok basa basi.
"insyaallah.. Lagian masih lama juga. Tunggu aja tanggal mainnya!" ujar gue. Gue masih aja lihat lurus ke depan. Gue masih kepikiran sama omongan kak Is waktu itu. Apa bener orang itu adalah gue? Tapi kenapa sampe sekarang kak Is belum juga tanya ke gue. Huh...
"lo kenapa sih? Bengong aja.. Cerita dong ke gue, siapa tau gue bisa jadi biro curhat yang baik.. Hehe" ujar Adit.
"apaan sih lo.. Kaga ahh! Gue cuma kepikiran sama seseorang aja.." jawab gue.
"seseorang? Siapa? Pasti gue..haha" tanya dia sok PD.
"kaga!! Ngapain gue mikirin lu... Mending gue mikirin tukang siomay daripada mikir lo!!" jawab gue ketus.
"jiah...haha, mendingan gue kali daripada tukang siomay. Eh denger kata siomay, gue jadi laper, makan yuk!" ajak dia dengan tingkah yang udah kayak kaga makan sebulan.
"pikiran lo tuh makanaaaaaan doang! Ya udah sana makan, gue belum laper."jawab gue.
"tapi ini udah jam makan siang, ayolah temenin gue makan..." rengek dia kayak bayi.
"hhrrgggh.. Lo tuh ya!! Ya udah ayok gue temenin."

(POV. Adit)

Berhasil!! Gue udah mulai deket sama dia. Akhirnya.. Sekarang tinggal mikir gimana caranya gue nembak dia. Hemmh... Apa gue minta bantuan sama Ricky aja ya? Ahh iya bener. Nanti lah kalo udah selesai makan. Sekarang gue mau makan dulu sama Ica. Laperrrr..

Selesai makan, gue dan Ica langsung balik ke kelas masing-masing. Dikelas gue udah ada Ricky yang lagi baca buku. Duh tuh anak rajinnya kelewat batas. Gue pun deketin dia.
"bro.. Lagi sibuk kaga?" tanya gue yang langsung duduk disamping dia.
"eum... Kaga juga sih, ada apa? Roman-romannya ada sesuatu nih.." ujar dia. Gue cengar cengir gitu.
"hehe gini bro, gue kan sekarang udah mulai deket tuh sama Ica. Nah sekarang gue bingung gimana caranya gue nembak dia.." tutur gue.
"trus?"
"yaelah.. Bantuin gue napa!! Gue gak tau lagi gimana caranya. Lo kan yang tau banget selera Ica"
Ricky sok-sok mikir gitu. Setelah 10 menit dia mikir, akhirnya dia mengeluarkan ide..
"gini aja bro.." Ricky bisikin gue gitu. Idenya bagus banget, kaga salah deh gue minta bantuan dia. Lo mau tau idenya apa? Enak aja! Ntar malem lihat sendiri... Pengen tau mulu lo!

(POV. Ica)


Malem ini tuh malem minggu. Selesai sholat isya', semua anak boleh pegang HP sampe jam 10 malem. Gue ambil HP gue trus gue gunain buat nelfon orang tua gue di rumah. Kangen banget gue sama mereka. Udah seminggu gue disini masa iya gue kaga ngasih kabar.
Setelah selesai nelfon orang tua gue, gantian gue nelfon Elma, sahabat gue.
Trruuut... "hallo? bapau?" suara dari si pemilik HP.
"hallo, iya ini gue.. Apa kabar sek??"
"baik-baik, lo gimana? Lama banget sih lo kaga ada kabar. Gue kangen sama lo pau!!"
"sama gue juga baik. Iya sorry, gue baru dibolehin pegang HP nih.. Gue juga kangen banget kali sama lo.. Eh disini seru banget tau gak! Kegiatannya banyak..." gue cerita panjang lebar sama pesek, eh maksudnya Elma, dan itu cukup buat dia pengen ke sini. Gue juga cerita tentang Adit dan kak Is. Elma antusias banget.
"trus gimana tuh kak Is? Dia udah nembak lo?" tanya Elma.
"belum sek.. Tau tuh gue juga bingung. Tapi tadi gue di sms sama dia, katanya malam ini gue ditunggu di taman belakang"
"nah mungkin mau di tembak lo.. Haha, ya udah kabarin gue ya kalo udah jadi!! Hehe, ntar pulang.. PJnya dong,hahaha"
"yeee dasar... Iya-iya, ntar gue kabarin lagi dah. Ya udah, gue nemuin kak Is dulu ya, oke! Dadah pesek sayaaaaang..."
"yoyoy!! Dadah bapau sayaaaang.." klik. Telfon terputus. Gue langsung menuju taman belakang, nyusul kak Is.

Saat dijalan mau ke taman, gue lewat samping api unggun yang udah disiapin kakak-kakak senior buat acara api unggun ntar malem. Tiba-tiba ada Adit yang langsung narik tangan gue. Padahal gue lagi buru-buru mau nemuin kak Is.
Disana udah ada kak Is yang lagi duduk sama seseorang. Gue lihat lebih deket, ternyata kak Is duduk sama kak Nova. Kok kak Nova juga disini?
"kak Is.."
"eh kamu udah dateng ca!" kata kak Is dengan sumringah.
"ada apa kak? Disini ada kak Nova juga?" gue masih bingung sama ini semua.
"iya, kakak mau bilang makasih banget sama kamu!! Kakak juga punya kabar gembira!!" ujar kak Is dengan semangatnya.
"kabar gembira? Apa?"
"kakak dengan kak Nova udah jadian!!" jawab kak Is. Gue kaget banget!! Disitu perasaan gue bener-bener gak karuan. Dunia serasa hancur. Ternyata orang yang selama ini kak Is suka adalah kak Nova, bukan gue. Gue bener-bener lemes.. Gak tau harus gimana..
"j..ja..jadi kak Is ud.. Udah jadian sama kak Nova?" gue berusaha nahan air mata gue supaya gak jatuh didepan kak Is.
"iya ca! Kakak ngucapin makasih banget yah waktu itu kamu udah nasehatin kakak!" jawab kak Is. Gue senyum miris. Miris banget. Ya Tuhan... Gue gak tau harus gimana. Perasaan gue bener-bener kacau balau.
"selamat yah kak.. Ka.. Kalian emang serasi.." ujar gue. Gue langsung balik badan dan pergi. Kak Is manggil-manggil nama gue, tapi gue tetep jalan. Saat itu air mata gue udah gak bisa ditahan lagi, semuanya jatuh di pipi gue.
Sepanjang jalan, gue masih terus nangis. Lalu ada Adit yang lagi ngumpul bareng temen-temennya disamping api unggun. Dia lihat gue dan langsung nyamperin gue.
"lo kenapa ca? Kok nangis?" tanya Adit. Gue langsung peluk dia dan nangis di pelukannya.
"lo kenapa sih ca? Cerita dong sama gue.. Ada apa? Siapa yang bikin lo kayak gini?" tanya dia dengan ngusap rambut gue. Gue masih belum bisa ngomong ke dia. Dia terus ngusap rambut gue.
"ya udah-udah, kita duduk disitu dulu yuk.." ajak dia. Lalu kita duduk dipinggir lapbas. Tentunya semua anak disitu pada ngelihatin gue dan Adit. "lo tenangin diri lo dulu ya..." ujar Adit nenangin gue.
Setelah gue udah agak tenang, gue mulai cerita sama Adit. Adit ngerti perasaan gue.
"eum.. Iya gue ngerti. Udah.. Lo ikhlasin kak Is. Cinta emang gak bisa di paksain kan. Jadi lo juga harus ngertiin kak Is. Kalo lo sayang sama dia, lo harus relain dia sama pilihannya. Mungkin dengan begini dia akan bahagia. Gue tau perasaan lo, tapi lo juga harus ngerti perasaan kak Is juga.." ujar Adit. Gue cuma diem.
"udah dong jangan sedih lagi!! Masa cuma gara-gara ini lo jadi murung gitu! Senyum lagi dong!!" kata Adit. Gue berusaha buat senyum. "ahh masih ditahan tuh... Ayo senyum lagi!! Apa perlu gue panggilin kak Revan buat nge-hukum lo lagi?!!"
"yee itu mah bikin gue kesel bukan senyum!! Gimana sih lo.. Hehe"
"tuhh kan... Gitu kan enak dilihatnya.."
'lo emang paling bisa bikin gue ketawa, dit' batin gue.

***

Jam olahraga pagi ini diisi dengan senam aerobik. Seperti minggu lalu, anak-anak pada baris berjejer ngikutin gerakan dari instruktur didepan. Hari ini gue gak begitu semangat. Gue masih kepikiran soal semalem, kak Is. Gue lihat kak Is semangat banget tuh, ya soalnya ada kak Nova disampingnya. Ya Tuhan... Kalau memang Engkau tak mengijinkan aku bersamanya, tolong buang rasa ini ya Tuhan.. Huh..
Lalu datanglah tuh si kunyuk Adit. Gue heran sama dia, tiap kali gue galau gara-gara kak Is, dia pasti nongol. Dia juga selalu bikin gue ketawa dengan tingkah polahnya yang konyol itu. Lihat aja tuh, masa iya dia bukannya senam ngikutin instrukturnya, eh malah harlem shanke sendiri. Hadeuh....

Selesai senam, Adit ngajak gue ke taman belakang. Gue gak tau apa yang akan dilakuin Adit disini. Kita duduk berdua disalah satu bangku. Kali ini beda dari biasanya, wajah Adit kelihatan serius. Gue kan jadi ngerasa aneh juga kalo kayak gini.
"ada apa, dit? Kok lo ngajak gue kesini?" tanya gue langsung.
Tanpa pikir panjang dan berkata apapun, Adit langsung jongkok didepan gue. Dia pegang tangan gue. Hati gue jadi dag dig dug nih, aduh mau ngapain dia.
"ca.. Gue tau ini pasti terlalu cepat. Kita emang baru kenal 1 minggu, tapi gue udah gak bisa nahan perasaan ini. Sejak awal ketemu, gue udah suka sama lo. Gue gak tau kenapa gue bisa semudah ini jatuh cinta sama orang. Awalnya gue gak begitu yakin rasa ini bakal bertahan lama. Tapi semakin kesini, gue semakin yakin kalau gue bener-bener sayang sama lo.. Untuk itu, lo mau gak jadi sesuatu buat gue?" tutur Adit panjang lebar.
Gue kaget banget Adit bilang kayak gitu. Ternyata diem-diem selama ini dia suka sama gue? Gue gak nyangka. Gue masih sayang sama kak Is, tapi gue juga gak bisa mengabaikan perasaan Adit. Aduuuh gue harus gimana? Tuhan bantu aku!! Gue harus jawab apa??????????
"gimana?"
"eum... S.. Sorry, gu.. Gue... Gue gak bisa jawab sekarang. Gue butuh waktu!" jawab gue pada akhirnya. Gue lihat ekspresi sedikit kecewa diwajah Adit.
"ya udah, gue minta lo pikirin baik-baik. Gue bakal terus nunggu sampe ada kepastian dari lo. Gue harap lo bisa ngasih jawaban yang terbaik... Eum... Gue... Cabut dulu!" lalu Adit pergi ninggalin gue disitu sendiri. Ya Tuhan.... Gimana ini?

***

Saat itu gue lagi duduk sendiri di depan kamar. Tiba-tiba ada Ricky dan Lucky nyamperin gue. Gila aja tuh anak! Masa nyamperin gue ke asrama cewe, kalo ketahuan petugas keamanan bisa di gebok tuh.
"woy!! Ngelamun aja lu.." seru Ricky ngagetin gue.
"paan sih lu... Kaga, gue kaga ngelamun juga" jawab gue sewot.
"eh, di cari Adit noh!!" ujar Ricky yang langsung duduk disamping gue, begitu juga Lucky. Gue cuma diem. "dari pada lo kayak gini, mending cepet-cepet dah lo ngasih jawaban ke dia!" lanjut Ricky.
"gue masih bingung, ky! Gue gak tau harus jawab apa.." jawab gue pasrah.
"bingung gimana sih? Adit itu cinta sama lo. Dia itu udah lama loh nunggu lo.. Lihat aja tuh, dia jadi murung dan sering ngelamun sendiri. Ya bukan apa-apa nih, bukannya gue ngomporin lo buat nerima dia. Seenggaknya, lo kasih jawaban ke dia, biar ada kepastian, iya gak luck??" tutur Ricky panjang lebar yang diakhiri dengan anggukan tanda setuju oleh Lucky.
"gue masih belum bisa lupain kak Is.." jawab gue.
"lo nya sayang gak sama Adit?" tanya Ricky. Gue ngangguk. "nah.. Itu lo bilang sendiri kalo lo sayang sama Adit. Lo gak kasihan apa sama dia? Dia itu nunggu kepastian dari lo.."
"tapi gue takut, kalo gue cuma akan jadiin dia pelampiasan gue.. Gue juga gak pengen nyakitin dia, karena hati gue masih cinta kak Is.."
Ricky dan Lucky diem. Gue juga diem. Kemudian, Ricky kembali berbicara.
"ya udahlah.. Itu terserah lo. Gue juga gak bisa maksa. Kalo gitu, kita balik ke asrama dulu ya!" pamit Ricky. Gue ngangguk aja.

Saat ini gue bener-bener dilema banget. Gue masih cinta sama kak Is, tapi gue juga gak mau nyakitin Adit. Ya Tuhan.......

***

Ini udah hari ke empat setelah Adit ngungkapin perasaannya ke gue. Tepatnya, ini adalah hari kamis, hari ke 12 gue disini. Sabtu nanti, lomba bariir berbaris antar kelas bakal diadain. Setelah itu senin, gue dan yang lainnya juga bakalan balik ke daerah masing-masing. Tapi sampai saat ini, gue masih dilanda dilema berat. Gue belum juga ngasih jawaban ke Adit.

Saat jam istirahat sekolah, gue duduk disalah satu bangku depan kelas gue. Siffa pergi ke kantin sama Rista. Disitu gue cuma diem sambil lihat-lihat suasana sekitar. Ga beda jauh sama sekolah-sekolah lain. Saat jam istirahat pasti rame banget. Anak-anak pada diluar. Ada yang main basket, ada yang baca buku, ada yang gosip juga, pokoknya banyak deh. Termasuk ada yang diem juga, kayak gue.
Disalah satu sudut, gue lihat sepasang kekasih lagi berduaan. Ya, kak Is dan kak Nova. Mereka lagi berduaan. Wajah mereka kelihatan seneng banget. Ya sama seperti muda mudi lain saat ngerasain jatuh cinta.
Pas noleh ke samping, eh udah ada orang aja tuh. Adit. Iya, itu Adit. Dia duduk disamping gue dengan menatap lurus ke depan.
"udah lama lo disini?" tanya gue. Dia noleh sebentar dan senyum ke gue lalu balik menghadap ke depan.
"lo masih cinta sama kak Is?" DEG! Kenapa dia nanya kayak gitu? Gue ga tau harus jawab apa. Ga mungkin kan kalau gue harus jawab 'iya, gue masih cinta' didepan dia. Gue ga mau nyakitin perasaan dia.
"em... Gu gue..." mendadak gue jadi gagap gitu. Gue tarik nafas panjang, lalu gue lanjutin perkataan gue. "gue udah nyoba buat ngelupain kak Is, tapi gue ga bisa.."
Adit menghembuskan nafas berat. "gue tau perasaan lo.." ujarnya dengan kepala masih menghadap ke depan. Gue bener-bener ga enak hati sama dia.

Sejenak tidak ada yang berbicara. Kami berdua diam pada pikiran masing-masing. Setelah cukup lama, akhirnya gue beraniin diri angkat bicara...
"dit..." panggil gue pada Adit yang sedari tadi murung.
Dia gak jawab panggilan gue, cuman saat ini dia menatap lurus ke arah gue. Gue tatap matanya, ada raut kekecewaan disana. Gue gak tega kalau harus menatap matanya lebih lama. Gue juga bisa ngerasain sakit yang Adit rasain selama ini. Buru-buru gue mengalihkan pandangan ke arah lain.
"gue... Mau ngasih jawaban soal pertanyaan lo waktu itu" ujar gue dengan sangat hati-hati.
Adit yang semula hanya diam tak bergeming, kini tengah berdiri dihadapanku. "apa ca? Apa jawabannya?" tanya dia sangat antusias.
Gue menarik nafas panjang. Berharap agar keputusan ini tak membuatnya sakit hati. "maaf... Gue ga bisa jadi milik lo.." jawab gue dengan muka pasrah.
Gue lihat Adit tertunduk lesu mendengar jawaban yang gue kasih. Terlihat di pelupuk matanya ada sesuatu yang ia tahan. Gue gak kuat kalau harus lihat dia kayak gitu.
"tapi kenapa ca?" tanya Adit dengan suara gemetar menahan sesuatu.
"gue... Gue gak mau nyakitin perasaan lo, dit! Lo tau kan kalau gue masih cinta sama kak Is.." jawab gue.
"tapi kak Is kan udah punya kak Nova!"
"gue tau! Tapi gue tetep aja ga bisa ngilangin perasaan ini ke dia! Gue cinta sama dia.."
"gue akan bantu lo buat lupain dia, ca!! Gue bisa bikin lo jatuh hati sama gue, bukan kak Is!!"
"percuma dit! Perasaan gue ke kak Is udah terlalu dalam. Susah buat ngilangin perasaan ini! Gue mohon, lo ngerti perasaan gue. Gue gak mau bikin lo sakit hati, dit. Pacaran sama lo, tapi hati gue buat orang lain, itu akan jauh lebih sakit!!"
Kini air mata gue udah meluruh ke pipi gue. Berkali-kali Adit menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Setelah sekian lama kita berdiam diri dengan pikiran masing-masing, Adit pun angka bicara.
"oke.. Kalau itu mau lo, gue bisa nerima.. Cinta itu gak bisa dipaksain. Gue juga gak bisa maksa lo buat cinta sama gue. Biar waktu yang akan menjawab semua ini..." ujar Adit berusaha tenang.
"gue cabut dulu.." lanjutnya lalu pergi meninggalkan tempat.


(POV. Adit)
Aaaaarrrghhhh... Kenapa dia lebih memilih kak Is yang jelas-jelas ga cinta sama dia? Kenapa dia nolak gue? Kenapa dia ga bisa cinta sama gue? Tuhaaaaaan... Mengapa semua jadi seperti ini?

Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah ku relakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara..

Baru ku sadari..
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku...

Setidaknya lagu itu yang dapat menggambarkan gimana perasaan gue saat ini. Gue berlari menuju lapangan berumput. Berbaring di atas rumput yang masih hijau itu dengan menatap langit yang bagi gue itu sangat mendung, seperti hati gue. Gue pejamkan mata ini agar gue bisa lebih tenang.
Kemudian datanglah Ricky dan Lucky disana. Bug bug bug! Suara hentakan kaki mereka kencang sekali. Mereka nyamperin gue yang lagi tepar di lapangan.
"hosh hosh... Lo gak apa-apa kan, dit?!!!" seru Ricky dengan muka paniknya.
"iya, lo gak ngelakuin apa-apa kan tadi? Lo masih waras kan? Iya kan?" sambung Lucky. Gue denger perkataan mereka, tapi gue masih males buat buka mata.
"hey!! Lo gapapa kan? Jawab dong!! Lo masih hidup kan???" Ricky masih nyerocos gitu aja kayak bajaj.
Perlahan gue buka mata gue. Gue lihat 2 cecunguk itu ngelihatin gue dengan muka yang ga enak di pandang, bahkan terkesan menyeramkan.
"aish!! Awas lo berdua! Nakutin gue aja.. Serem tau gak muka kalian tuh!!" omel gue yang langsung duduk didepan mereka. Mereka menarik nafas lega.
"huuuuuft... Gue kira lo udah pergi ninggalin kita, iya ga luck??" kata Ricky meminta persetujuan dari Lucky dan di hadiahi anggukan dari Lucky.
"sialan lo berdua!! Gue masih hidup kali!!" jawab gue makin emosi.
"trus gimana sama ica? Lo gak nyoba buat bunuh diri kan??" tanya Lucky yang langsung di bungkam mulutnya dengan tangan oleh Ricky.
"aih... Gue masih waras luck!! Mana mungkin gue ngelakuin hal bodoh itu cuma karena hal yang kayak gitu doang!"
'kayak gitu doang' iya, kayak gitu doang tapi bikin sakit hati gue. Kalau seandainya yang bunuh diri nantinya bakal ke surga, udah dari tadi deh gue bunuh diri nya.
"ya kali aja.. Biasanya orang frustasi kan kayak gitu kelakuannya, rawan banget sama hal-hal kayak gitu.." jawab Lucky.
"gak lah.. Gue masih pingin hidup. Gue masih pingin makan lo hidup-hidup.. Hahaha"
"aih sialan lo!! Haha"
Sejenak hati ini terasa lebih ringan ketika ada 2 temen gue ini. Tapi yang sebenarnya, sakiiiiiiiiiiiiiiiiit banget. Huh....


(POV. Author)

Jam makan malam tiba. Seperti biasa setelah mengantri mengambil makanan Adit, Ricky, Lucky, dan teman-temannya yang lain duduk bersama di salah satu meja. Mereka berbincang kesana kesini dengan penuh canda tawa. Untuk sejenak, Adit memang bisa melupakan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Ica.
Dari kejauhan, ada sosok yang tengah memperhatikan Adit. Ica. Iya, ia sangat khawatir dengan keadaan Adit. Apalagi sejak ia memutuskan untuk menolak cinta Adit.
'syukurlah kalau lo bisa kembali ceria lagi, dit' gumam Ica.
Seperti biasa, saking banyaknya anak yang makan disitu, Ica kehabisan tempat. Alhasil ia hanya mondar mandir tak jelas mencari tempat duduk yang kosong. Hanya ada satu tempat duduk yang kosong, yaitu disamping Adit. Tentu saja ia tak berani kesana. Ia tau bahwa mungkin Adit masih marah padanya. Lalu ia memutuskan untuk menunggu anak lain selesai makan.

Melihat pujaan hatinya tengah kesusahan mencari tempat, akhirnya Adit pun menghampiri Ica. Ia mengambil makanan Ica, lalu ia tempatkan disampingnya yang kosong itu. Ica bingung dengan sikap Adit.
'bukannya dia lagi marah sama gue?' batin Ica.
Dengan memberanikan diri, Ica pun duduk disamping Adit. Kebetulan teman-teman Adit yang lain sudah kembali ke asrama untuk persiapan belajar, karena sebentar lagi jam belajar akan dimulai.
Ica masih diam dan tak segera memakan makanan didepannya itu.
"cepetan makan! Bentar lagi jam belajar dimulai.. Gue juga harus balik ke asrama!" ujar adit perhatian namun terkesan ketus terhadap Ica.
"iya..iya.." akhirnya Ica pun memakan makanannya dengan ditemani Adit disampingnya. Kini hanya tinggallah mereka berdua disana dan ibu-ibu penjaga kantin.
5 menit lagi jam belajar dimulai, sedangkan Ica belum juga selesai memakan makanannya. Ia sangat terburu-buru melahap makanannya itu, hingga akhirnya ia tersedak. Kontan Adit langsung memberikan ia minuman.
"kalo makan ga usah buru-buru!" tukas Adit.
"gue masih laper, sedangkan sebentar lagi jam belajar dimulai! Mau gak mau ya gue harus cepet-cepet lah makannya!" jawab Ica.
"iya, tapi bukan gitu caranya... Lo bukannya kenyang, tapi malah tersedak! Tunggu disini!" kata Adit.
Ia berdiri kemudian mengambil sepotong roti yang ada dikantin itu. Lalu ia memberikannya pada Ica.
"nih.. Lo makan aja dikamar. Ini udah masuk jam belajar! Gue juga harus balik.." tutur Adit. Ica hanya mengangguk menuruti Adit. Kemudian keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk belajar.

Dikamar, Ica masih memandangi roti pemberian Adit itu. Siffa, Alin, dan Rista yang saat itu tengah belajar, ikut tertarik untuk memperhatikan roti tersebut.
"itu roti dari mana? Kok ga dimakan? Kalau gak mau, biar buat gue aja!!" kata Alin.
"dari Adit.." jawab Ica singkat.
"WHAT?? Dari Adit?" seru mereka bertiga bersamaan. Ica mengangguk.
"lo udah baikan sama dia?" anya Siffa. Ica menggeleng.
"lah terus, kenapa dia ngasih lo roti?" tanya Rista. Kemudian Ica menceritakan semuanya pada mereka bertiga. Mereka mengangguk-angguk mengerti.
"mungkin dia udah gak marah sama lo.." ujar Alin.
"iya mungkin! Kalo gak gitu, ngapain juga dia perhatian sama lo? Pake ngasih roti segala lagi..." sambung Rista.
"iya sih, tapi gue masih ngerasa bersalah sama dia.." jawab Ica.
"udahlah... Lupain aja masalah itu. Gue yakin, dia pasti maafin lo.. Dia itu cinta sama lo. Jadi, mana mungkin sih dia benci sama lo! Percaya deh.." tutur Siffa.
Ica hanya diam dengan masih memandangi rotinya itu.

Sedangkan di asrama putra, disalah satu kamar, segerombol anak tengah memperhatikan salah satu anak yang tengah berbaring lesu diatas ranjangnya.
"bro, lo kenapa sih? Masih galau?" tanya Farhan yang kini wajahnya berada tepat didepan wajah Adit.
Adit pun membuka matanya kemudian ia terlonjak kaget, karena wajah teman-temannya tengah berada tepat didepan wajahnya.
"Astaghfirullah!!! Kalian pada ngapain sih?? Ngageti gue aja.. Untung gue kaga punya penyakit jantung, kalo iya, bisa mati seketika gue!!" omelnya yang sudah mirip dengan ibu-ibu rumahan.
"ya abisnya lo dateng-dateng langsung tepar... Kenapa si?" tanya Gusta yang disambung oleh anggukan dari teman-temannya.
"gapapa ah! Udah ayok belajar! Gue banyak tugas nih..." jawab Adit yang kemudian mengambil buku pelajarannya.
Yang lainnya pun bingung, tetapi kemudian mereka pun juga ikut mengambil buku pelajaran masing-masing.

***
Latihan mati-matian


Hari ini adalah hari jumat. Khusus hari ini, sekolah diliburkan. Karena besok pagi, tepatnya hari sabtu, lomba baris-berbaris antar kelas akan di selenggarakan.

Hari ini anak-anak sangat sibuk untuk mempersiapkan esok pagi. Sedari tadi, Ica mondar-mandir tidak jelas. Hari ini ia sangat sibuk. Maklum, ia terpilih menjadi wakil ketua kelas di kelasnya itu. Ia sibuk mengurusi berbagai perlengkapan untuk lomba besok.
"ca, tolong nanti lo yang ambil nomor undian ke panitia! Gue mau ngurusin nih kostum!" ujar Gusta sang ketua kelas yang juga akan menjadi danton pada lomba besok.
"oh iya, ntar gue yang ambil" jawab Ica.

Saat mengambil nomor undian...
"weh nomor 4!!" seru Ica pada Siffa yang sedari tadi sudah menunggunya.
"yang bener? Hmmm... Okelah! Gak terlalu awal, juga gak terakhir!" pungkas Siffa.

Kemudian mereka berdua kembali ke kelas. Saat dijalan, Ica dipanggil oleh salah satu kakak panitia. Padahal mereka sedang buru-buru menuju kelas untuk membantu membereskan kostum.
"lo duluan aja, fa! Ntar gue nyusul!" ujar Ica yang di setujui Siffa. Ica langsung berlari menuju orang yang memanggilnya.

"ada apa kak?" tanya Ica pada kak Is yang telah memanggilnya.
"gini... Eh sebentar, tadi yang kakak panggil ada 2 orang, yang satu mana ya??" ujar kak Is clingak-clinguk mencari seseorang.
Ica pun ikut-ikutan clingak-clinguk mencari orang yang dimaksud kak Is itu. Tetapi sedari tadi ia tak menemukan orang tersebut. Yang ada hanyalah anak-anak yang berlalu lalang didepannya.
"emmmm!! Nah... Kamu!!! Hey! Adit!! Sini!" teriak kak Is memanggil orang itu. Adit. Iya, yang dimaksud oleh kak Is adalah Adit.
Kemudian Adit pun menghampiri kak Is.
"nah... Udah semua kan, gini kakak mau bicarain tentang lomba besok dan acara pensi pada malam harinya" tutur kak Is.
"pensi???" tanya Ica dan Adit bersamaan.
"iya, besok pagi akan digelar lomba baris berbaris antar kelas. Kemudian malam harinya, akan di gelar acara pensi sekaligus penyerahan piala bagi yang menang.."
"lah? Kok baru dikasih tau sekarang kak kalau ada pensi? Itu pensinya antar kelas atau bagaimana?" tanya Ica masih bingung.
"ini memang sudah menjadi rencana kakak panitia untuk memberi tahu hal ini secara mendadak, agar anak-anak juga bisa dilatih untuk bertindak cepat. Nah, untuk pensinya itu tidak harus antar kelas. Boleh bergabung dengan kelas lain, satu asrama, atau mungkin asrama putra dan putri akan bergabung itu juga boleh.. Asalkan kalian dapat menampilkan yang terbaik untuk para tamu."
Ica dan Adit sangat terkejut mendengar berita itu. Mana mungkin mereka dapat mempersiapkan acara pensi dalam waktu yang kurang dari sehari semalam.
"tapi kak, apa itu tidak berat? Mempersiapkan untuk acara pensi itu tidak mudah kak!" kata Adit dengan wajah memelas.
"tidak ada yang berat jika dikerjakan bersama-sama dan sungguh-sungguh! Makanya, kakak panggil kalian kesini adalah untuk menjadi panitia pensi, sekaligus untuk kerja sama. Kerja sama dalam artian mempersiapkan acara pensi, bukan kerja sama untuk saling mengeluh!" jawab kak Is yang diakhiri dengan senyum manisnya itu.
"lalu bagaimana caranya menyelesaikan itu dalam waktu yang kurang dari sehari semalam?" tanya Adit lagi.
Kak Is menunjuk pada kepalanya, lalu pergi begitu saja. Disitu, Adit dan Ica kebingungan untuk mengurusinya.

Kemudian mereka menuju tengah lapangan basket dan memanggil semua anak untuk ikut rapat besar itu. Mereka pun menjelaskan seperti apa yang dikatakan kak Is tadi. Sama seperti mereka tadi, anak-anak juga sangat terkejut bahwa ternyata masih ada acara pensi.
"jadi gimana nih? Kita bikin semua anak ikut atau per asrama atau per kelas?" tanya Ica pada semua anak yang ada disitu.
Mereka memikir-mikir. Ada yang menjawab semuanya ikut, ada yang per asrama, ada juga yang per kelas. Ica dan Adit sempat bingung karena tidak tau harus memutuskan yang mana.
"eum... Gimana kalo semua anak ikut aja! Jadi satu gitu!!!" ujar Adit.
Ica masih berfikir.. "emmm oke juga sih. Gimana sama yang lain? Setuju gak?" tanya Ica.
Anak-anak lain mengangguk-angguk setuju pada ide itu. Setelah itu mereka masih membahas tentang apa yang akan di tampilkan. Bagaimana kostum, koreo, formasi, dan masih banyak lagi yang akan mereka bahas.
Hingga akhirnya rapat di akhiri pada pukul 11 siang. Setelah itu anak-anak lelaki yang muslim mempersiapkan diri untuk sholat jumat. Sedangkan yang lain kembali ke asrama.
"duh... Kenapa harus mendadak kayak gini sih ngasih tau nya? Ga gampang kali ngurusin acara pensi itu.." keluh Rista di sepanjang perjalanan menuju Asrama.
"sengaja katanya! biar bisa bertindak cepat!" jawab Ica.
"iya sih, tapi kan beraaaaaat.." sambung Alin.
Ica hanya mengangkat kedua bahunya menandakan ia tidak tahu apa-apa.
"eh tapi, kenapa yang dipilih jadi panitia itu lo sama Adit? Wah jangan-jangan...." Siffa mencoba menggoda Ica.
"mana gue tau! Kak Is yang milih kok... Udah ah, ga usah di bahas!!" jawab Ica lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"woy!! Ini juga kamar kita kali!! Bukain napa!" teriak Siffa dan Alin diluar sana.
Kemudian Ica membuka kan pintunya dengan cengar-cengir. "hehe... Sorry! Gue lupa!!" ujarnya. Siffa dan Alin hanya bisa memanyunkan bibirnya ke depan.


Pukul 1 siang, anak-anak kembali berkumpul untuk latihan. Semua sudah mendapatkan bagian masing-masing. Dan saatnya menjalankan tugas!
Tema pensinya nanti adalah campur aduk. Karena semuanya jadi satu. Ada nyanyi, modern dance, traditional dance, drama, dan masih banyak lagi. Untuk alat musik dan alat-alat lain sudah dipersiapkan kakak panitia, jadi tidak begitu sulit untuk mencarinya.

Mereka semua mati-matian berlatih untuk hari esok. Mereka berusaha sekeras mungkin agar dapat menampilkan yang terbaik. Untung saja anak-anak disana cukup mudah bergaul dan mudah di atur. Jadi tak susah untuk membuat mereka kompak, karena pada dasarnya mereka memang sudah kompak.

Malam harinya, mereka mengadakan latihan kembali untuk kegiatan besok pagi. Dari mulai yang lomba baris-berbaris sampai acara pensi. Pukul 10 malam selesai, karena mereka harus tidur untuk mempersiapkan diri mengahadapi hari esok yang mungkin akan sangat melelahkan bagi mereka.

'semoga besok pagi bisa berjalan dengan lancar.. Amin' batin Ica.

***

Pukul 3 pagi semua anak sudah bangun. Mereka sibuk mempersiapkan peralatan untuk lomba nanti pagi. Karena pukul 4 nanti mereka harus sudah berada di mushola dan tidak bisa mengurusinya lagi.

Setelah selesai sholat subuh, cepat-cepat mereka menuju kamar mandi untuk mandi tentunya. Setelah itu mereka sarapan dan bersiap-siap untuk lomba. Lomba akan di selenggarakan tepat pada pukul 8 pagi. Pukul 7 pagi mereka sudah siap.
"aduh.. Gue deg deg-an banget nih!" ujar Fany, salah satu teman sekelas Ica.
"sama, gue juga deg deg-an.. Grogi banget!" sambung anak yang lain.
"udahlah tenang aja... Kita pasti bisa kok!" ujar Gusta sang danton menenangkan para pasukannya.
Ica sedari tadi tak henti-hentinya berdoa. Ia duduk didepan kelas dengan melihat ke arah lapangan yang sudah ramai dengan anak-anak lain.
Tiba-tiba dari belakang datang seseorang yang langsung mengenggam tangannya.
"lo tenang aja... Semuanya akan berjalan lancar!" ujar Adit yang kini tengah berada didepannya.
Ica terkejut dengan kedatangan Adit yang secara tiba-tiba itu. "eh Adit... Iya amin" jawab Ica dengan sikap yang tak karuan.
Ia salah tingkah ketika Adit terus menatap matanya dengan tangan yang digenggam olehnya. Ica berusaha mengalihkan pandangannya, tapi Adit masih tetap menatapnya.
"l..lo ke..kenapa sih ngeliatin gue ampe segitunya?" tanya Ica.
"lo cantik..." jawab Adit sekenanya. Membuat Ica menjadi salah tingkah kembali.
"apaan sih lo... Dari dulu juga gue udah cantik kali! Baru sadar lo?!!" ujar Ica. Adit tertawa.
"hahahaha... Iya tuh, gue baru sadar!! Haha"
"berarti selama ini lo anggep gue jelek dong?!!"
"hahaha... Bisa jadi!" jawab Adit dengan masih terbahak. Ica memanyunkan bibirnya beberapa centi ke depan.
"uuuu... Dasar!"


"persiapan untuk nomor undi 4!" ujar kakak panitia menggunakan mikrofon yang terdengar dari segala penjuru ruangan.
Ica dengan segera berlari ke kelasnya.
"guys!! Nomor undi 4 noh persiapan! Ayok cepetan!!" ujarnya dengan berteriak.
Teman-temannya yang lain pun segera mempersiapkan diri, begitu juga dengannya. Setelah semua siap, mereka menuju arena bertarung. Iya, maksudnya ya lapangan itu yang buat lomba. *hehe*

Tibalah giliran Ica dkk yang akan tampil. Setelah berdoa, mereka maju. Mulai lah mereka menunjukkan kelihaian dalam baris-berbaris. Tak sia-sia selama ini mereka berlatih mati-matian untuk mempersiapkan lomba ini. Hasilnya, tak jauh dari kata sempurna. Semua orang menatap mereka kagum. Sikap, formasi, kostum, kekompakan mereka pun menjadi perhatian utama pada hari itu.
Selesai... Semua orang bertepuk tangan meriah. Mereka pun kembali ke kelas dengan wajah sumringah.
"Alhamdulillah.... Akhirnya selesai juga!" ucap Ica sesampainya di kelas.
"eh tadi kerena kan kita?? Iya kan?? Ya ampun gue deg deg-an nih nunggu hasilnya.." ujar Rista.
"yah.. Mudah-mudahan kita bisa dapet yang terbaik lah!" kata Gusta yang di amini oleh seluruh penghuni kelas.
"iya amin..."


***

Pukul 11 siang, lomba sudah selesai. Kini Ica dan anak-anak lain pun sibuk mempersiapkan untuk acara pensi nanti malam. Ada yang mengurusi kostum, make up, musik, panggung, skenario, koreo, semuanya...

Hingga pada akhirnya, tibalah saatnya pensi dimulai. Semua anak duduk di belakang panggung dengan perasaan yang gak karuan. Resah, gelisah, gugup, takut salah, semua melanda anak-anak ini. Hingga membuat anak-anak ini bertingkah yang tak sewajarnya. Ada yang jongkok di atas kursi, ada yang gigit jari, ada yang mengusap tangannya berkali-kali, ada juga yang makaaaan terus, dan masih banyak kekonyolan yang mereka buat.

Pukul 8 malam, acara dimulai. Didepan sana ada kak Nova dan kak Gandhi sebagai MC. Cukup lancar mereka membawakan acara ini. Mungkin memang sudah terlatih, karena terdengar kabar bahwa kak Nova juga sering menjadi MC di acara-acara pensi sekolah-sekolah.
Acara pertama setelah pembukaan adalah sambutan dari ketua penyelenggara. Kemudian sambutan dari pak Burhan sebagai donatur terbesar pada kegiatan pelatihan ini. Ketiga adalah sambutan dari kakak senior. Dan keempat adalah sambutan dari anak-anak yang mengikuti pelatihan yang di wakili oleh Ricky.

Setelah itu tibalah saatnya untuk tampil menghibur para tamu yang datang. Skenario pun berjalan cukup lancar, meski ada beberapa masalah kecil, tapi itu bisa di atasi.
Pada pembukaannya, di awali dengan nyanyi-nyanyian yang diiringi dengan musik reggae. Lagunya bermacam-macam. Ada yang pop, dangdut, lagu nasional, tetapi di aransemen dengan musik reggae. Di depan sana ada Rani dan Ifa sebagai vokalis, dan ada Gusta dkk yang menjadi pengiringnya. Gusta lah yang meng-aransemen lagu-lagu tersebut, karena memang ia tergabung dalam grup musik dengan aliran reggae. Setelah permainan musik reggae selesai, semua bertepuk tangan meriah.
Selanjutnya adalah penampilan dari grup drama musikal. Termasuk Ica dan Adit didalamnya. Yang namanya drama musikal, tentu terdapat sisipan musik, nyanyian, serta tarian. Begitu enjoy mereka membawakan perannya masing-masing. Hingga hasilnya pun tak mengecewakan.
Selesai, giliran grup traditional dance. Yang pertama dibuka dengan tarian jawa. Penarinya pun tak berpenampilan layaknya penari jawa. Hanya memakai kaos biasa dengan tambahan selendang. Rambut hanya di gelung biasa dan make up alakadarnya yang meminjam dari ibu-ibu penjaga kantin. Tentu setiap tarian, dandanannya selalu beda.
Berbagai macam tarian yang mereka bawakan. Termasuk tari bali dan tari saman. Ketika membawakan tari saman, semua penari dari tarian yang berbeda di gabung menjadi satu. Anehnya tak ada satupun yang berpakaian layaknya penari saman. Semua masih tetap sama dengan kostum tarian masing-masing. Laki-laki dan perempuan di gabung menjadi satu dan menari saman bersama-sama. Tentu tariannya tak se-bagus penari saman pada aslinya. Tetapi ini sangat mengasyikkan. Tarian ini diiringi dengan musik yang telah di tata apik oleh Farhan dkk di belakang sana. Semakin lama, musiknya semakin cepat, hingga tariannya pun ikut semakin cepat.
Hingga akhirnya... JREEENG!! Musik berhenti. Selesai lah sudah. Semua bertepuk tangan meriah, sampai-sampai ada yang berdiri dengan bertepuk tangan. Semua berdecak kagum pada penampilan mereka. Mereka pun tersenyum senang karena para tamu merasa terhibur. Berakhirlah sudah acara pensi tersebut.

POV. Ica

Setelah acara pensi itu adalah pengumuman pemenang lomba baris-berbaris tadi pagi. Gue dan temen-temen satu kelas yang lain deg deg-an banget. Berkali-kali gue ngusap tangan gue buat ngusir rasa gelisah ini. Begitu juga yang lain. Mengusir kegelisahan mereka dengan cara masing-masing.
"dan ini dia yang kita tunggu-tunggu.. Kami akan mengumumkan siapa yang memenangkan lomba baris- berbaris. Untuk juara 3, di raih oleh.... Kelas C!!!" seru kak Nova dan kak Gandhi bersamaan. Semua bertepuk tangan.
"untuk juara dua, di raih oleh....... Kelas B!!" tepuk tangan semakin meriah. Kelas B adalah kelasnya Adit. Gue pun juga ikut tepuk tangan.
"dan untuk juara pertama... Di raih oleh..................... Kelas...... D!!!!!!!" gue kaget banget sekaligus seneng. Kelas gue dapet juara pertama! Aaaaaaa gue seneng banget!! Alhamdulillah.... Terima kasih ya Tuhan.. Gusta sebagai ketua kelas maju ke depan. Begitu juga dengan ketua kelas dari kelas yang lain. Semua bertepuk tangan sangat meriah. Setelah penyerahan piala dan hadiah, mereka kembali turun.

Acara malam itu di akhiri dengan nyanyi-nyanyian dari anak-anak, kakak-kakak senior, sampai sang ketua penyelenggara pun ikut bernyanyi bersama. Meriah banget acara malam itu. Acara ini juga sebagai acara perpisahan karena senin nanti kami akan kembali ke daerah masing-masing.

***

Esok paginya, gue dan anak-anak lain pukul 7 pagi tepat udah pada siap didepan bus. Hari ini hari minggu, kami di ajak untuk jalan-jalan keliling kota bandung seharian. Acara ini hanya untuk refreshing sekaligus liburan karena selama 14 hari ke belakang kami tidak boleh keluar kemana-mana. Setelah semuanya siap, kami pun berangkat.

Banyak tempat wisata yang kami kunjungi. Juga tempat-tempat belanja yang menjual aneka barang. Dari mulai yang bermerek, sampai yang paling murah pun ada.
Kami semua senang sekali karena bisa berlibur bersama teman-teman baru yang sudah seperti saudara sendiri. Memang kami baru kenal hanya sekitar 2 minggu. Tapi hati kami sudah melekat satu sama lain.

Pada salah satu tempat wisata , gue duduk disalah satu tempat, sendirian. Siffa, Alin, dan yang lainnya pada foto-foto tuh. Eksis banget emang mereka.
Tiba-tiba ada Adit dateng dan duduk disamping gue. Dia bawa 2 coklat hangat. Saat itu memang suhu di sana dingin banget. Dia ngasih satu gelas ke gue.
"makasih.." ucap gue. Dia senyum.
"kok sendirian? Yang lain mana?" tanya Adit lalu meminum coklat hangat itu.
"tuh pada foto-foto.." jawab gue.
"gak ikut?"
"nggak ah, males.."
Lalu keduanya diam. Kita berdua menatap lurus ke depan. Melihat pemandangan kawah yang indah.

"gak kerasa ya bentar lagi kita pisah..." ujar Adit.
"iya... Rasanya kita baru kenal kemarin, eh udah mau pisah aja.." jawab gue.
"em... Kalo nanti kita pisah, apa yang mau lo lakuin?" tanya Adit.
"apa? Ya kalo pisah mah pisah aja, mau gimana lagi.. Kan kita emang dari awal udah beda daerah" jawab gue. Adit diem. "kalo lo?" lanjut gue.
Adit masih diam dengan posisinya menghadap ke kawah. Lalu dia ngambil HP.
"gue boleh minta foto lo?" tanya dia. Gue bingung, tapi gue menganggukkan kepala. Kemudian kita berdua foto bersama.
"buat apa sih?" tanya gue.
Adit senyum. "buat obat kangen gue kalo sewaktu-waktu gue inget lo!" jawabnya dengan sedikit tertawa.

Akhirnya liburan hari itu pun kami jalani dengan gembira. Pukul 7 malam, kami sudah sampai di asrama kembali. Sesampainya di asrama, kami pun menuju kamar masing-masing untuk bersih-bersih.
Seusai makan malam, kami pun membereskan barang-barang yang kami bawa untuk besoknya kami bawa kembali pulang.

Pukul 9 malam, kami semua berkumpul di lapangan. Dengan api unggun di tengah lapangan sana, kami pun bernyanyi bersama. Malam ini adalah malam perpisahan bagi kami karena besok pagi kami akan kembali pulang. Ini malam terakhir untuk kami bisa berkumpul. Besok, sudah tidak ada jadwal siraman rohani tiap menjelang subuh, antrian makan dan mandi yang sangat panjang, gak kebagian tempat duduk, kumpul-kumpul sama temen lain sekolah, dan masih banyak lagi. Berat sih buat ninggalin mereka semua, karena mereka udah gue anggep sebagai saudara sendiri. Tapi mau gimana lagi? Gak mungkin juga kan kalo gue harus ninggalin sekolah?

Tiba-tiba Adit dateng dan langsung duduk di samping gue. Dia dateng sambil bawa gitar gitu. Mau ngamen kali ya??
"eh nyanyi yuk!!" ajak Adit.
"emang bisa main gitar?" tanya gue sengaja.
"menurut lo????" gue senyum. "nyanyi yuk ah!!" lanjutnya.
"nyanyi apa?"
"apa aja lah.."
"emmm apa ya??"


Kemudian... JREEENG...

"waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita..." Adit mengawali.

"akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati..." sambung gue.

"ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala..
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa.."

"teringat disaat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita.."

"ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa....."

***

Pagi ini sebelum kami benar-benar pulang, ada upacara penutupan kegiatan pelatihan ini. Selesai upacara, semua anak bersalam-salaman pada sesama, kakak senior, guru, sampai ketua penyelenggara yang hadir saat itu. Beberapa anak terlihat senang karena akan pulang. Tetapi sebagian besar terlihat sedih karena harus berpisah.
"jangan lupain gue ya", "gue pasti kangen banget sama lo", "gue sedih kita pisah", "kapan-kapan ketemuan yuk!", "gue seneng bisa kenal sama lo" itu adalah kata-kata yang sering mereka ucapkan ketika bersalaman.

"ca.." panggil Adit saat gue lagi salam-salaman sama yang lain. Gue noleh ke arah dia. "buat lo.." ucapnya ketika memberikan sebuah kotak.
"apa nih?" tanya gue. Adit diem aja. "gue buka ya!"
"jangan!!"
"kenapa?"
"eum... Buka nya nanti aja" jawabnya. Gue nurutin aja apa kata dia. "jangan lupain gue ya.." pintanya.
"iya.. Mana mungkin sih gue lupain lo!" jawab gue.
"masa?"
"gimana bisa ngelupain, lo kan orang teraneh di dunia!! Hahaha"
"issh... Apaan sih lo! Gue bukannya aneh, cuman gak bener aja! Hahahaha"
"aih sama aja!! Hehe"

Saatnya menuju ke bus masing-masing. Barang-barang udah gue bawa semua. Yang berat-berat, koper dan segala macem udah di tata rapi dalam bagasi. Semuanya udah siap, lalu kami pun naik ke bus. Dan pulang......

Didalam bus, gue ke inget sama kotak pemberian Adit tadi. Gue ambil kotak itu, dan gue buka. Isinya kalung warna coklat dengan liontin berbentuk koin dan dibelakangnya ada tulisan ACA. ACA?? Apa tuh? Disitu juga ada surat kecilnya. Gue buka dan isinya..

Semoga lo suka sama pemberian gue ini. Dengan kalung ini gue harap lo bakal selalu inget sama gue.. 

ACA - Adit & Ica

Gue tersenyum. Gue akan selalu inget sama lo, dit. Sampai kapan pun... :)

***
(POV. Adit)


Hari ini gue pulang. Itu berarti gue gak akan ketemu lagi sama Ica. Huuh... Gue harap dia suka sama kalung yang gue kasih. Semoga dia selalu inget sama gue. Gue gak tau deh gimana nanti gue kalo gak ada Ica. Walaupun cuma 16 hari gue kenal sama dia, tapi gue udah ngerasa nyaman banget sama dia. Gak biasanya gue kayak gini. Biasanya gak semudah ini gue jatuh cinta, tapi sekarang.. Semudah itukah? Huuuft.. Gue bener-bener gak tau harus gimana.

"woy!! Lo kenapa sih bengong aja.. Kesambet lo???" seru Lucky yang saat itu duduk disamping gue.
"eh nggak, nggak apa-apa kok...." jawab gue.
"kepikiran sama Ica ya??"
Gue cuma senyum pasrah.
"udahlah... Kalo jodoh gak akan kemana kok!"
"amiiin....."


***
(POV. Ica)

Pukul 8 malam gue nyampe di sekolah. Gue sms bokap buat jemput. Setelah itu gue pulang ke rumah. Di rumah, gue gak sesemangat waktu berangkat. Entah kenapa gue jadi kayak gini. Gue ngerasa ada yang kurang aja. Yah mungkin gue udah mulai betah sama temen-temen baru gue. Termasuk Adit. Gue kangen dia...
Sampai di kamar, gue langsung bersih-bersih dan tidur. Karena besok pagi, gue udah harus masuk sekolah.

***

Besok paginya, gue berangkat ke sekolah. Sebelumnya seperti biasa, gue sarapan dulu. Biasanya sih di asrama kalo mau sarapan pake ngantri dulu. Tapi sekarang, nggak lagi.
"pagi mah, pah.." sapa gue sama nyokap bokap yang udah duluan di meja makan.
"pagi sayang..." jawab mereka.
"gue kaga di sapa nih?" tanya abang gue yang nyebelin itu.
"iya, pagi bang..." sapa gue. Abang gue itu senyum. Namanya Fransischo Diandra Putra, biasa gue panggil bang Iko.
"lu kenapa lesu gitu? Biasanya tuh gigi gak pernah kaga keliatan" tanya bang Iko.
"gapapa..." jawab gue. Gue pun sarapan.

Selesai sarapan, gue langsung berangkat di anter sama bang Iko. Sesampainya di sekolah, gue langsung masuk.
"eh eh tunggu!!" ujar bang Iko.
"apa lagi sih bang???"
"lo yakin pake kaos kaki itu?"
Gue lihat ke bawah. Ya Ampun... Ternyata gue pake kaos kaki warna pink, bukan putih. Ya Tuhan kenapa gue jadi gak fokus gini sih??
"haaaah iya udah nanti gue beli di koperasi! Gue masuk dulu" jawab gue yang langsung lari ke koperasi. Bang Iko cuma senyum sambil geleng-geleng ngeliat tingkah aneh gue.



Sesampainya di kelas, gue langsung pake tuh kaos kaki yang baru gue beli. Kemudian Elma dateng.
"Bapauuuuuuuuuu!!!!!!!!!! Gue kangen banget sama lo tau gak???!!!!" teriak Elma yang langsung meluk tubuh gue.
"iye-iye sek, gue ngerti!! Tapi bentaran napa, gue mau pake kaos kaki dulu!" ujar gue, terus ngelanjutin pake kaos kakinya.
"lah? Ngapain lu ganti kaos kaki disini?" tanya Elma bingung.
"nih lihat!!!!!" ujar gue sambil nunjuk sepasang kaos kaki hitam disamping gue. Elma ketawa ngakak.
"ahahahahahaha gila lu!!!" Elma duduk disamping gue. "eh gimana sama kak Is itu? Sukses?" tanya elma tiba-tiba.
Gue kaget banget kalo Elma bakal nanyain hal itu. Gue menggeleng pasrah.
"lah kenapa???"
Gue pun nyeritain semuanya ke dia. Elma ngangguk-angguk mengerti. "sabar ya... Gue ngerti perasaan lo... Eh ya, kalo yang satu siapa? Emmmm... Siapa sih namanya? Lupa gue.. A... A... Siapa sih?"
"adit.." jawab gue.
"nah iya, gimana tuh sama si Adit?"
"ya gak gimana-gimana"
"kok gitu? Dia cowo misterius itu kan?"
"iya"
"trus?"
"apanya?"
"dia suka gak sama lo? Pasti iya? Iya kan?"
Gue diem. Mengingat wajah Adit yang bikin gue rindu itu. "yah...." jawab gue.
"trus dia nembak lo?"
"iya.."
"trus lo terima gak?"
Gue menggeleng.
"kenapa?"
"gue takut aja kalo dia hanya akan jadi pelampiasan gue karena gue gak bisa dapetin kak Is.." jawab gue. Elma menepuk pundak gue, menenangkan.

***

Satu tahun telah berlalu. Rasanya cepet banget waktu berjalan. Sekarang gue naik kelas 2 SMA. Tapi ini adalah hari terakhir gue ada di sekolah ini. Karena besok pagi, gue harus pindah ke Bandung. Bokap gue di pindah tugaskan ke kota tersebut. Jadi mau gak mau gue juga harus ikut pindah. Sebenernya gue ga bisa buat ngelepas sekolah gue tercinta ini dan para sahabat gue. Tapi mau gimana lagi, gue gak bisa mangkir dari keadaan.

"pau, gue bakal kangen banget sama lo... Hiks" Elma sesegukan waktu ngelepas gue.
"iya, gue juga bakal kangen banget sama lo, sek"
"jangan lupain gue yah"
"iya... Gue gak akan ngelupain lo..."
"nanti 2 tahun lagi kita ketemu di ITB yah...."
"okesip" jawab gue. Gue dan Elma emang pernah berangan-angan ingin melanjutkan kuliah di ITB.

Setelah pamitan dengan guru, temen, sahabat, sampai penjaga kantin dan tukang kebun, gue langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.
Di dalam mobil gue masih ga tega ninggalin mereka semua. Gue memandang keluar dengan tatapan kosong. Gue gak bisa berbuat apapun lagi.

***

Pukul 7 pagi tepat gue udah berada di bandara. Gue ikut penerbangan jam 8 nanti. Dari tadi HP gue gak pernah yang namanya berhenti berdering. Telfon masuk berturut-turut. Dan semuanya adalah ucapan selamat jalan dari temen-temen gue. Sampai HP gue pun mati karena kehabisan baterai.

Saat ini gue udah berada di Bandung. Gue sedang perjalanan menunju rumah. Iya, nyokap gue emang sebenernya orang Bandung sini, cuman setelah nikah sama bokap gue, tinggalnya pindah ke Semarang. Tapi gue dulu besar di Jakarta. Makanya logat gue gak ada medok-medoknya. Baru kelas 3 SMP gue pindah ke Semarang, dan kenal dengan Elma itu.

Setelah sampai di rumah, gue langsung masuk. Disana udah ada mbak Lis yang menyambut dengan ramah. Dia juga orang jawa, cuman kelamaan di Bandung, jadi ya logat sunda udah melekat banget.
"selamat datang.... Hayu mangga atuh asup, teteh, aa', bapak, ibu, sadayana..."

"kamar aku yang mana mbak?" tanya gue.
"ohh nya eta kamarna teh diditu.." ujar mbak Lis sambil nunjuk ke arah kamar gue. Gue langsung masuk kamar. Yang lainnya pada sibuk ngurusin barang-barang.


Malam harinya saat makan malam, pada ngomongin soal sekolah gitu. Gue sih biasa aja yah mau disekolahin dimana aja juga ga masalah, kalo bisa sih malah gue balik aja ke Jawa.
"oh ya, ca. Papa udah urus semua keperluan kamu buat masuk ke sekolah baru. Semuanya udah beres. Iya kan mah?" ujar papa yang dibalas anggukan kecil dari mama. Gue cuma diem.
"besok pagi jam 5 kamu udah harus siap buat pergi ke sekolah ya, nanti pak Ujang yang nganter kamu" ujar mama.
"hah? Sepagi itu?" seru juga kaget. Masa iya jam 5 pagi gue harus berangkat ke sekolah? Gile ajeee...
"iya sayang, kan jarak sekolah kamu itu jauh dari rumah, jadi harus pagi biar gak telat. Kalo agak siang, udah keburu macet jalanannya." jawab mama.
"tapi kan gak sepagi itu juga..." gumam gue pelan.
"bener tuh kata mama. Siangan dikit udah macet..." jawab bang iko. Dia memang sudah lama tinggal di Bandung. Karena sebenarnya dia kuliah di Bandung, di ITB juga. Cuma kemaren dia lagi liburan panjang, jadi dia pulang ke Jawa.

Setelah makan malam, gue keluar rumah. Gue duduk dibangku depan rumah gue itu. Tiba-tiba mbak Lis dateng.
"kunaon teh duduk diluar? Hayu asup atuh... Ngga baik udara malem teh.." ujarnya dengan usaha bicara dengan bahasa Indonesia, tapi ya tetep ada logat sundanya.
"iya bentar mbak, aku masih pengen disini.." jawab gue. Kemudian mbak Lis duduk disamping gue.
"kunaon si teh? Kok mbak perhatiin, teteh murung terus... Aya naon? Aya masalah?"
"nggak kok mbak, aku cuma pengen sendiri aja... Gak mood buat ngomong banyak" jawab gue. Mbak Lis ngangguk-angguk.
"ya udah atuh, mbak masuk hela nya'.. Jangan lama-lama duduk didieu', nanti masuk angin" ucapnya. Gue cuma senyum ke dia.
Hhhh... Gue masih belm bisa nerima keadaan ini. Keadaan yang mengharuskan gue pindah ke sini. Gue ga tega ninggalin temen-temen gue disana. Ya Tuhan... Berikan hamba kekuatan. Gue menunduk.
Saat menunduk, gue lihat kalung yang masih terpasang di leher gue. ACA.. Iya, Adit Ica... Gue kangen sama lo, dit. Kapan yah kita bisa ketemu lagi.


***

Keesokan harinya pukul 5 pagi gue udah siap. Setelah sarapan, gue langsung berangkat dianter sama pak Ujang. Disepanjang jalan ga ada obrolan sama sekali. Gue juga gak mood ngomong banyak sama pak Ujang. Tau-tau jam setengah 7 kurang 5 menit, gue udah nyampe didepan gerbang sekola baru gue. SMU Bintang Utama. Itu sekolah baru gue.
APA??? SMU BINTANG UTAMA???? Gak salah baca kan gue? Ini kan sekolahnya Adit. Iya gak? Masih ingat gak? Iya kan? Nah loh.... Trus, gue bakal satu sekolahan gitu sama Adit. Gue bakal ketemu Adit? Ahh masa? Yakin? Aduh gimana nih... Gue belum siap deg-degan kayak dulu lagi. Bisa jantungan gue.
Setelah gue turun dari mobil, gue langsung masuk ke dalem. Sekolahnya gede banget. Lebih gede dari sekolah gue dulu. Yah maklumlah, ini SMU favorit di Kota Bandung. Kenapa papa masukin gue kesini sih? Aduh kalo ketemu Adit gimana? Gue harus gimana? Tapi gapapa juga sih, jadi gue bia ngelepas rindu disini. Hadeuuuuh...

Gue pun berjalan menuju kantor kepala sekolah. Disepanjang perjalanan, ada wajah-wajah yang kayaknya gue pernah lihat gitu. Yah mungkin mereka itu dulu pernah ikut pelatihan juga bareng gue. Setelah sampai di kantor kepala sekolah, gue langsung di anter ke kelas baru gue. Tepatnya di XI IPA 2.
Gue pun disuruh masuk ke situ. Setelah perkenalan dan segala macem, gue duduk disebelah salah satu cewe, namanya Risty.
"hay... Aku Risty" tuturnya dengan ngajak salaman gue.
"iya, gue ica" jawab gue dengan menjabat tangannya.
"dari SMU Harapan Bangsa, Semarang?"
"iya.."
"kok gak ada logat jawanya sih? Hehe"
"hehe iya, udah biasa pake bahasa kayak gini... Lo juga ga ada logat sundanya?"
"iya, gue juga biasa pake bahasa kayak gini. Gue sebenarnya dari Jakarta"
"ohh... Iya"


Saat jam istirahat, gue dan Risty pergi ke kantin. Disitu kita ngobrol-ngobrol.

Saat sedang asik ngobrol, tiba-tiba dateng segerombolan cowo ke kantin. Kayaknya sih kelas 2 juga. Salah satu dari mereka, ada yang kayaknya gue kenal. Tapi gue gak yakin kalo itu bener dia.
"eh ris, mereka itu siapa sih?" tanya gue.
"ohh mereka anak kelas XI IPA 5, kenapa emang? Ganteng-ganteng ya? Hahaha... Apalagi Gusta... Wahhh ganteng banget.. Ups keceplosan gue!!!!"
"apa banget deh lo... Hahahaha, Gusta? Gusta Pradana?"
"lah... Kok tau? Lo kenal sama dia?"
"jelas kenal lah... Dia pernah ikut pelatihan di ***** kan?"
"iya, kok lo????"
"gue ikut juga kali...."
"oalah.... Ternyata"
"eh eh trus itu yang agak kurus, yang rambutnya bros itu siapa namanya?"
"ohh itu mah Adit..."
"apa??? Adit??? Aditya Bagas Saputra?"
"iya... Kenal juga?"
"ya Tuhan...."
"kenapa sih?"
"gapapa..."
Ya Tuhan... Gue ketemu lagi sama Adit? Gue gak mimpi kan? Beneran? Yakin? Aduhh.... Jantung gue, jantung gue kenceng banget berdetaknya. Tuhan..... Kuatkan aku.


Pulang sekolah, gue nunggu pak Ujang sambil duduk didepan gerbang sekolah. Tiba-tiba ada satu motor yang berhenti didepan gue. Setelah pemiliknya buka helm, akhirnya gue tau siapa dia.
"ica?" ujarnya.
"adit?"
"iya, lo ica kan? Fransischa Putri Indriana?"
"iya..." jawab gue. Kontan Adit langsung turun dari motornya dan meluk gue erat banget, sampe sesek nafas gue.
"eh eh, gu gue ga bi bisa na fas..."
"eh iya sorry-sorry... Gue kangen banget sama lo!! Lo kok bisa disini sih?" tanya Adit bertubi-tubi.
"hehe.. Iya gue pindah kesini. Sama gue juga kangen banget sama lo!!"
"apa? Lo kangen sama gue? Gak salah denger kan gue? Coba ulangi lagi!!"
"ogah ah... Udah deh jangan mulai dulu!!"
Disitu kita ngobrol-ngobrol gitu. Yah sambil nunggu pak Ujang dateng.

"oh ya, kalung itu.... Masih?" tanya Adit. Lalu gue nunjukin kalung pemberian Adit yang saat itu gue pake.
"tentu..." jawab gue.
"syukurlah.... Emmm gue kira lo gak pake tuh kalung"
"kenapa gak gue pake, kan ini obat rindu gue sama lo...hehe"
"ah masa?"
"iya..."
"kak Is gimana?"
"gimana apanya? Tau kabarnya aja nggak"
"trus?"
"trus apanya?"
"gue udah oleh milikin lo?"
"emmmm....."
"apa?"
"gimana ya...."
"jawab dong.... Apa gak boleh juga nih? Huh...."
"siapa bilang gak boleh"
"jadi?"
Gue mengangguk.
"aaaaa serius?"
"iya.."
"yeeeeeyyyyy akhirnya gue punya pacar!!!!!"
"apaan sih lo... Hahahaha"

Saat itu juga Adit ngangkat gue dan muter-muterin gue.
"adiiiiiit udahan... Pusing tau. Turunin gak!!!"
"hahahah abisnya gue seneng banget. Makasih ya... Sayang"
"iya... Sayang. Hahahahaha"

Dan akhirnya gue dan Adit pun jadian. Huuuft panjang banget ya ceritanya. Mau jadian aja susah banget. Tapi memang, cinta itu butuh waktu. Entah sehari, dua hari, sebulan, bahkan bertahun-tahun. Dan gue rasa, ini adalah waktunya. Waktu dimana gue menemukan cinta gue.

THE END