Karma
Aku memandangi satu persatu, sudut
tiap sudut ruang kamarku. Ruangan sebesar ini hanya ada aku, kasur, meja,
lemari, dan barang-barang Nenek yang sampai sekarang aku belum tahu bagaimana
aku harus menggunakannya. Sepi, iya. Ini sepi sekali. Mengapa tiba-tiba aku
teringat Nenek, ya. Ah andai saja Nenek ada disini. Tetapi sepertinya ini bukan
karena tidak ada Nenek disini. Ini benar-benar sepi.
Tiba-tiba aku merasa ada angin yang
menyentuh kulitku. Bagaimana bisa angin masuk ke dalam ruangan tertutup ini.
Duh bulu kudukku mengapa berdiri semua? Aku jadi merasa aneh. Ah tidak-tidak!
Ini hanya halusinasiku saja.
‘Kruuuuk..kruuuuk’
Hah?? Suara apa itu? Itu suara…. Ah ternyata perutku. Haaha sudah kubilang itu
suara perutku, bukan apa-apa. Aku baru sadar kalau aku belum makan seharian. ‘Kruuueeeeuuuek’ Eh? Lagi? Iya-iya
baiklah ayo kita makan cacing-cacingku. Tapi makan apa ya? Disini tidak ada
makanan. Mau tidak mau aku harus membeli di luar kalau tidak ingin mati
kelaparan.
Aku membuka pintu kamarku ini
dengan sangat hati-hati. Dan kalian tahu apa yang terjadi setelah aku membuka
pintu? Wuaa.. Gelap. Iya, ini sangat gelap. Kenapa ini bisa terjadi??? Ah ya ini karena lampu di depan sana mati dan
belum diperbaiki. Aku harus positive
thinking. Perlahan aku berjalan menuju kamar sebelah, kamar Shiori.
Mudah-mudahan Dia belum makan agar aku bisa mengajaknya makan di luar.
‘Tok
tok tok’ Aku mengetuk pintu kamar Shiori. Namun tidak ada
jawaban. Kucoba ulangi lagi dan lagi. Akhirnya seseorang membukanya, dan..
“WUUUAAAAAA!!!!! S..si..siapa
kamu?!!” Teriakku terkejut melihat sosok yang ada di balik pintu tersebut.
“Eh? Hei aku Shiori! Kamu kenapa,
Yumi-chan?” Jawabnya.
“Shiori? Lalu kenapa wajahmu
menjadi putih sekali seperti itu?” Tanyaku masih menutup mata.
“Ahahahaha ini masker. Aku sedang
menggunaka masker. Kamu apa-apaan sih dengan masker begini saja takut.
Hahahaha.”
Sial! Aku tertipu. Kukira itu hantu
atau sejenisnya, ternyata Shiori. Ah anak ini benar-benar.
“Ada apa kamu mengetuk pintu
kamarku?” Tanya Shiori dengan membersihkan maskernya.
“Anu… kamu sudah makan malam?”
Tanyaku padanya. Kuharap kau menjawab ‘belum’. Semoga.
“Sudah. Memangnya kenapa?”
DUAARR! Tiba-tiba ada kembang api
di dalam kepalaku. Lalu bagaimana dengan perutku???? Huaaaaaaaa!!
“Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin
tahu saja.” Jawabku menahan lapar.
“Tapi aku masih ingin makan sih.
Kamu mau makan di luar denganku?”
Bingo!! Anak ini sungguh
benar-benar teman sejati. Tahu kalau temannya ini sedang kelaparan. Iya aku mau
Shiori, aku mau!
“Ah..haha apa tidak apa-apa makan
dua kali dalam semalam?” Kataku basa basi.
“Ya itu juga kalau kamu mau sih.
Sebenarnya aku tidak begitu lapar.”
APA? Mengapa Dia menjawab seperti
itu??? Aku harus bagaimana?? Huaaaaaa!!!!
“Eh? Tapi makan dua kali juga tidak
apa-apa kok.” Jawabku penuh harap.
“Hm.. baiklah, ayo kita makan!
Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu.” Ujarnya. Aaaaa aku benar-benar ingin
melompat sekarang juga. Akhirnyaaaaa…
Setelah siap, aku dan Shiori
kemudian berangkat.
“Tunggu!” Ucap Shiori tiba-tiba. Pandangannya
tertuju pada satu sudut halaman rumah kos. Karena penasaran, aku pun mengikuti
arah pandangannya. Aku melihat sebuah benda di ujung sana. Terlihat samar
karena disana gelap. Namun ada kilauan kecil pada benda tersebut karena terkena
sedikit cahaya dari lampu tetangga. Itu.. seperti besi?
“Shiori-chan, jangan!” Bisikku. Namun
Shiori tetap ingin kesana.
Kemudian aku dan Shiori berjalan
perlahan menuju berda tersebut. Sebenarnya aku benci saat-saat seperti ini. Ini
sudah gelap, namun ada saja yang misterius. Aku memegang baju Shiori dan
mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai di tempat benda
tersebut, Shiori menatapku. Eh? Mengapa tatapannya seperti itu? Perlahan kuberanikan
diri untuk melihat apa yang ada di depan kami itu. Ketika aku membuka mata,
ternyata..
“Kita naik sepeda ini saja!” Ucap
Shiori sumringah. Ia seperti telah mendapatkan jackpot.
“Tapi.. ini punya siapa?” Tanyaku.
“Ini punya Kaoru-san. Ayo kita
pakai ini saja!” Jawabnya. Lihat! Anak ini sudah naik ke atas sepeda saja.
Shiori menunjuk ke belakang sepeda, mengisyaratkan aku harus naik.
Kemudian aku pun naik ke atas
sepeda tersebut.
“Apa tidak apa-apa kita menggunakan
sepeda ini? Apa lebih baik kita meminta ijin dulu dengan Kaoru-san?” Kataku
ragu.
“Ah tidak apa-apa. Lagi pula
Kaoru-san tidak ada, Dia belum pulang. Sudahlah ayo!”
“I..iya deh. Tapi hati-hati ya.”
Ucapku.
“Tenang saja..” Jawab Shiori. Kemudian
kami berdua pun berangkat dengan menaiki sepeda milik Kaoru-san tersebut.
Di tengah perjalanan kami masih tidak tahu akan makan dimana. Padahal
ada banyak sekali kedai makan disini, tetapi Shiori masih saja mengayuh
pedalnya. Apa mungkin Dia lupa kalau kita akan makan? Ah lebih baik aku tanya saja.
“Shiori-chan..” Panggilku.
“Iya?”
“Kau tidak lupa kan kita akan
kemana?” Tanyaku yang menahan lapar sejak tadi. Perutku saja sudah sangat
kecil, sekecil paha personil SNSD. Iya, agak lebay memang. Tapi kalian tahu apa
yang Shiori katakan?
“Kita
akan jalan-jalan dengan sepeda ini kan?”
DIESHH!!! SHIIIOOORIIIII!!!
Kauuu!!! Benar-benar.. Haaaiiish. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan anak
ini.
“Bukannya kita akan makan?”
“Eh? Begitukah? Ya sudah kalau
begitu… kita mau makan dimana?” Tanyanya. Belum sempat aku menjawab
pertanyaannya, Shiori sudah menjawab terlebih dahulu.
“Kita makan mie saja yuk! Aku tahu
kedai mie paling enak disini.” Ujarnya. Tanpa aku menjawab dan tanpa pikir
panjang, Ia langsung mengayuh pedalnya secepat kilat.
“Selamat datang….” Ucap pelayan
kedai yang aku dan Shiori datangi. Akhirnya sampai juga aku di tempat yang mengerti
keadaan perutku. Tapi…. Mengapa disini?
“Kau serius akan makan di tempat
ini?” Tanyaku.
“Iya, memang kenapa?”
“Tidak apa-apa sih, tapi disini
hanya kita berdua pelanggan perempuannya.” Aku melihat sekeliling kedai
tersebut, ternyata isinya semua pria paruh baya. Apa-apaan ini?
“Ah tenang saja, ini adalah kedai
langgananku. Nah, duduklah!”
Apa??? Shiori sudah berlangganan
makan disini? Itu berarti…. Shiori hanya satu-satunya perempuan disini?
TIDAAAAAKKK!!
Kami berdua memesan makanan. Duduk diantara
pria paruh baya seperti ini membuatku merasa…. Ah lupakan hal itu! yang
terpenting sekarang adalah aku bisa makan. Iya!
Setelah selesai, kami berdua pun
bergegas pulang karena hari itu sudah sangat larut. Shiori mengayuh pedalnya
sangat kencang. Bahkan rambutku yang semula rapih bagaikan Ibu-ibu pejabat,
sekarang sudah seperti Singa dikeriting.
“Apa ini tidak terlalu kencang?”
Tanyaku dengan berusaha mempertahankan posisi tubuhku agak tetap tegak.
“Supaya cepat sampai. Pegangan!”
Shiori semakin cepat mengayuhnya.
Di tengah perjalanan pulang, kami
melihat Jirou keluar dari sebuah Café. Ia tersenyum dan memanggil kami. Aku dan
Shiori yang merasa mengenal anak itu, kami pun juga menyapanya.
“Hei!! Yumi-chan!! Shiori-chan!! Kalian
dari mana??!!” Panggil Jirou dengan sedikit berteriak.
“Jirou-kun!!! Kami dari….
AAAAAAAAAKKKKHH!!”
Apa aku sudah mati? Dimana aku? Ah iya,
ini masih di jalan yang tadi. Tapi.. mengapa aku duduk di tanah? Dan.. Shiori? Mana
Shiori?
Aku melihat sekelilingku mencari
keberadaan Shiori. Dan ternyata Ia sudah tiduran di tanah. Dan apa? Sepedanya
mengapa Ia geletakkan begitu saja? Aku pun bangun dan menghampirinya.
“Hei Shiori-chan! Kenapa kau malah
tidur disini? Ayo pulang! Ini sudah larut.” Kataku.
Dengan tatapan aneh Shiori
melihatku. Eh? Mengapa Ia menatapku seperti itu? apa ada yang salah denganku?
“Aku tidak tidur disini! Aku terjatuh!!!”
“APA????!!!”
“Cepat bantu aku bangun!” Kemudian
aku menbantunya bangun. Kulihat sepeda Kaoru-san. Benar-benar… aku tidak
sanggup melihatnya. Tiba-tiba Shiori menepuk-nepuk pundakku.
“Apa sih?” Kataku yang merasa
terganggu karena tengah meratapi nasib sepeda yang kutumpangi tadi.
“Itu lihat ada siapa!” Bisik Shiori.
Aku melihat ke arah orang tersebut dan ternyata…
“Kaoru-san?!!” Aku terkejut karena
tiba-tiba Kaoru-san sudah ada di depan sepeda malangnya itu. Ia terlihat sangat
terkejut. Perlahan Ia menatapku dan Shiori.
“Kaoru-san, tenang saja. Ini tidak
apa-apa kok. Sepedanya baik-baik saja. Lihat!” Aku mengangkat sepedanya dan…
GLINDINGBRUAKKRAKBRUKE@$%&*^%$#@#%!
“Ehehehe kami akan perbaiki
sepedanya. Tenanglah..” Ucapku.
“APA KAU BILANG?? TENANG?? INI BARU
YANG NAMANYA TENAAANG!!!”
BUKBAKCIAATTBRAKKREKBSGFJHACKUJAHYGSTFCA@$#%&*^%%$#@%!
To be
continued..
0 komentar:
Posting Komentar