Pages

Hotto Chokoreeto (Hot Chocolate) *2

#episode2
Karma



Aku memandangi satu persatu, sudut tiap sudut ruang kamarku. Ruangan sebesar ini hanya ada aku, kasur, meja, lemari, dan barang-barang Nenek yang sampai sekarang aku belum tahu bagaimana aku harus menggunakannya. Sepi, iya. Ini sepi sekali. Mengapa tiba-tiba aku teringat Nenek, ya. Ah andai saja Nenek ada disini. Tetapi sepertinya ini bukan karena tidak ada Nenek disini. Ini benar-benar sepi.
Tiba-tiba aku merasa ada angin yang menyentuh kulitku. Bagaimana bisa angin masuk ke dalam ruangan tertutup ini. Duh bulu kudukku mengapa berdiri semua? Aku jadi merasa aneh. Ah tidak-tidak! Ini hanya halusinasiku saja.

‘Kruuuuk..kruuuuk’ Hah?? Suara apa itu? Itu suara…. Ah ternyata perutku. Haaha sudah kubilang itu suara perutku, bukan apa-apa. Aku baru sadar kalau aku belum makan seharian. ‘Kruuueeeeuuuek’ Eh? Lagi? Iya-iya baiklah ayo kita makan cacing-cacingku. Tapi makan apa ya? Disini tidak ada makanan. Mau tidak mau aku harus membeli di luar kalau tidak ingin mati kelaparan.
Aku membuka pintu kamarku ini dengan sangat hati-hati. Dan kalian tahu apa yang terjadi setelah aku membuka pintu? Wuaa.. Gelap. Iya, ini sangat gelap. Kenapa ini bisa terjadi???  Ah ya ini karena lampu di depan sana mati dan belum diperbaiki. Aku harus positive thinking. Perlahan aku berjalan menuju kamar sebelah, kamar Shiori. Mudah-mudahan Dia belum makan agar aku bisa mengajaknya makan di luar.
‘Tok tok tok’ Aku mengetuk pintu kamar Shiori. Namun tidak ada jawaban. Kucoba ulangi lagi dan lagi. Akhirnya seseorang membukanya, dan..

“WUUUAAAAAA!!!!! S..si..siapa kamu?!!” Teriakku terkejut melihat sosok yang ada di balik pintu tersebut.

“Eh? Hei aku Shiori! Kamu kenapa, Yumi-chan?” Jawabnya.

“Shiori? Lalu kenapa wajahmu menjadi putih sekali seperti itu?” Tanyaku masih menutup mata.
“Ahahahaha ini masker. Aku sedang menggunaka masker. Kamu apa-apaan sih dengan masker begini saja takut. Hahahaha.”

Sial! Aku tertipu. Kukira itu hantu atau sejenisnya, ternyata Shiori. Ah anak ini benar-benar.

“Ada apa kamu mengetuk pintu kamarku?” Tanya Shiori dengan membersihkan maskernya.

“Anu… kamu sudah makan malam?” Tanyaku padanya. Kuharap kau menjawab ‘belum’. Semoga.

“Sudah. Memangnya kenapa?”

DUAARR! Tiba-tiba ada kembang api di dalam kepalaku. Lalu bagaimana dengan perutku???? Huaaaaaaaa!!

“Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja.” Jawabku menahan lapar.

“Tapi aku masih ingin makan sih. Kamu mau makan di luar denganku?”

Bingo!! Anak ini sungguh benar-benar teman sejati. Tahu kalau temannya ini sedang kelaparan. Iya aku mau Shiori, aku mau!

“Ah..haha apa tidak apa-apa makan dua kali dalam semalam?” Kataku basa basi.

“Ya itu juga kalau kamu mau sih. Sebenarnya aku tidak begitu lapar.”

APA? Mengapa Dia menjawab seperti itu??? Aku harus bagaimana?? Huaaaaaa!!!!

“Eh? Tapi makan dua kali juga tidak apa-apa kok.” Jawabku penuh harap.

“Hm.. baiklah, ayo kita makan! Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu.” Ujarnya. Aaaaa aku benar-benar ingin melompat sekarang juga. Akhirnyaaaaa…

Setelah siap, aku dan Shiori kemudian berangkat.

“Tunggu!” Ucap Shiori tiba-tiba. Pandangannya tertuju pada satu sudut halaman rumah kos. Karena penasaran, aku pun mengikuti arah pandangannya. Aku melihat sebuah benda di ujung sana. Terlihat samar karena disana gelap. Namun ada kilauan kecil pada benda tersebut karena terkena sedikit cahaya dari lampu tetangga. Itu.. seperti besi?

“Shiori-chan, jangan!” Bisikku. Namun Shiori tetap ingin kesana.

Kemudian aku dan Shiori berjalan perlahan menuju berda tersebut. Sebenarnya aku benci saat-saat seperti ini. Ini sudah gelap, namun ada saja yang misterius. Aku memegang baju Shiori dan mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai di tempat benda tersebut, Shiori menatapku. Eh? Mengapa tatapannya seperti itu? Perlahan kuberanikan diri untuk melihat apa yang ada di depan kami itu. Ketika aku membuka mata, ternyata..

“Kita naik sepeda ini saja!” Ucap Shiori sumringah. Ia seperti telah mendapatkan jackpot.

“Tapi.. ini punya siapa?” Tanyaku.

“Ini punya Kaoru-san. Ayo kita pakai ini saja!” Jawabnya. Lihat! Anak ini sudah naik ke atas sepeda saja. Shiori menunjuk ke belakang sepeda, mengisyaratkan aku harus naik.
Kemudian aku pun naik ke atas sepeda tersebut.

“Apa tidak apa-apa kita menggunakan sepeda ini? Apa lebih baik kita meminta ijin dulu dengan Kaoru-san?” Kataku ragu.

“Ah tidak apa-apa. Lagi pula Kaoru-san tidak ada, Dia belum pulang. Sudahlah ayo!”

“I..iya deh. Tapi hati-hati ya.” Ucapku.

“Tenang saja..” Jawab Shiori. Kemudian kami berdua pun berangkat dengan menaiki sepeda milik Kaoru-san tersebut.

Di tengah perjalanan  kami masih tidak tahu akan makan dimana. Padahal ada banyak sekali kedai makan disini, tetapi Shiori masih saja mengayuh pedalnya. Apa mungkin Dia lupa kalau kita akan makan? Ah lebih baik aku tanya saja.

“Shiori-chan..” Panggilku.

“Iya?”

“Kau tidak lupa kan kita akan kemana?” Tanyaku yang menahan lapar sejak tadi. Perutku saja sudah sangat kecil, sekecil paha personil SNSD. Iya, agak lebay memang. Tapi kalian tahu apa yang Shiori katakan?

“Kita akan jalan-jalan dengan sepeda ini kan?”

DIESHH!!! SHIIIOOORIIIII!!! Kauuu!!! Benar-benar.. Haaaiiish. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan anak ini.

“Bukannya kita akan makan?”

“Eh? Begitukah? Ya sudah kalau begitu… kita mau makan dimana?” Tanyanya. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Shiori sudah menjawab terlebih dahulu.

“Kita makan mie saja yuk! Aku tahu kedai mie paling enak disini.” Ujarnya. Tanpa aku menjawab dan tanpa pikir panjang, Ia langsung mengayuh pedalnya secepat kilat.

“Selamat datang….” Ucap pelayan kedai yang aku dan Shiori datangi. Akhirnya sampai juga aku di tempat yang mengerti keadaan perutku. Tapi…. Mengapa disini?

“Kau serius akan makan di tempat ini?” Tanyaku.

“Iya, memang kenapa?”

“Tidak apa-apa sih, tapi disini hanya kita berdua pelanggan perempuannya.” Aku melihat sekeliling kedai tersebut, ternyata isinya semua pria paruh baya. Apa-apaan ini?

“Ah tenang saja, ini adalah kedai langgananku. Nah, duduklah!”

Apa??? Shiori sudah berlangganan makan disini? Itu berarti…. Shiori hanya satu-satunya perempuan disini? TIDAAAAAKKK!!
Kami berdua memesan makanan. Duduk diantara pria paruh baya seperti ini membuatku merasa…. Ah lupakan hal itu! yang terpenting sekarang adalah aku bisa makan. Iya!

Setelah selesai, kami berdua pun bergegas pulang karena hari itu sudah sangat larut. Shiori mengayuh pedalnya sangat kencang. Bahkan rambutku yang semula rapih bagaikan Ibu-ibu pejabat, sekarang sudah seperti Singa dikeriting.

“Apa ini tidak terlalu kencang?” Tanyaku dengan berusaha mempertahankan posisi tubuhku agak tetap tegak.

“Supaya cepat sampai. Pegangan!” Shiori semakin cepat mengayuhnya.

Di tengah perjalanan pulang, kami melihat Jirou keluar dari sebuah Café. Ia tersenyum dan memanggil kami. Aku dan Shiori yang merasa mengenal anak itu, kami pun juga menyapanya.

“Hei!! Yumi-chan!! Shiori-chan!! Kalian dari mana??!!” Panggil Jirou dengan sedikit berteriak.

“Jirou-kun!!! Kami dari…. AAAAAAAAAKKKKHH!!”

Apa aku sudah mati? Dimana aku? Ah iya, ini masih di jalan yang tadi. Tapi.. mengapa aku duduk di tanah? Dan.. Shiori? Mana Shiori?
Aku melihat sekelilingku mencari keberadaan Shiori. Dan ternyata Ia sudah tiduran di tanah. Dan apa? Sepedanya mengapa Ia geletakkan begitu saja? Aku pun bangun dan menghampirinya.

“Hei Shiori-chan! Kenapa kau malah tidur disini? Ayo pulang! Ini sudah larut.”  Kataku.
Dengan tatapan aneh Shiori melihatku. Eh? Mengapa Ia menatapku seperti itu? apa ada yang salah denganku?

“Aku tidak tidur disini! Aku terjatuh!!!”

“APA????!!!”

“Cepat bantu aku bangun!” Kemudian aku menbantunya bangun. Kulihat sepeda Kaoru-san. Benar-benar… aku tidak sanggup melihatnya. Tiba-tiba Shiori menepuk-nepuk pundakku.

“Apa sih?” Kataku yang merasa terganggu karena tengah meratapi nasib sepeda yang kutumpangi tadi.

“Itu lihat ada siapa!” Bisik Shiori. Aku melihat ke arah orang tersebut dan ternyata…

“Kaoru-san?!!” Aku terkejut karena tiba-tiba Kaoru-san sudah ada di depan sepeda malangnya itu. Ia terlihat sangat terkejut. Perlahan Ia menatapku dan Shiori.

“Kaoru-san, tenang saja. Ini tidak apa-apa kok. Sepedanya baik-baik saja. Lihat!” Aku mengangkat sepedanya dan…

GLINDINGBRUAKKRAKBRUKE@$%&*^%$#@#%!

“Ehehehe kami akan perbaiki sepedanya. Tenanglah..” Ucapku.

“APA KAU BILANG?? TENANG?? INI BARU YANG NAMANYA TENAAANG!!!”

BUKBAKCIAATTBRAKKREKBSGFJHACKUJAHYGSTFCA@$#%&*^%%$#@%!


To be continued..

0 komentar: