Pages

Namaku Jeje *part 1


*Namaku Jeje*

 

Namaku Jeje. Jeje, sebuah nama yang menurutku cukup simple. Tapi pada kenyataannya, kehidupan pemilik nama Jeje tak se- simple namanya. Ya, banyak sekali rintangan yang aku alami dalam kehidupan ini. Dari mulai urusan keluarga, sekolah, teman, sampai dunia percintaan.

“Julia Jelita Oktafiani” itu namaku. Segera aku mengangkat tangan ketika kak yushe, kakak pendamping MOS dikelas baruku menyebutkan nama tersebut saat sedang meng-absen anak-anak. Ini hari pertamaku mengikuti MOS di SMA Taruna Bangsa ini. Aku ditempatkan di kelas X5. Disini aku bertemu banyak anak yang menurutku wajahnya garang, menakutkan. Mungkin ini karena aku baru pertama bertemu dengan mereka. Walaupun begitu, mereka juga yang akan menjadi temanku nanti.

Selesai upacara pembukaan MOS 2012, semua anak kelas X masuk ke kelas masing-masing. Termasuk aku. Acara pertama didalam kelas adalah mengecek peralatan yang harus dibawa hari itu. Dengan garangnya, kak yushe dibantu dengan salah satu kakak senior lainnya membongkar isi tas karung yang dibawa hari itu. Setelah selesai, kita semua bermain games yang cukup seru, menurutku.

Selang beberapa menit setelah selesai pengecekan, ada kak cindy masuk dan memberitahu sesuatu.

“dek, kakak bawa salah satu teman kalian yang ga tertib. Sini kamu masuk!!” lalu anak yang dimaksud kak cindy itu masuk. Dia adalah anak dari kelas X3. “kemarin udah dikasih tau masuknya jam berapa dek?” tanya kak cindy.

“jam 6 kaaak..” jawab anak-anak.

“nah, teman kalian ini masuknya jam 8, hebat ya kan??” semua anak tertawa dengan tertahan. “sekarang kamu minta maaf sama mereka!!” ujar kak cindy pada anak itu.

“maaf teman-teman..” ucap anak itu. Kemudian kak yushe menegurnya.

“ya perkenalan dulu, baru minta maaf... gimana sih pernah diajarin sopan santun ga?” kata kak yushe dengan judas-nya. Ku lihat diraut wajah anak itu ada kekesalan yang cukup dalam. Kemudian ia mengulangi lagi.

“nama saya INDRAJAYA KUSUMA, dari kelas X3, saya minta maaf karena saya TERLAMBAT” tutur anak yang ku ketahui bernama Indra itu dengan menekan kata-katanya.

“minta maaf itu yang bener.. yang ikhlas!! Masa minta maaf kok sambil marah-marah gitu” sahut kak yushe.

Setelah menarik nafas panjang, indra mengulangi permintaan maafnya untuk ketiga kalinya. “huuuft... nama saya Indrajaya Kusuma, dari kelas X3, saya minta maaf karena saya terlambat... puas??”

“laah biasa aja si ngomongnya.. ga usah pake kaya gitu.. heeeh” jawab kak yushe dengan sedikit tertawa jengkel.

“lah kakaknya nyolot kok!!” jawab indra dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Kak yushe hanya diam dengan tatapan mata yang begitu tajam ke arah indra. Kemudian kak cindy datang dan mencairkan suasana.

“eh gimana kak udah dimaafin?” tanya kak cindy.

“udah, tinggal anak-anak ini kak...” jawab kak yushe dengan menunjuk anak-anak X5.

“gimana dek udah dimaafin??”

“udah kak..”

“bilang makasih ke kak yushe dan teman-temanmu!!” kata kak cindy.

“makasih kak.. makasih temen-temen” ujar indra lantas meninggalkan ruang kelas. Kemudian, suasana kelas yang semula tegang menjadi cair kembali.

Pukul 12 tepat, aku beserta teman-temanku yang muslim  segera menuju mushola untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur. Tiba-tiba ada salah satu anak yang memanggilku. Aku menengok padanya, aku tersenyum. Ia segera menghampiriku dan mengajakku untuk pergi bersama. Aku hanya ikut saja. Sempat aku berkenalan dengannya. Dia adalah silvana. Baru saja aku mengenalnya, tetapi kita berdua sudah begitu akrab.

Begitulah suasana pada saat hari MOS pertama. Begitupun pada hari kedua dan ketiga, suasananya tak jauh berbeda, bahkan lebih mengasyikkan dari ini.

*****

Sudah hampir 2 minggu aku bersekolah disini, tetapi suasana masih sedikit canggung. Mungkin karena belum terlalu kenal satu sama lain. tetapi lain dengan aku dan silvana, kita bahkan semakin akrab. Seiring berjalannya waktu, aku cukup mengenal satu persatu teman-teman sekelasku.

Pada saat jam istirahat, aku dan silvana memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah. Setelah membeli beberapa camilan dan minuman, kami berdua segera menuju kelas. Tetapi saat aku ingin kembali, aku ditabrak oleh salah seorang anak lelaki yang ada didepanku. alhasil, minuman yang kupegang tadi menumpahi bajuku dan menjadi kotor.

“eh maaf maaf!” ucap anak itu.

“yaelahh hati-hai dong kalo jalan!! Jalan ga lihat-lihat si... kotor nih jadinya!!” omelku pada anak itu. Ternyata ia adalah indra. Ya, yang waktu itu pernah berdebat dengan kak yushe dikelas pada saat MOS.

“yee kan gua udah minta maaf!! Ga sengaja.. lagian Cuma kotor dikit doang juga..” ujarnya.

“dikit lu bilang?? Lihat nih!! Kaya gini lu bilang dikit??”

“ya udah biasa aja kali, gua kan udah minta maaf..” jawab indra. Tanpa basa basi lagi, aku segera menuju kamar mandi dan membersihkan bajuku itu.

Sepulang sekolah, seperti biasa, aku menunggu jemputan didekat pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba dari belakang, indra memanggilku dengan nada suara yang tak biasa.

“heh lo!!”

“apa lagi?” tanyaku.

“lo kalo dendam ke gua ya ga usah kaya gini caranya!!” ujarnya dengan marah-marah.

“maksud lu apasih? Emang gue ngelakuin apa?” tanyaku tak mengerti.

“alaaah ga usah pura-pura.. pasti lo kan yang bikin ban motor gue kempes gitu?!! ngaku lo...” tuduhnya.

“hah??? Siapa juga yang ngempesin ban motor lo.. kurang kerjaan aja. Bukan gue kali!!” jawabku.

“trus siapa yang ngelakuin itu kalo bukan lo?! Kan gua Cuma ada masalah sama lo”

“ya gatau lah yang penting bukan gue!! jangan asal nuduh dong!!” jawabku lalu pergi, karena sedari tadi pak tarji sudah menungguku. Disitu, indra hanya diam dan masih memikirkan siapa yang sebenarnya melakukan itu.

Setelah sampai dirumah, kudengar ada keributan yang berasal dari dalam rumah. Pasti papa dan mama bertengkar lagi. entah sebenarnya apa yang mereka pertengkarkan. Selalu ada saja hal-hal yang dipertengkarkan. Hal sekecil apapun pasti dibahas dalam pertengkaran mereka. Tak pernah ku rasakan suasana rumah yang tenang, tentram, dan nyaman. Selalu ada pertengkaran dirumah ini. Pusing kepalaku memikirkan mereka.

Aku masuk ke dalam rumah, sengaja tak melewati pintu utama. Karena, jika aku melewati pintu itu, pasti aku akan mendengar papa dan mama yang bertengkar. Sudah muak aku dengan sikap mereka. Lalu aku melewati pintu samping dan menuju ke kamarku. Sejenak aku merebahkan tubuhku diatas kasur untuk melepas lelah.

*****

Keesokan harinya dikelas, aku mengobrol dengan teman-temanku karena guru mapel yang seharusnya mengajar pada saat itu belum datang. Padahal sudah hampir satu jam pelajaran, tetapi tak datang juga. Tiba-tiba ada pak agus, guru yang terkenal tertib disekolahku datang ke kelasku dan melihat suasana kelas yang ramai. Beliau marah-marah pada kami. Kami disitu hanya bisa diam dan menunduk. Lalu pak agus meminta salah satu dari kami ikut dengannya untuk mengambil buku di perpustakaan. Segera anak-anak menunjukku untuk ikut bersama pak agus. Kenapa harus aku? Lalu segera aku mengikuti pak agus dari belakang.

Setelah sampai diperpustakaan, aku diberi setumpuk buku yang lumayan tebal yang harus kubawa ke kelas. Dengan sedikit tergopoh-gopoh aku membawanya. Saat menuruni tangga, tiba-tiba kakiku terpeleset dan GUBRAAAK!! Aku jatuh dan tertimpa buku-buku yang kubawa tadi. Ku dengar ada suara yang menertawakanku. Indra. Ya itu indra. Ia menertawakanku. Kulihat diraut wajahnya begitu puas ia menertawakanku.

“eh lu, bukannya bantuin malah ngetawain kaya gitu!! duuh..” omelku dengan mengaduh kesakitan.

“hahahahaha... bodo amat!! Wkwkwk... makanya, jangan sok-sok an bawa setumpuk buku tebel-tebel kaya gini sendiri!! Haha...” ujar indra.

“yeeee bantuin napa!!!” pintaku.

‘hehe ya ya sini!!” indra mengulurkan tangannya. Akupun menerima uluran tangan darinya.

 Saat itu, sempat mata kita bersatu dan saling pandang. Jantungku berdegub begitu kencang. Sudah seperti akan balapan dengan paru-paru. Kulihat senyum terukir disudut bibirnya. Manis . ya, senyumnya begitu manis. Senyum itu? Senyum itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang selama ini mengisi hatiku. Tetapi kini seseorang itu telah tiada. Ia telah pergi entah kemana. Aku tak tau lagi. sudah beberapa tahun ini, ia menghilang. Senyum indra mirip dengan seseorang itu. Tetapi yang aku herankan, mengapa jantung ini berdegub sekencang ini? Apa ini yang namanya cinta? AAAAHHH... tidak mungkin aku cinta dengan indra. Ada ada saja. Sudahlah lupakan saja!!

 

Bersambung...

0 komentar: