Pages

Pilihan yang salah


Pilihan Yang Salah

Ketika itu, aku sedang berada disebuah tempat yang sepi. aku duduk dan merenung disitu. Aku bingung akan semua yang telah terjadi. Dua anak laki-laki telah menyatakan cinta padaku. Aku harus memilih salah satu dari mereka. Tapi aku bingung untuk menentukan pilihan.
Rafa, anak laki-laki pertama yang menyatakan cinta padaku. Ia baik, ramah, penuh tanggung jawab. Tapi aku dan Rafa sudah berteman sejak kecil. Mana mungkin aku menerimanya. Aku menganggap dia hanya sebatas teman.
Kemudian ada Niko, anak laki-laki kedua yang menyatakan cinta padaku. Ia baik, tampan, gagah, ramah, penuh tanggung jawab, sopan, dan masih banyak kata yang tak bisa kuungkapkan untuk menggambarkan sosok Niko. Jujur aku lebih tertarik pada Niko. Apakah aku memilih Niko saja? Em.. mungkin itu pilihan yang tepat.
Suatu hari, Rafa dan Niko menagih jawaban dariku. Dengan mudahnya aku menjawab “aku memilih Niko”. Mungkin ini sakit untuk Rafa. Tapi mau bagaimana lagi. Aku lebih tertarik pada Niko. Dan pada saat itu pula, aku dan Niko resmi berpacaran.
Hari demi hari kulalui bersama Niko. Canda tawa menyelimuti keseharian kami berdua. Tetapi, semakin jauh kami melangkah, ada suatu keganjalan yang aku rasakan. Niko yang sebelumnya sangat perhatian dan ramah, kin berubah menjadi sosok yang tak mau perduli dan menganggap aku selalu salah dimatanya. Aku tak tahu mengapa ia menjadi seperti ini. Tapi disamping itu, ada Rafa yang selalu menguatkanku.
Suatu ketika Rafa menelponku. Ia mengatakan bahwa ia melihat Niko jalan berdua dengan seorang wanita. Aku terkejut mendengarnya. Apa benar yang dikatakan Rafa? Atau hanya siasat Rafa saja agar aku segera mengakhiri hubunganku dengan Niko?
“yang benar kamu Rafa? Masa sih Niko tega ngelakuin itu? Itu nggak mungkin, Rafa!” kataku.
“Aku serius, Rena! Aku melihat Niko jalan berdua dengan wanita lain. aku nggak bohong!” jawab Rafa.
“Ahh sudahlah! Aku nggak percaya sama kamu. Aku tau, kamu cinta sama aku. Tapi bukan begini caranya buat ngambil hati aku, Rafa!” ucapku lalu menutup telpon secara sepihak. Rafa pun bingung dengan apa yang kukatakan tadi.
Karena kejadian tersebut, aku dan Rafa sedikit menjauh. Aku kecewa padanya karena telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkanku. Aku tak suka itu.
Suatu hari, aku beserta teman-temanku yang lain sedang berada disebuah pusat perbelanjaan. Pada saat sedang asyik memilih pakaian, tiba-tiba aku melihat Niko. Dan benar, ia bersama wanita lain. segera aku mengikuti mereka dari belakang.
Lalu mereka berhenti disebuat tempat makan. Ku lihat mereka berdua sangat mesra. Tatapan mata Niko pada wanita itu sangat berbeda dengan tatapan matanya padaku. Aku sudah tak kuasa menahan amarah. Segera aku menghampiri mereka.
“Oh jadi begini kelakuan kamu dibelakang aku? Siapa perempuan ini? Pacar baru kamu? Tega kamu ya Niko sama aku!” kataku.
“e.... a.. aku bisa jelasin”
“jawab Niko! Ini siapa?!” potongku dengan sedikit menaikkan nada suaraku hingga seluruh pengunjung tertuju pada kami bertiga.
Setelah menarik nafas panjang, akhirnya Niko menjawab “ini pacar gue!”. Begitu terkejutnya aku ketika Niko mengatakan itu.
“Oh jadi bener selama ini lo selingkuh?!”
“iya, kenapa? Gue udah bosen sama lo! Mulai sekarang, kita putus!” ucap Niko.
“Putus? Baguslah kalau lo mutusin gue! thanks yah.. selamat deh buat hubungan lo sama cewe ini. Oh ya, buat lo, pacar barunya Niko! Selamat lo udah dapetin Niko. Siap-siap aja lo bakal ngerasain hal yang gue rasain sekarang!!” ujarku lalu meninggalkan mereka berdua.
Aku pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran. Disana aku meluapkan segala amarahku. Ternyata benar apa kata Rafa. Niko memang selingkuh dengan wanita lain. Aku tak menyangka ini terjadi. Dan mengapa aku sampai  tidak percaya dengan sahabatku sendiri? Ahh! Betapa bodohnya aku yang saat itu lebih memilih Niko. Aku benar-benar memilih pilihan yang salah.
Tiba-tiba kudengar suara derap langkah kaki, kemudian berhenti dibelakangku. Ku tengok ke belakang. Rafa. Ya, itu Rafa. Kemudian aku bangkit lalu memeluknya erat.
“udah-udah.. semuanya udah terjadi. Kamu nggak boleh kaya gini! Kamu harus kuat!” ucap Rafa menenangkanku.
“Maafin aku Rafa. Waktu itu aku nggak percaya sama kamu! Bodoh banget sih aku sampai nggak percaya sama kamu. Maafin aku Rafa” ujarku.
“udah nggak apa-apa. Semua udah terjadi. Sekarang kita ambil hikmahnya aja ya..”
Disitu aku ditemani oleh Rafa. Disaat aku bahagia, disitu ada Rafa. Disaat aku terpuruk, disitu pun ada Rafa. Rafa selalu ada untukku. Begitu bahagianya aku memiliki sahabat seperti dia. Mungkin kita berdua tidak berpacaran, karena aku masih tak berani mengambil keputusan untuk berpacaran. Tapi kita masih tetap bersahabat seperti dulu. Bagiku, sahabat jauh lebih berharga dari apapun.

Tamat.

0 komentar: