Flashback!!
Senyum indra mirip dengan seseorang itu.
Tetapi yang aku herankan, mengapa jantung ini berdegub sekencang ini? Apa ini
yang namanya cinta? AAAAHHH... tidak mungkin aku cinta dengan indra. Ada ada
saja. Sudahlah lupakan saja!!
“eh emm gue ke kelas dulu ya! Bye” ujar indra
membuyarkan lamunanku.
“iya, thanks ya!” teriakku yang dibalas
dengan acungan jempol dari indra. Lalu akupun kembali membawa buku-buku itu ke
kelas.
This Part 2!!
Hampir 5 bulan sudah aku ada di SMA Taruna
Bangsa ini. Aku sudah cukup mengenal teman-temanku satu sama lain. bagaimana
dengan indra? Indra... emm aku semakin merasakan hal yang aneh di diriku ini.
Entah mengapa jika aku melihatnya, hati ini terasa nyaman dan rasanya selalu
ingin terbang. Itu saja ketika aku hanya melihatnya, apalagi jika aku
didekatnya. Wahh bisa terbang betulan aku. Memang, sampai saat ini aku belum
terlalu dekat dengannya. Tetapi aku cukup mengenalnya. Sayangnya, ia belum
terlalu mengenalku. Bahkan aku tak tau, apakah ia tau namaku atau tidak.
Saat itu aku dan teman-teman yang lain sedang
duduk ditaman depan kelasku. seperti biasa, disana aku bercanda bersama mereka,
mengobrol, saling tukar pikiran, informasi, dan sebagainya. Lalu tiba-tiba, aku
melihat indra keluar dari kelasnya dan menuju kantin sekolah. Disitu aku hanya
bisa memandanginya dari kejauhan dengan tersenyum tak jelas. Seperti apa yang
ku katakan tadi, aku serasa ingin terbang ketika melihatnya. Karena sedari tadi
aku senyum-senyum tak jelas, teman-temanku heran dan bingung.
“lu kenapa sih je, seneng amat
kelihatannya..” ujar asti.
“gapapa kok..” jawabku dengan masih
tersenyum. Kemudian silvana menengok dan ia melihat indra. Ia tersenyum.
“cie ciee..” kata silvana dengan
menyenggol-nyenggol tubuhku.
“apasih..” jawabku malu dengan muka memerah.
“ada apa sih? Ada siapa? Kasi tau doong..”
ujar aprilia penasaran. Aku dan silvana saling pandang. Kami berdua tersenyum
geli. Aku sengaja tak menjawab pertanyaan aprilia tadi. Karena aku tak ingin
ada orang lain yang tau tentang ini kecuali aku dan silvana. Tetapi aprilia dan
disusul oleh asti terus membujukku dan silvana agar mau memberi taunya. Kami
berdua terus saja diam. Tapi mereka berdua terus memaksa. Lalu silvana memberi
sedikit kode pada mereka. Ia melirik indra yang sedari tadi berdiri disamping pintu
kelasnya setelah selesai dari kantin. Aprilia dan asti mengikuti pandangan
silvana dan akhirnya mereka tau.
“ohh gue tau... jadi anak itu...” kata asti.
“siapa coba?” tanyaku memastikan.
“indra?” jawab asti dengan sedikit berbisik.
Aku hanya diam dan tersipu malu lalu menganggukkan kepalaku.
“eh tapi diem aja.. jangan bilang ke
siapa-siapa dulu!!” ujarku pada asti dan aprilia. Mereka berdua mengangguk.
“lo beneran suka sama indra?” tanya aprilia.
Aku menganggukkan kepala.
“kenapa bisa suka?” tanya asti.
“awalnya sih gue Cuma nganggep dia biasa aja.
Tapi waktu itu gue pernah lihat dia senyum ke gue, tepat didepan gue!! dan
senyumnya itu mirip banget sama seseorang yang dulu pernah gue sukai. Ya gatau
kenapa sampe sekarang, gue masih selalu kebayang-bayang senyumnya. Trus
akhirnya tumbuh dah tuh benih-benih cinta.. ceileee.. hehe. Awalnya gue Cuma
kagum, tapi sekarang perasaan itu semakin dalam. Ya udah beginilah jadinya. Gue
juga ga tau sih apa gue ini bener-bener suka ke dia atau Cuma gara-gara dia
mirip sama seseorang itu.. yang jelas, gue sayang sama dia” jelasku pada
mereka. Mereka mengangguk-angguk.
“eh tapi bentar, seseorang? Seseorang siapa
sih??” tanya aprilia.
“jadi gini.. dulu gue pernah kenal sama
seseorang. Namanya Radit. Dulu gue sempet satu sekolah sama dia waktu SMP. Dia
itu baik, lucu, asik, dan care banget
ke gue. dulu kita sering jalan bareng, ketemuan, bercanda bareng, pokoknya kita
selalu berdua. Gue bukan Cuma nganggep dia sebagai sahabat, tapi lebih dari
itu. Begitupun sebaliknya. Sempet dulu kita berdua pernah saling nyatain
perasaan masing-masing. Tapi waktu itu radit bilang ke gue kalo dia mau pergi
ke Australia. Akhirnya kita berdua Cuma bisa sahabatan. Meski itu bukan yang
kita harapkan, tapi seenggaknya kita berdua udah saling mengatakan apa yang
kita rasakan masing-masing. Beberapa hari kemudian, dia berangkat ke Australia.
Jujur, waktu itu gue sedih banget. tapi gue rela ngelepasin dia kalo emang itu
yang terbaik. 1-2 bulan kita berdua masih kontak-kontakan, tapi setelah itu
kita lost contact sampe saat ini.. tiba-tiba ga ada kabar, dihubungin ga
bisa, pokoknya bener-bener putus kontak. Gue ga tau sekarang dia ada dimana dan
gimana keadaannya. Sampe sekarang, gue masih sayang banget sama dia..” tuturku
panjang lebar.
“hemh... yang sabar ya! Kita tau perasaan
lo...” jawab silvana. Aku tersenyum.
*****
Keesokan harinya aprilia dan asti
menghampiriku. Seperti ada yang ingin mereka bicarakan padaku.
“eh je, gue mau ngomong sesuatu.. tapi lo
jangan marah ya” kata asti.
“ada apa sih?” tanyaku. Kemudian mereka
berdua menceritakan sesuatu itu. Setelah selesai mereka bercerita, kontan aku
kaget. Hati ini serasa ada yang menekan dengan sangat keras. Apa benar yang
mereka katakan? Apa benar indra juga menyukai salah satu anak kelas X5?? Tapi
siapa?
“emang siapa sih yang dia taksir?” tanyaku.
“kita sih ga tau pasti. Tapi dia pernah
bilang katanya cewe itu yang baru dia kenal. Kita ga tau siapa dia..” jawab
asti.
Aku diam. Memikirkan siapa sosok perempuan
yang bisa membuatnya jatuh hati. Apakah itu aku? Ahh tidak mungkin. PD sekali
aku ini. Tidak mungkin lah indra menyukaiku. Jelas-jelas dia mengatakan jika
perempuan itu adalah perempuan yang baru dikenalnya. Sedangkan ia, tidak
terlalu mengenalku. Jelas tidak mungkin jika itu aku!!
Seharian, didalam kelas aku hanya diam,
melamun, merenung, sudah seperti patung. Pelajaran yang dijelaskan oleh bapak
ibu guru pun tak ku perhatikan benar. Entah apa yang dijelaskan oleh mereka,
akupun tak tau. Aku masih memikirkan tentang siapa sosok wanita yang membuat
indra jatuh hati. Jujur, hatiku terasa kacau balau. Meski aku belum tau siapa
wanita itu, tapi aku sudah merasakan sakit yang begitu dalam.
Hari ini aku sengaja pulang tak bersama pak
tarji. Aku berjalan kaki menyusuri jalan. Tak tau tujuan dan arah. Entah
mengapa, aku ingin bersendiri dulu. Aku berjalan dan terus berjalan. Kemudian
sampailah aku disuatu tempat yang menurutku cocok untuk menyendiri sejenak.
Letaknya tak jauh dari sekolahku. Kembali ku termenung, memikirkan masalah hati
ini.
*****
Keesokan harinya sepulang sekolah, seperti
biasa aku menunggu jemputan didepan gerbang sekolah. Biasanya aku bersama
silvana. Tapi kali ini tidak. Tadi ia bilang padaku bahwa dia ada urusan.
Terpaksa aku menunggu sendiri. Apalagi dengan perasaan galau ini.
Disaat aku menunggu, tiba-tiba ku lihat dari
arah parkiran sekolah, keluarlah sebuah motor berwarna merah dan itu adalah
indra. Ya, itu indra. Tapi kulihat dibelakangnya, ada seorang wanita yang
membonceng motornya. Siapa dia? Apa dia yang dimaksud indra? Aku sungguh
penasaran dengan wanita itu. Lalu aku sedikit mendekat ke arah mereka berdua.
Dan setelah ku lihat, ternyata wanita itu adalah... silvana?? Hah?? Benarkah
itu silvana? Jadi selama ini silvana yang membuat indra jatuh hati? Sahabatku
sendiri?
Aku masih terpaku ditempat itu yang tak jauh
dari tempat motor indra berhenti. Aku masih tak percaya jika itu benar silvana.
Se-tega itu kah silvana padaku? Sahabatnya sendiri? TES.. air mataku menetes.
Silvana melihatku disana. Kontan ia langsung turun dari atas motor dan langsung
berlari ke arahku. Tapi sayang, aku sudah berlari jauh dari mereka berdua.
Menuju tempat kemarin, yang kukatakan cocok untuk menyendiri itu.
“AAAAAAAAAAAAAARGGGHHH... ya Tuhan, mengapa
harus silvana, sahabatku sendiri?? Aku tidak bisa menerima ini semuaaaa!!”
teriakku sekeras mungkin di tempat itu. Aku tertunduk lesu, seperti sudah tak
punya tenaga lagi. aku menangis dan terus menangis.
Tiba-tiba dari belakang ada yang memegang
pundakku. Aku menoleh. Kuperhatikan wajahnya dengan mata yang sedikit buram
dengan air mata, sepertinya dia.... radit?? Benarkah dia radit? Kemudian ia
duduk disampingku. Aku masih bingung. Ini siapa? Benarkah radit? Aku
mengucek-ngucek mataku, dan tak berubah, bahkan semakin jelas wajahnya, itu
radit.
“radit??” ucapku. Ia tersenyum, dan
menganggukkan kepala. “beneran ini radit??” ujarku tak percaya.
“iya jelek!!!” jawabnya dengan mengusap-usap
rambutku. Kontan aku langsung memeluknya. Aku sangat merindukan kehadirannya.
Akupun menangis dipelukannya. Perasaan ini campur aduk rasanya. Ada sedih dan
kecewa karena indra dan silvana, ada juga bahagia karena ada radit disini.
“eh aa’ kapan dateng??” tanyaku yang seakan
lupa dengan masalah indra tadi.
“barusan” jawab radit singkat.
“masa? Kok tau gitu aku ada disini?” tanyaku.
“lah kan rumah aa’ yang sekarang deket sini
neng..”
“ohehehe... aa’ itu kemana aja si? Udah lama
kita ga ketemu. Mana ga ada komunikasi lagi. huuuh.. bagaikan hilang ditelan
bumi tau ga!!!” tuturku dengan cemberut.
“jiah kata-katanya... hehe, iya maafin aa’ ya
neng, aa’ ga bermaksud menghilang, tapi aa’ pengen fokus dulu ke sekolah.
Bukannya aa’ ga mau ngasih kabar, tapi waktu itu aa’ udah ngirim pesan ke eneng
tp ga nyampe, maaf ya..”
“hemh.. iya deh iya, tapi jangan kaya gitu
lagi... aku ga mau!!”
“iya iya neng sayang.. hehe :D”
“trus aa’ pindah kesini?” tanyaku lagi.
“iya neng, rencananya aa’ mau pindah kesini
lagi. abisnya aa’ ga betah disana..” tuturnya.
“lah kenapa? Kan disana malah lebih bagus
daripada disini..”
“ga ada neng, ga enak... wkwkw”
“apasih a’... ga enak, emangnya makanan??”
“hehehe... udah ah, eh tadi kenapa
nangis-nangis kaya gitu? nangisin aa’ ya?? Hayoo ngaku... wkwkw ngga-ngga,
kenapa neng?”
“emm biasa lah..”
“biasa apa? Pasti gara-gara cowo ya? Sok atuh bilang siapa yang bikin neng
nangis kaya tadi, biar digencet nanti sama aa’.. sok bilang!!!” ujarnya dengan mengepalkan tangan.
“apasih.. udah ah!! Biarin aja”
“kok gitu? bilang atuh neng... emang
masalahnya apasih?” Kemudian aku menceritakan masalah sebenarnya. “hah?? Ada
yang mirip sama aa’? serius neng?” ujar radit tak percaya. Aku mengangguk.
“masa sih neng, satu sekolahan sama neng?”
“iya a’.. udah ah, eh aa’ mau pindah sekolah dimana?”
tanyaku.
“insyaallah di SMA Taruna Bangsa” jawab
radit.
“hah? Masa sih? Itu sekolah aku aa’......!!”
“yang bener?? Wah berarti nanti kita satu
sekolahan dong? Aseeeek.. hahaha”
“hahaha... iya..”
Untuk sementara ini, aku tak ingat lagi
dengan masalah indra dan silvana. Yang ada hanya aku yang bahagia dengan radit
disini. Aku bahagia dengannya. Yah, walaupun aku masih belum bisa melupakan
indra. Tapi setidaknya, radit telah menghapus kesedihan yang aku rasakan.
*****
Malam ini aku hanya duduk sendiri ditaman
belakang rumah. rumah ini bagaikan rumah kosong yang bertahun-tahun tak berpenghuni.
Sepi sekali. Bagaimana tidak. Papa dan mama selalu sibuk mengurusi pekerjaan
mereka masing-masing. Kak julio, kakakku, selalu pergi bersama teman-temannya.
Entah apa yang mereka kerjakan, aku tak tau. Dirumah aku hanya bersama bi narti
dan pak tarji. Tapi tetap saja mereka tak bisa menemaniku.
Kini aku kembali teringat pada indra.
Huuuh... aku tak tau lagi harus berbuat apa. Silvana sahabatku. Sakit sih
memang, tapi mau bagaimana lagi. toh aku bukan siapa-siapa mereka. Aku tidak
berhak untuk melarang mereka saling mencintai. Aku bukan Tuhan. Semua pasti
sudah diatur oleh yang di atas. Hmmmh..
“kriing kriiing...” seperti suara bel sepeda.
Pukul 22.00. Siapa sih malam-malam begini main sepeda? “kriing kriiing..” bel
sepeda itu terus berbunyi. Bahkan semakin kencang suaranya. Lalu akupun menuju
depan rumah untuk melihat siapa yang datang. Saat akan menuju pintu utama,
kulihat bi narti sudah memegang sapu dan segera menuju pintu utama pula.
Kulihat raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang kesal.
“lah bi, mau ngapain?” tanyaku pada bi narti.
“itu mau nimpuk orang didepan sono..
malam-malam gini kok masih main sepeda, berisik non!! Ganggu orang tidur aja..”
tutur bi narti kesal.
“ohehe.. udah-udah, aku aja yang ke depan bi”
“bener non? Ya udah, bibi ke dalem dulu ya,
ngantuk!”
“siip” lalu akupun melanjutkan langkahku
menuju pintu utama.
Setelah kubuka pintunya, kulihat didepan sana
ada seorang pria yang sedang menaiki sepedanya. Ia terus membunyikan bel
sepedanya. Sepertinya ia memanggilku. Tapi siapa? Malam-malam begini? Lalu
kucoba mendekatinya. Dan ternyata itu radit.
“lah? Aa’? ada apa? Malem-malem gini masih
main aja, pulang gih, tidur!!” ujarku.
“hehe.. iya neng nanti aja, aa’ masih pengen
main, neng, sepedahan yuk!” ajaknya.
“ga ah!! Udah malem a’..”
“gapapa, sekali-kali kek... yuk!! Aa’ bonceng
deh..”
“emmm.. ya udah deh, tapi bentar aja ya!”
“iya jelek!! Yuk ah”. Lalu akupun naik diatas
sepedanya. Tentu saja dibonceng oleh radit. Lalu kami berdua pun naik sepeda
berkeliling kompleks perumahan. Sungguh mengasyikkan. Kemudian kami pun
berhenti disalah satu taman dekat kompleks sana.
“hahaha... seru juga ya ternyata sepedahan
malem-malem gini!” ujarku sambil tertawa.
“hehe iya, seru sih seru.. tapi cape neng..
lagian neng makannya apasih? Berat banget.. huh” kata radit yang terlihat
lelah.
“haha.. masa sih berat? Orang langsing kaya
gini kok berat... aa’nya aja tuh yang ga kuat.. iya kan?!! Wkwkwk”
“yeeee langsing darimana.. gendut iya..
hahaha”
“iiih ngga tau.. ini mah langsing se-langsing
langsingnya..”
“langsing apaan, tuh makin kaya bapau tuh!!”
“aaaaaah ngga aa’..... ini bukan bapau!! Ini
udah kecil tauuuu...”
“kecil aja segini, gimana gedenya neng??
Wkwkwk”
“iiiiiiish ngeselin ni anak.... awas lu!!”
ujarku dengan cemberut.
“hahaha ngambek nih ceritanya?? Hahaha...
udah-udah, ngga ko ngga. Ngga kaya bapau.. Cuma mirip bapau aja.... haha”
“hhhhhhhrrgggghh....!!” akupun memukuli radit
yang sedari tadi menertawakanku.
“eh aduh aduh... iya ya ya ampun neng
ampun... haha, udah ya.. hehe iya ya, udah ah, oh ya, besok aa’ udah bisa masuk
sekolah loh..” ujar radit.
“trus?”
“ihh gitu amat neng”
“jiaaaah mulutnya manyun gitu... hahahaha
kaya bebek tauu!! Hahahahaha..” aku masih tertawa terpingkal-pingkal karena
melihat wajah radit yang lucu. Radit memandangiku dengan pandangan yang tak
biasa. Kontan aku menghentikan tawaku. “kenapa sih a’? ngeliatnya sampe kaya
gitu..” tanyaku.
“ngga, aa’ Cuma seneng aja ngeliat neng
ketawa lepas ga ada beban kaya tadi...”
“emmm.. iya” ujarku dengan tersenyum.
Malam ini terasa begitu indah. Ya tentu saja
karena kehadiran radit disini. Entah apa jadinya malam ini jika tak ada radit.
“oh ya neng, besok ke sekolah pake sepeda
yuk!” ajak radit.
“emm... oke!! Ya udah, pulang yuk udah
malem!!” kataku.
“iya, tapi gantian dong neng yang boncengin
aa’.. ya ya!!”
“hehe iya ya” lalu akupun naik didepan dan
memboncengkan radit. Huuh berat juga anak ini. Sampai-sampai aku sudah seperti
mandi keringat. Padahal malam ini dingin. Setelah sampai depan rumahku, akupun
turun dengan nafas yang masih tersendat-sendat karena kelelahan.
“haha segitunya neng,,, enteng kan??” tanya
radit.
“enteng apaan... berat a’...”
“hehe ya udah,impas kan?!! Heeh.. aa’ pulang
ya, malem jelek, jangan lupa langsung tidur ya!! Dadah..”
“iya aa’ juga ya... dadah” kemudian aku masuk
ke dalam rumah dan tidur.
*****
Pagi hari dengan semangat aku berangkat ke
sekolah. Pakaian sudah rapi, tas telah tergantung dipunggungku dan sepatu telah
terpasang di kedua kakiku. Aku melangkah menuju tempat pak tarji menyiapkan
sepedaku. Ya, seperti janjiku semalam, kali ini aku berangkat dengan menaiki
sepeda.
“tumben non mau pake sepeda..” kata pak
tarji.
“ehehehe iya pak! Ya sekali-kali boleh
lah...” jawabku santai.
“hehe iya non..”
“eh pak, semalem mama sama papa pulang ga?”
tanyaku.
“emm kayanya sih pulang non tapi malem
banget, abis itu balik lagi.. kayanya ga tidur di rumah non” tutur pak tarji.
“hmmmh.. ya udahlah biarin aja, mereka kan
emang super sibuk sampe lupa sama anaknya..” jawabku.
“sabar non..”
Sedang asyik bercengkerama dengan pak tarji,
tiba-tiba radit datang dengan menaiki sepedanya sambil terus membunyikan bel
sepedanya yang berisik itu.
“Assalamualaikum...”
“waalaikumsalam” jawabku bersamaan dengan pak
tarji.
“eh ada pak tarji.. pagi pak!”
“iya pagi juga mas..”
“eh ayuk berangkat neng! Udah siap kan
sepedanya?” tanya radit.
“iya udah kok, yuk!! Berangkat dulu ya pak..
assalamualaikum!”
“waalaikumsalam non, hati-hati..” lalu aku
dan radit pun berangkat bersama dengan mengendarai sepeda masing-masing.
Sesampainya disekolah, semua anak tertuju
pada kami berdua. Ya, terutama pada radit. Maklum, dia kan anak baru. Setelah
memparkirkan sepeda, kami berdua langsung menuju kelas. Sebelumnya aku
mengantarkan radit terlebih dahulu ke kantor kepala sekolah untuk menemui pak
Hasyim.
“aku ke kelas ya a’..” kataku.
“yah tungguin dong neng, masa aa’ sendirian
disini.. kan aa’ ga tau daerah sini..” ujarnya dengan muka memelas.
“jiah daerah, emang mau kemana bang?? Haha..
udah aa’ langsung masuk aja. Pak hasyim udah didalem kok. Lagian ini udah mau
bel, aku masuk duluan ya!”
“heeh.. ya udah deh iya, ya udah sana masuk
gih! Aa’ juga mau masuk nih”
“iya... dadah, sampe ketemu nanti!”
“iya bapau!!”
“aih.. L”
Saat didalam kelas, aku hanya diam. Sekalipun
ada silvana disampingku, tapi aku tetap diam dan tak menghiraukannya. Kemudian
datanglah pak hasan dengan diikuti radit dibelakangnya. Aku tersenyum. Ternyata
radit satu kelas denganku. Kemudian ia memperkenalkan diri, lalu duduk dibangku
kosong dibelakangku. Radit melirikku. Aku hanya tersenyum.
Jam istirahat tiba. Aku mengajak radit untuk
pergi ke kantin.
“kantin yuk a’..” ajakku.
“eh iya ayuk!! aa’ juga laper nih..” kemudian
kami berdua pergi ke kantin bersama.
Setelah memesan makanan dan minuman, aku dan
radit duduk disalah satu bangku di kantin tersebut.
“eh iya bentar, aku ke toilet dulu ya..”
kataku.
“iya..” lalu akupun pergi.
Dijalan, tiba-tiba aku dihadang oleh silvana.
Aku berusaha menghindarinya, tapi ia tetap saja menghadangku. Berkali-kali aku
ingin pergi, tapi ia menarik tanganku.
“lo ngapain sih sil, awas ah.. gue mau lewat”
ujarku.
“bentar, gue mau nanya... lo marah sama gue?
iya kan?” tanya silvana.
“ngapain mesti marah... gue ga marah”
“jangan bohong je, gue tau lo marah kan sama
gue?! gue tau gue salah.. maafin gue ya je, pliss”
“ngapain minta maaf sih, lo ga salah kok..
gue yang salah! Ngapain juga gue pake ngelarang lo buat pacaran sama indra.
Lagian itu kan hak lo mau suka sama siapa aja.. gue ga ada hak. Udah ya,
permisi..” ujarku.
“tunggu dulu je” kata silvana dengan menarik
tanganku. “sorry.. gue ga bermaksud nyakitin lo je... tapi gue..”
“udah gapapa, eh iya gue lupa... selamet yah,
semoga lo langgeng sama indra..” kemudian aku pergi meninggalkan silvana
disitu. Akupun kembali ke kantin.
Sesampainya dikantin, aku langsung duduk dan
diam. Radit yang melihatku begitu pun heran.
“neng kenapa sih? Dateng-dateng cemberut kaya
gitu.. ada apa?” tanya radit.
“ga ada apa-apa” jawabku singkat.
“ih gitu banget... kalo ga ada apa-apa kenapa
kaya gini? Ga kaya tadi..”
“lah emang ga ada apa-apa kok.. udah ah ga
usah dibahas!”
“ya udah deh iya.. eh ya, yang katanya mirip
sama aa’ itu mana orangnya neng?” tanya radit.
“indra maksudnya?”
“ya itu mungkin... mana mana?”
“emmm...” aku pun menengok kanan kiri mencari
indra. Biasanya pada saat jam istirahat pertama begini, ia ada di kantin
bersama teman-temannya. “nah itu itu...!!!” kataku sambil menunjuk-nunjuk ke
arah indra yang sedang makan.
“mana sih?”
“itu tuh yang lagi makan...”
“ohhhh... ko bisa mirip banget ya...” kata
radit dengan meraba-raba wajahnya.
“apasih segitunya.. udah ah!”
“ya kan emang mirip neng.. eh iya, ini kan
malam minggu, nanti malem jalan yuk neng!” ajak radit.
“kemana?”
“kemana aja boleh... ntar malem aa’ tunggu di
taman ya..”
“emm oke!! Hehe”
*****
Tinong tinong.... bel rumahku berbunyi.
Sepertinya ada orang didepan sana. Segera bi narti membukakan pintu.
“iya... eee siapa ya?” tanya bi narti setelah
melihat ada orang disana.
“oh saya indra, jeje nya ada bi?”
“eh ada ada... sebentar ya saya panggil
dulu... eh iya masuk dulu mas!”
“iya makasih bi” kemudian indra masuk dan
duduk di sofa. Lalu bi narti memanggilku dikamar.
Tok tok tok.. “non jeje, ada tamu!” teriak bi
narti dari luar kamarku. Kemudian aku membuka pintu kamarku.
“a’ radit ya bi??” tanyaku dengan wajah
sumringah.
“bukan!! Tadi katanya namanya itu.... indra
non!!” jawab bi narti. Indra? Buat apa ia kemari?. “eh non!! Malah ngelamun...
sana temuin gih! Kasian udah nunggu dari tadi..” kata bi narti.
“eh iya iya..” lalu akupun turun menuju ruang
tamu.
Sesampainya diruang tamu, kulihat indra
sedang duduk disana. Tapi ada yang aneh. Pakaiannya rapi sekali, sudah seperti
akan pergi ke suatu tempat.
“indra?” kataku tak percaya.
“iya... ini aku je” jawab indra.
“tumben banget, ada apa dra?” tanyaku.
“emm kamu ada acara ga malem ini? Kalo ga
ada, ikut aku yuk! Ada yang mau aku omongin ke kamu”
“soal silvana ya?” tebakku lalu menunduk.
“enggak... ini beda! Ini soal aku dan kamu!”
jawab indra.
“aku kamu? Sejak kapan lo ngomongnya pake aku
kamu? Hahaha... aneh lo ah!!”
“ah kelamaan, ayuk ahh!!” lalu indra menarik
tanganku. Dan dibawa lah aku ke suatu tempat. Tempat itu sangat indah. Tepat
didepanku, ada susunan dari bunga mawar putih dan membentuk sebuah hati. Aku begitu
terkejut melihatnya. Apa maksud indra dengan semua ini? Aku benar-benar tak
mengerti.
“maksud ini semua apa?” tanyaku tak mengerti.
Lalu indra meraih tanganku digenggamannya. Aku masih tak mengerti. Tatapan matanya
yang begitu dalam tertuju pada manik mataku.
“aku cinta sama kamu..” ucapnya. Apa? Indra mencintaiku?
Tidak mungkin. Ini sangat tidak mungkin. Bukankah indra adalah milik silvana? Lalu
mengapa ia melakukan ini? Ahh apa aku bermimpi?
“hah?? Lo cinta sama gue? ahh jangan bercanda
dra. Bukannya lo udah sama silvana?” tanyaku.
“ahh siapa bilang?! Gue ga ada apa-apa sama
silvana. Gue Cuma temenan biasa sama dia.. ohh atau jangan-jangan gara-gara ini
lo jadi menjauh dari gue?”. aku menganggukkan kepala. “ya ampuuun... sekali
lagi gue tekankan, gue ga ada apa-apa sama silvana!!”
“tapi kenapa kemaren-kemaren lo deket banget
sama silvana? Trus juga kata temen gue, lo lagi suka sama anak X5 juga..
iyakan? Trus siapa lagi kalo bukan silvana? Kan yang deket sama lo Cuma silvana..”
“ahahhaha... kemaren itu gue deket sama
silvana karena kita lagi ada kerja sama buat bikin ini semua, ya untuk lo
jeje!! Trus soal yang gue suka sama anak kelas X5, ya itu gue sukanya ya sama
lo je, bukan silvana! Ahh lu mah ga ngerti-ngerti...!!”
“ahh serius lo? Jadi ini semua?? Ahh sial!! Gua
ketipu dah...”
“trus gimana?”
“gimana apanya?”
“lo mau ga jadi cewe gue?”
“emmm...” aku terdiam. Aku tak tau harus
menjawab apa. Mengapa baru kali ini ia mengatakan itu? Kini sudah ada radit
disini. Jujur, aku masih sayang pada radit. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan
indra. Ia juga sudah ada dihati ini. Ahh bingung!! Apa harus aku membagi hatiku
untuk mereka berdua? Berdua? Radit dan indra? Radit? Hah?? Radit??
Astaghfirullah... aku lupa kalau malam ini aku ada janji dengannya!! Ahh mampus
aku, aku harus kesana!
“Astaghfirullah.. gue lupa kalo gue ada janji
sama seseorang!! Gue cabut dulu ya!!” kataku lantas meninggalkan tempat.
“tapi lo belum jawab pertanyaan gue je!!”
teriak indra.
“gue pikir-pikir dulu!!” jawabku seraya
berteriak dari kejauhan.
*****
Ditempat yang berbeda, radit sudah
menungguku. Dengan setangkai mawar di genggamannya, ia menungguku dengan resah.
Sudah hampir 1 jam ia menunggu ditempat itu, tapi aku tak kunjung datang.
Berkali-kali ia berusaha meneleponku, tapi percuma, aku tak membawa handphone.
Dua jam berlalu. Radit tampak sudah tak
semangat lagi. ia pun memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan tempat dengan
mawar digenggamannya yang sudah tampak tak begitu segar lagi.
“A’aaaaaaa!!” panggilku dari kejauhan. Radit menoleh
ke belakang. Segera aku berlari ke arah radit. Kulihat radit kembali sumringah.
“huuuft... maaf a’ aku lupa kalo ada aa’ disini!!” ujarku dengan nafas yang
hampir putus.
“iya gapapa” jawab radit singkat dengan
diberi sedikit senyuman disudut bibirnya. Kulihat, ia seperti menyembunyikan
sesuatu dibalik badannya.
“aa’ itu apa?” tanyaku penasaran.
“eh ngga ko, bukan apa-apa!” jawabnya sedikit
gugup.
“apasih?” akupun membalikkan badannya yang
lumayan besar secara paksa. “mawar? Ihh aa’ jahat deh.. bawa mawar ko ga
dikasihin ke aku?? Sini mawarnya!!” pintaku.
“jangan neng.. lagian udah layu juga!”
“ahh gapapa, aku mau mawar itu, sini!!”
“ihh si eneng..”
“eh iya, neng aa’ mau ngomong sesuatu!”
“ngomong aja a’..”
Radit mengenggam tanganku. Ditatapnya mataku
sedalam-dalamnya. Pandangannya tak luput dari mataku. Ia terus memangdangiku
dengan dalam.
“neng..”
“iya..”
“aa’ sayang sama neng..”
Aku hanya diam tak berkutik. Aku harus
menjawab apa? Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhku. Tanganku terasa
begitu dingin. Bagaimana ini? Tadi, indra pun mengatakan hal yang sama. Aku tak
tau harus menjawab apa. Ya Tuhan... tolong aku!!
“tangan neng kok dingin banget sih? Kenapa? Neng
sakit?” tanya radit. Aku menggelengkan kepala. “ohh aa’ tau.... udah neng ga
usah dipikirin! Aa’ bilang kaya tadi itu karena aa’ Cuma pingin neng tau gimana
perasaan aa’. Aa’ ga minta neng jadi pacar aa’ atau apalah itu. Aa’ Cuma pingin
ada dideket neng aja.. itu udah lebih dari cukup” tutur radit.
Aku terenyuh dengan apa yang dikatakan radit
tadi. Aku memeluknya erat.
“makasih aa’ udah mau ngerti aku...” kataku. Radit
merangkulku erat.
Tetapi aku masih bingung. Bagaimana dengan
indra? Ahh aku tidak tau harus berbuat apa!!
Bersambung..
nah gimana? gaje kan? hahaha... segitu dulu ya, kapan-kapan disambung lagi. eh ya, jangan anggep ini cerita nyata sepenuhnya, ya ada sih yang dari cerita nyata tapi ada juga yang direkayasa.. ya ini cuma buat seru-seruan aja kok.. hehe, ya udah, byeee.... :*
0 komentar:
Posting Komentar