#episode1
Permulaan
Mentari telah terbangun dari
peraduan. Sinar cerahnya menghangatkan seluruh kehidupan di bumi. Daun-daun
menari seirama dengan hebusan angin sejuk itu. Dari atas pohon, terdengar
nyanyian burung yang indah. Suara gemercik air sungai di samping rumah membuat
nyaman orang-orang yang melewatinya.
Hari itu aku tengah bersiap menuju
Tokyo. Dua buah koper super besar telahku siapkan sejak dua hari yang lalu.
Berbagai macam barang kesayanganku telah tertata rapih di dalam koper tersebut.
Yamamoto, Nenek yang telah merawatku sejak kecil, Ia pun ikut sibuk dengan
keberangkatan cucu kesayangannya ini. Bahkan Paman dan Bibi tak kalah sibuknya
dengan kami.
"Nenek, apa lagi yang harus Yumi
bawa? Hm.. Apa lagi ya yang kurang?" Ucapku sembari memeriksa kembali
barang bawaanku.
Setelah dirasa sudah siap, aku berpamitan
dengan Nenek, Paman, Bibi, dan saudara-saudaraku karena Shinkasen yang nanti
kutumpangi akan segera berangkat.
"Nenek, Paman, Bibi,
Megumi-chan, Mieko-chan, jaga diri kalian baik-baik, ya. Terima kasih karena
selama ini kalian sudah merawatku. Aku janji, aku akan sekolah dengan
sungguh-sungguh disana. Terima kasih semuanya." Tuturku penuh haru.
"Kamu juga jaga diri disana,
ya. Jadilah anak yang baik disana." Ucap Nenek.
"Yumi-chan, kalau ada apa-apa
jangan sungkan untuk kemari. Kami semua disini akan selalu membantumu. Jaga
diri, ya." Ucap Yamasaki, Pamanku.
"Iya, terima kasih semuanya.
Kalau begitu.. Aku berangkat. Daahh.."
Shinkasen yang mengantarku menuju
Tokyo melaju dengan sangat cepat. Ini kali pertamanya aku bepergian sendiri.
Selama ini aku selalu ditemani orang-orang yang sangat menyayangiku. Apa aku
bisa tinggal sendiri? Hah! memikirkannya saja sudah membuatku takut.
“Ini kunci kamarnya. Selamat
beristirahat.” Ucap Taeko-san ramah kepadaku. Pemilik dari rumah kos yang akan
kutempati selama di Tokyo. Suasana disini sejuk sekali, ya mungkin karena
tanaman-tanaman yang ada di halaman depan itu. Dari luar, tempat ini kelihatan
bersih dan rapih. Meski berada di kota se-modern ini, gaya rumah tradisional
Jepang tetap digunakan. Kamarnya juga tidak terlalu kecil. Cukup besar untuk
ditinggali satu orang.
‘Tok
tok tok’ Sepertinya ada yang datang. Siapa ya? Coba
kulihat..
“Hai.. Penghuni baru, ya? Salam
kenal, aku Katsumi Shiori.” Ucap orang itu dengan penuh semangat.
“Iya, benar. Aku Manami Yumiko.
Senang berkenalan dengan kamu.” Jawabku dengan penuh semangat pula.
“Eum.. Ada yang bisa aku bantu tidak?
Kelihatannya kamu bawa barang banyak?”
“Ah tidak, terima kasih. Tidak
banyak kok, jadi masih bisa aku atasi sendiri.”
“Begitu, ya. Ya sudah, kalau nanti
ada apa-apa panggil saja aku. Aku ada di kamar sebelah.” Tuturnya dengan
menunjukkan kamar yang ditempatinya.
“Ah iya. Terima kasih.” Jawabku. Kemudian
Shiori kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar aku mengeluarkan
semua barangku dan akan kutata di ruangan tersebut. Gila! Sepertinya aku sudah
gila. Aku baru sadar kalau barang bawaanku banyak sekali. Bahkan banyak barang
yang sepertinya aku tidak merasa memasukkannya ke dalam koper. Nenek, pasti
Nenek yang memasukkannya. Haaah buat apa ini? Ini? Guci? Buat apa aku membawa
guci? Dan ini? Panci? Haaah aku tidak suka memasak. Lagi pula tidak ada
kompornya, bagaimana bisa aku memasak. Apa-apaan ini?
Hari sudah semakin malam, perlahan
aku mengenal satu persatu penghuni rumah kos tersebut. Diantaranya banyak yang
sudah lama tinggal disini, dengan kata lain mereka adalah Seniorku. Namun ada
beberapa juga yang setingkat denganku. Disitu pun kami mengobrol hingga larut
malam.
‘Kriiiiiiing..
Kriiiiiiiing.. Kriiiiiiiing’ “Suara jam weker itu
berisik sekali! Tidak lihat ada orang tidur?” Ucapku sembari mematikan jam
weker tersebut.
Kulihat disana jam menunjukkan
pukul 07.15. Oh.. jam se.. Apa??? 07.15?! Gawat! Aku terlambat!!! HAAAAAAAAAA!!
Aku buru-buru menuju kamar mandi kemudian bersiap pergi ke kampus. Sial! Ini baru
hari pertama ospek tetapi aku sudah terlambat. Manusia macam apa aku ini?
Aku pun berlari menuju kampusku,
untungnya dari rumah kos-ku ke kampus dengan berlari hanya memakan waktu 10
menit. Tapi 10 menit juga sudah terlambat!! WUAAA!.
Mati aku! Sudah dimulai upacara
pembukaannya. Aku harus bagaimana? Kalau aku pulang, masa baru hari pertama sudah
bolos? Tapi kalau aku masuk kesana, itu berarti aku masuk ke kandang macan. Bagaimana
ini? Ah! Aku punya akal. Aku hanya perlu berjalan perlahan, menyusup di antara
barisan dan diam disitu. Iya, benar! Aku memang sangat jenius.
Aku pun berjalan perlahan menuju
tempat upacara itu. Melakukan apa yang telah kurencanakan dalam otak jeniusku
ini. Eh? Apa ini? Bajuku kenapa tersangkut? Aduh kenapa susah sekali diambil. Ini
kenap… apa? T..Ternyata…
“Hehehe Senpai (senior). Senang bertemu dengan Anda.”
Ucapku gugup namun kupaksa untuk tersenyum. Mati! Bajuku tersangkut tangan Seniorku.
Aduh… Aku pun ditarik dan disuruh berbaris di samping para Seniorku.
Setelah upacara selesai, aku
ditarik menuju podium. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku di
depan ratusan, eh mungkin ribuan orang di depanku ini. Saat Senior akan
memberiku sanksi, tiba-tiba ada satu anak lagi yang terlambat. Apa dia gila? Datang
setelah upacara selesai? hh.. masih mending aku dong.
“Oh rupanya ada satu lagi anak
rajinnya, ya? Kesini.. naik kesini!” Ujar Seniorku. Anak itu pun melakukan apa
yang dikatakan Senior. Habislah kami disitu.
Banyak sekali tugas yang harus
kukerjakan bersama dengan anak yang terlambat tadi. Dan tugas terakhir untuk
hari ini adalah membersihkan seluruh kampus. Terima kasih, Senpai.
“Membersihkan seluruh kampus? Hah
yang benar saja? Mereka pikir kampus ini hanya berukuran 10 x 10 meter? Haah sial!”
Gumam anak itu. Sejak tadi Dia tidak membersihkannya dengan benar namun hanya
bergumam saja. Apa-apaan anak itu? Huh.
“Hei, kau! Kau seharusnya protes
tadi kepada senior-senior itu. Kenapa malah diam saja sih? Apa kau senang kalau
bekerja paksa seperti ini? Hah? Hei! Aku berbicara denganmu!” Ucapnya dengan
kesal.
Aku melihat ke arahnya dan
tersenyum kepadanya. “Kalau kau terus mengoceh seperti itu, pekerjaan ini tidak
akan selesai. Toh ini kan salah kita sendiri, kenapa juga terlambat. Sebaiknya kerjakan
saja pekerjaanmu, aku juga mengerjakan pekerjaanku. Biar cepat selesai.”
Tuturku sambil membersihkan lantai.
Ada apa dengan anak itu? Kenapa setelah
aku melihat ke arahnya dan berbicara padanya, anak itu terlihat… gugup? Hah entahlah
yang penting pekerjaan ini cepat selesai.
Setelah semuanya selesai, aku
bergegas untuk pulang karena matahari sudah akan bersembunyi kembali.
“Hei, kau.. kau pulang ke arah
mana?” Tanya anak itu.
“Aku? Eh? Aku ke arah ****. Ada apa?”
“Kalau begitu kita pulang bersama,
tempat tinggalku juga di daerah sana.” Tuturnya. Aku meng-iya-kan saja apa
katanya.
“Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Izanagi
Jirou.”
“Manami Yumiko.”
Kami berjalan perlahan menikmati
suasana kota Tokyo di sore hari. Jirou, Ia tak henti-hentinya berbicara. Ada saja
yang Ia bicarakan. Namun kurasa anak itu, anak yang baik.
Hari benar-benar menjadi hari yang
sangat melelahkan. Permulaannya saja sudah seperti ini, bagaimana nanti? Ah entahlah..
apapun yang terjadi nanti, aku harus menghadapinya. Semoga semuanya akan
berjalan sesuai dengan harapan. Yosh! Semangat!!! Eh? Tunggu sebentar, kenapa
anak ini terus-terusan berbicara sih? Makan apa Dia pagi ini? Ah benar-benar.
to be continued..
0 komentar:
Posting Komentar