#episode4
Masa lalu yang pahit
(Sudut
pandang, Akihiro Hiroshi)
“Terima kasih atas kerjasama-nya!”
Suasana malam kota metropolitan,
hampir tak ada bedanya dengan suasana pagi ataupun siang hari. Tetap ramai.
Hanya saja, langit berubah menjadi hitam. Aku berjalan menuju rumah, ingin
memberi waktu istirahat kepada tubuhku setelah seharian bekerja. Walau pada
akhirnya takkan ada waktu untuk memejamkan mata.
Akhirnya hari yang panjang ini
selesai. Bergaul dengan orang-orang kantor, berbicara, tertawa, bekerjasama,
sampai membicarakan orang lain pun ada. Dunia ini penuh dengan ‘Drama’. Banyak sekali pengkhianatan dan
dusta. Tersenyum di depan orang lain, namun pengkhianatan ada di dalam hatinya.
Sungguh pandai orang-orang ini.
Terkadang aku iri, mereka mempunyai
tujuan hidup yang jelas, keinginan yang kuat. Walau mereka menggunakan cara
yang salah, ada tujuan yang ingin dicapainya. Tidak sepertiku. Jika diberi
pertanyaan ‘Apa tujuan hidupmu?’ maka
aku tak akan bisa menjawabnya. Karena, aku tak mempunyai tujuan hidup. Tak ada
keinginan yang ingin kucapai.
Aku kosong. Bagaikan sebuah botol
kosong yang terombang-ambing di laut lepas. Aku bekerja bisa dikatakan hanya
untuk formalitas. Lalu, untuk apa aku hidup? Aku tak tahu harus menjawab apa.
Aku benar-benar kosong. Namun…
BRUAAK! Seorang perempuan, bukan,
lebih tepatnya gadis kecil menabrakku dan menumpahkan sesuatu yang sangat
kubenci.
“AAA PANAS!! Panas panas panas!” Teriakku
ketika kulitku terasa terbakar.
“Maaf! Maafkan saya. Saya benar-benar tidak
sengaja. Maafkan saya. Maafkan saya. Maafkan saya.” Ujarnya berkali-kali.
Terpaksa aku menghentikannya dengan meletakkan jari telunjukku di keningnya agar
Ia berhenti mengangguk.
“Hei, cukup.” Ucapku. Dia pun
mengangkat kepalanya dan sedikit tersenyum, seperti merasa bersalah.
Apa-apaan ini? Mengapa… mengapa
jantungku terasa sakit melihat senyum kecil itu?
Sejak saat itu, semuanya berubah…
Setelah berganti pakaian, aku lekas
melanjutkan pekerjaan yang telah memanggilku. Sepertinya baju itu akan kubuang
saja setelah tersentuh oleh sesuatu yang menjijikan seperti itu. Ah entahlah,
yang jelas aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini.
Tapi, sapu tangan itu.. Dimana aku
meletakkannya? Ah ya! Ternyata disini, di samping baju kotorku. Aku membuka
sapu tangan tersebut, dan ternyata..
“Akihiko.. Ichiro?” Apa ini?
Mengapa Ia memberikan sapu tangan ini kepadaku? Mana ada gambar dua hati juga?
Cih benar-benar menjijikan. Sepertinya ini bukan untukku. Sebaiknya aku segera
mengembalikannya. Ah tapi aku harus mengembalikannya kemana? Aku tak tahu
alamat rumahnya, nomor ponselnya, atau pun email-nya. Ya, akan ku kembalikan
ketika aku bertemu lagi dengannya. Sebaiknya kulanjutkan pekerjaanku.
Pukul tujuh pagi alarmku berbunyi.
Sebenarnya tak ada gunanya juga aku menyalakan alarm, karena aku tak punya
waktu untuk tidur. Pekerjaanku sudah selesai sejak pukul dua pagi tadi. Namun
setelah itu aku tak dapat tidur. Mungkin aku sudah terbiasa dengan bekerja
malam dan tidak tidur. Betapa menyedihkannya diriku.
Kini aku tengah bersiap pergi
bekerja. Aku cukup senang dengan pekerjaanku sebagai animator seperti sekarang.
Tak perlu memakai pakaian rapi. Memakai jas dan sepatu fantovel, aku tidak
butuh. Itu seperti bukan diriku. Cukup dengan kaos, celana panjang, dan sepatu
biasa itu baru diriku.
“Selamat pagi, Hiroshi-kun.”
Aku menengok ke arah sumber suara.
Kulihat disana, ternyata..
“Nobuko?”
“Apa kabar Hiro-kun? Ah sudah lama
aku tak kemari. Aku hampir lupa password
rumahmu. Kau akan pergi bekerja?” Nobuko duduk di sofa.
“Mau apa kau kesini?” Tanyaku.
“Ah jangan buru-buru. Ini baru
pukul delapan pagi, masih ada 30 menit untuk bersantai. Haaah aku haus sekali,
rumahmu terlalu jauh dari apartemenku. Aku akan ambil minuman. Kau mau minum?”
“Nobuko, cukup. Sebenarnya apa
maumu datang kemari? Aku tak punya waktu lagi untuk bermain denganmu.”
“Kau selalu terburu-buru, Hiro-kun.
Baiklah kalau itu maumu. Aku kemari hanya untuk memberimu ini.”
Nobuko memberiku sebuah undangan
pesta ulang tahunnya.
“Kau tidak lupa kan kalau minggu
depan aku genap berusia 24 tahun? Setelah kupikir, aku belum terlalu tua untuk
mengadakan pesta ulang tahun. Ku harap, kau akan datang.”
“Kalau hanya untuk ini kau kemari, lebih
baik kau tak usah kemari. Karena aku tidak akan datang.”
Aku menyerahkan kembali undangan
itu kepadanya.
“Ah kau tahu kalau itu sudah sangat
lama. Jangan-jangan kau masih belum punya pacar? Ahaha aku tahu kau belum bisa
lepas dariku. Baiklah kalau kau merasa akan sakit hati ketika datang kesana,
maka aku akan menarik perkataanku tadi.”
Apa? Dia meremehkanku? Dia pikir
aku masih belum bisa lepas darinya? Cih..
“Baiklah!”
“Eh?” Nobuko berbalik arah.
“Aku akan datang kesana. Akan
kubuktikan kalau aku bisa lepas darimu. Dan aku akan membawa… pacarku.” Ucapku.
“Baiklah, akan kutunggu. Sampai
jumpa minggu depan. Dah..” Kemudian Nobuko pergi. Sial!
Dia adalah Misaki Nobuko. Wanita
yang sekarang menjadi penyanyi terkenal itu adalah mantan pacarku. Sudah tujuh
tahun aku berpisah dengannya. Bukan karena Ia tidak cantik. Itu karena.. Dia
lebih menyukai Kakakku. Memang sudah lama kejadiannya, namun aku masih belum
bisa melupakan hari itu..
Flashback>>
“Maaf Hiro-kun, aku tidak bisa
pergi denganmu. Aku ada kelas musik sore ini. Maaf ya.” Ucap Nobuko ketika aku
menjemput ke rumahnya untuk pergi sore ini. Kami berdua sudah mempunyai janji
sejak satu minggu yang lalu. Tapi mungkin Dia sedang sibuk sekarang.
“Ah.. haha tak apa. Aku mengerti.
Mungkin lain kali saja, ya. Kalau begitu, sampai ketemu besok. Dah..”
“Baiklah. Dah..”
Kemudian aku berbalik arah dan
pergi. Tak apa, mungkin ini belum kesempatanku untuk kencan dengannya lagi.
Sore ini aku pergi ke kedai makan
milik pamanku. Aku sering sekali makan disana daripada kedai-kedai yang lain.
Selain makanannya yang memang enak, itu juga karena aku bisa makan dengan harga
murah disana, pas untuk kantong seorang anak SMA. Aku juga berencana untuk
mengajak Nobuko makan di kedai milik pamanku itu. Tapi mungkin lain kali saja.
Sesampainya aku di kedai, aku
langsung memesan paket makanan yang sudah menjadi favoritku. Kedai ini selalu
ramai oleh pengunjung. Banyak yang telah menjadi pelanggan tetap, dan beberapa
adalah pelanggan baru. Sembari menunggu pesananku datang, aku memutuskan untuk
berkeliling kedai. Sudah lama aku tidak melihat-lihat kedai ini. Terakhir kali
aku mengelilinginya waktu aku masih duduk di bangku SMP. Kira-kira apa ya yang
telah berubah dari kedai ini.
Ketika aku menyusuri ruang demi
ruang kedai tersebut, aku melihat di salah satu sisi ada sepasang muda-mudi
yang sedang makan bersama. Mereka terlihat sangat bahagia. Setelah ku
perhatikan, ternyata itu..
“Nobuko? Dan… Kakak?!” bagaikan
disambar petir aku melihatnya. Ada apa ini? Nobuko bilang kalau Dia ada kelas
musik sore ini, tapi sekarang pergi makan dengan Kakakku?
Dengan emosi seorang anak SMA, aku
menghampiri keduanya.
“Nobu-chan!” Panggilku.
“Hiro-kun??” Dia terlihat terkejut
setengah mati ketika melihat aku datang.
“Ah Hiro-kun! Kau datang? Wah
kebetulan sekali.” Ucap Kakakku tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Kakakku satu tahun lebih tua dariku.
“Hiro-kun, tunggu.. aku bisa
menjelaskan ini!” Kata Nobuko.
“Kamu bilang kalau ada kelas music
sore ini? Tapi sekarang, kamu pergi makan dengan Kakakku?”
“Ta..tapi..”
“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya
terjadi? Kenapa kamu memarahi Nobu-chan? Dan kelas musik? Ada apa sih?” Tanya
Kakakku.
“Tadi aku ke rumah Nobu-chan untuk
ku ajak pergi bersama, aku sudah membuat janji lebih dulu dengannya. Tapi Dia
bilang kalau akan ada kelas musik sore ini, jadi Dia tidak bisa pergi. Dan
sekarang Dia tengah bersamamu! Kau tahu kan kalau Nobuko ada pacarku?!” Aku
naik darah karena ulah Nobuko.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau
Dia sudah ada janji denganmu! Kalau aku tahu, aku tidak akan ajak Dia pergi
makan.”
“Halah.. tak usah membual! Aku
tahu, kau..”
“CUKUP HIRO-KUN!!!” Teriak Nobuko
memekakkan telinga pengunjung yang lain. “Sudah cukup, jangan menyalahkan
Kakakmu! Ini salahku. Sejak awal memang aku yang salah. Aku… sebenarnya…
menyukai… Kakakmu.” Ucap Nobuko.
Kakakku terlihat sangat terkejut
dengan apa yang dikatakan Nobuko. Sejak awal aku sudah tahu bahwa Nobuko
menyukai Kakakku. Itu terlihat dari sikapnya ketika bertemu dengan Kakakku.
“Kau.. kau menyukaiku?” Tanya
Kakakku masih tidak percaya. Nobuko mengangguk.
“Baiklah..” ucapku. “Lebih baik
kita akhiri saja hubungan ini, Nobuko. Sejak awal aku sudah tahu kalau kau
menyukai Kakakku. Mungkin aku saja yang terlalu percaya diri, menganggapmu
telah mencintaiku sepenuhnya. Ternyata aku salah..”
<<<<
Sejak saat itu, aku tak lagi
berhubungan dengan Nobuko. Sama sekali tak pernah. Bahkan sekalipun aku bertemu
dengannya, aku tak pernah menganggapnya lagi. Sudah cukup sakit hati ini. Aku
pun tak peduli dengan apa yang dilakukannya di luar sana.
Malam ini aku kembali ke rumah
dengan tubuh yang sangat lelah. Mungkin ini akibat kemarin aku tidak tidur sama
sekali. Berjalan menuju rumah pun sampai terkantuk-kantuk. Benar-benar lelah.
Tiba-tiba ‘BRAAKK!!’ lagi-lagi
seseorang menabrakku dan menumpahkan coklat panas di pakaianku. Siapa lagi sih?
Ternyata gadis cokelat panas itu.
lagi-lagi Dia..
“Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tidak
sengaja.” Ucapnya menunduk.
“Kau gadis cokelat panas itu kan?
Kau lagi?”
“Eh? Kamu?? Ah maafkan saya! Saya
benar-benar salah, maafkan saya. Tetapi.. apakah Kamu masih menyimpan sapu
tanganku waktu itu?”
Apa-apaan ini? Gadis ini tidak
memerdulikan tubuhku yang tersiram cokelat panas ini malah menanyakan tentang
sapu tangan itu.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Bolehkah… Saya memintanya kembali?
Te..tenang saja, akan saya gantikan dengan yang baru.” Ucapnya.
“Kau hanya mengkhawatirkan sapu
tangan itu? hh.. lucu. Benar-benar lucu. Kau tahu panasnya tubuhku ketika kau
menumpahkan cokelat panas itu? Dan sekarang kau hanya ingin sapu tangan itu
kembali? Tidak semudah itu!!”
“Tapi..”
“Awalnya aku berniat akan
mengembalikannya, tapi setelah kau menumpahkan cokelat panas lagi ke tubuhku,
aku mengurungkan niatku.” Ucapku.
“Tolong.. Tolong kembalikan sapu
tangan itu. Saya benar-benar minta maaf. Saya akan lakukan apapun agar sapu
tangan itu kembali. Saya mohon!” Ujarnya dengan membungkuk-bungkukkan badannya
di depanku.
“Kau pikir aku akan tersentuh?
Tidak akan!”
“Tapi aku benar-benar menginginkan
sapu tangan itu kembali.”
Setelah dilihat-lihat, anak ini
tidak terlalu buruk. Ah ya, aku akan memanfaatkannya. Lihat saja!
“Kau mau sapu tangan ini?” Tanyaku
dengan menunjukkan sapu tangan yang diinginkannya.
“Iya, benar. Akan kulakukan apapun
untukmu, tapi tolong kembalikan.”
“Apapun?”
“Iya, apapun.”
“Hmm.. baiklah aku akan
memberikannya padamu. Tetapi, ada syaratnya.”
“Syarat?”
“Huaaahahahahaha tunggu saja
tanggal mainnya.” Ucapku lalu pergi.
To be continued..
0 komentar:
Posting Komentar