Pages

Hotto Chokoreeto (Hot Chocolate) *3


Assalamu'alaikum Minna-san.. Sebelumnya Din mau mengucapkan SELAMAT, OMEDETOU, CONGRATS buat Abang Take dan seluruh crew dorama Tenno no Ryoriban (Emperor's Cook) yang mendapatkan 6 dari 8 penghargaan di Drama Academy Awards 85th. Khususnya selamat untuk Abang Take yang meraih penghargaan kategori 'Aktor terbaik'. WUUUUAAAA sekali lagi OMEDETOU!!!! 





#episode3
Cokelat panas



Indah, benar-benar indah. Matanya, hidungnya, lekukan bibirnya, rambutnya, badannya, ah.. semuanya benar-benar indah. Akihiko Ichiro, seorang aktor yang sangat terkenal bukan hanya di Jepang, namun namanya sudah sampai ke Manca Negara. Parasnya yang tampan telah membius ribuan orang di luar sana. Namun Ia bukan seorang aktor yang hanya menjual tampang, aktor tampan ini telah membintangi berbagai judul drama dan film bahkan Ia pernah mencoba terjun ke dunia tarik suara. Tidak heran lagi jika banyak perempuan tertarik padanya.


Termasuk aku. Aku adalah penggemar berat Akihiko Ichiro. Aku mulai menyukainya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jika kalian melihat isi kamarku di rumah Nenek sana, kalian akan terbawa ke dalam dunia Akihiko Ichiro. Dinding kamarku bahkan hampir tidak terlihat karena kututupi dengan poster-poster Akihiko Ichiro. Bahkan aku telah menabung sejak aku berada di sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas untuk membeli tiket agar bisa bertemu dengan idolaku itu.

Perjuanganku pun tidak sia-sia karena aku berhasil membeli sebuah tiket Meet and Greet bersama Akihiko Ichiro. Acaranya akan dimulai minggu depan, tepatnya hari sabtu. Wuaa aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengannya. Seperti apa ya Dia kalau dilihat secara langsung? Pasti jauh lebih tampan. Bahkan aku sudah mempersiapkan hadiah untuknya. Sebuah sapu tangan dengan sulaman nama dan dua buah hati karya tanganku sendiri. Tidak seberapa memang, namun semoga Ia terkesan dengan hadiah ini. Yah walaupun aku tak yakin bisa memberikannya langsung.

‘JGREEEKK’ tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Ternyata Shiori yang masuk. Huh kukira siapa yang datang.

“Eh? Ka..kau kenapa cium-cium poster itu?”

Ah!! Aku baru sadar kalau aku tengah mencium poster Akihiko Ichiro. Aduh betapa malunya aku. Lagian Shiori kenapa muncul tiba-tiba sih? Bikin kaget saja.

“Ah? Ahaha tidak, tidak apa-apa kok. Aku hanya membersihkannya.. Lihat! Banyak debu kan? Hehe.” Huuuh untung aku bisa mencari alasan agar Ia tidak mengira aku orang yang aneh. “Oh ya, ada apa kau kesini?” Tanyaku.

Shiori duduk dengan lesu di depanku. Ada apa dengannya? Sepertinya ada yang tidak beres.

“Aku bingung.. Bagaimana caranya supaya bisa dapat uang tambahan?” Ucapnya.

“Uang tambahan? Untuk apa? Apa uang sakumu masih kurang?” Tanyaku sambil membereskan kamar yang berantakan ini.

“Kemarin uang sakuku kugunakan untuk memperbaiki sepeda Kaoru-san. Sekarang, uang sakuku menipis. Bisa-bisa aku tidak sampai akhir bulan ini.” Tuturnya dengan ekspresi menyedihkan.

Benar juga yang dikatakan Shiori. Kemarin aku dan Dia patungan untuk memperbaiki sepeda Kaoru-san. Uang sakuku juga menipis sih.

“Benar juga apa katamu. Lalu kita harus bagaimana?”

Aku dan Shiori berpikir untuk menemukan jalan keluarnya. Kami benar-benar berpikir dengan keras sampai berguling-guling di lantai. Lompat kesana, lompat kesini. Banting sana, banting sini, koprol, jumpalitan. Oke, itu lebay.

Dan akhirnya.. “AH!!! Aku punya ide!!” Teriak Shiori tiba-tiba. Aku siap-siap untuk mendengarkan ide yang didapatnya.

“Bagaimana kalau kita bekerja?” Ucapnya.

“Kerja? Mau kerja apa?”

“Apa saja, kita kerja part time. Kan lumayan penghasilannya bisa untuk menambah uang saku kita.” Tuturnya dengan bangga.

Hmm.. ide yang diberikan Shiori tidak terlalu buruk. Mungkin kita bisa bekerja di kedai atau mini market atau toko-toko lainnya. Akhirnya aku dan Shiori pun sepakat untuk mencari pekerjaan setelah pulang kuliah nanti.


Hari ini sudah sore, bahkan menjelang petang. Aku bergegas pergi mencari pekerjaan. Shiori sudah pergi terlebih dahulu karena Dia sudah selesai lebih dulu.

“Hei, Yumi-chan!!” Aku menengok ke arah suara yang memanggilku. Ada Jirou disana. Ia berlari ke arahku. Sepertinya Ia juga baru selesai kuliah. “Mau kemana? Pulang bersama, yuk!” Ucapnya kemudian.

“Ah maaf, aku masih ada urusan. Pulang bersamanya ditunda dulu, ya.” Jawabku.

“Urusan apa? Kau mau kemana memangnya?”

“Aku.. Aku mau cari pekerjaan.”

“Apa? Kau mau kerja? Dimana? Untuk apa kau bekerja?” Tanyanya beruntun.

“Aku juga belum tahu akan bekerja dimana. Yaaah untuk tambahan saja, aku merasa tidak enak dengan Nenekku kalau terus-terusan minta uang padanya.”

Disitu kami masih mengobrol sambil berjalan. Hingga pada akhirnya Jirou menerima panggilan telepon dari seseorang. Ia permisi untuk menerima panggilan tersebut.

Setelah cukup lama menerima panggilan, akhirnya..

“Anu.. Yumi-chan, maaf ya. Aku harus pergi sekarang. Eum.. nanti kalau aku lihat ada lowongan pekerjaan, aku akan segera hubungi kamu. Aku pergi dulu, ya..”

“Ah iya, baiklah.” Jawabku. Akhirnya aku pergi mencari pekerjaan sendiri.


Ini sudah larut malam, namun aku belum menemukan pekerjaan. Aku sudah mengunjungi satu persatu kedai makanan, toko, mini market, dan berbagai macam tempat namun tak satu pun menerimaku. Kebanyakan dari mereka menjawab “Maaf, kami belum memerlukan pegawai baru.”  Ah benar-benar. Karena sudah larut, aku memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah toko bertuliskan “ChokoChoko.” Hm? Choko? Itu berarti… Cokelat!!!! Uwaaaaa cokelaaaaaat! Aku berlari menuju toko cokelat tersebut. Sudah lama aku tidak menikmati makanan manis itu.

Aku masuk ke dalam toko cokelat tersebut. Kulihat berbagai macam cokelat ada disana. Rasanya berbagai macam, bentuknya unik-unik. Berbagai kreasi makanan dan minuman yang terbuat dari cokelat pun ada. Wah..

Aku memilih menu untuk kupesan. Cuaca malam ini dingin sekali, jadi kupikir aku akan memesan cokelat panas saja.

“Cokelat panas satu.” Ucapku kepada pelayan toko itu. Kemudian aku menunggu pesananku dengan duduk di salah satu meja. Aku tengah memandang keliling toko tersebut. Membayangkan andaikan aku bisa memakan semua cokelat ini.

Pandanganku tertuju pada satu bagian. Disana, di dekat kasir sana ada sebuah lowongan pekerjaan. Aku bergegas menuju kasir untuk melihat lebih dekat lowongan pekerjaan tersebut. Ternyata toko ini sedang membutuhkan pegawai. Wah kalau aku bisa bekerja disini, aku bisa puas makan cokelat. Yosh! Aku akan mencobanya.

“Anu… lowongan pekerjaan disana apakah masih berlaku?” Tanyaku kepada penjaga kasir disana.

“Oh iya, lowongan itu masih berlaku. Ada yang bisa saya bantu?”

“Eum.. boleh saya melamar pekerjaan?”

“Ah Anda ingin melamar pekerjaan? Kalau begitu mari ikut saya.”

“Ah iya..” Aku pun mengikuti penjaga kasir tersebut. Lho?  Kalau penjaga kasirnya pergi bagaimana dengan kasirnya? Tenang saja, sudah dititipkan dengan pegawai lain. Aku diantar menuju ruang Manager toko cokelat tersebut.

Sesampainya disana aku dipersilahkan duduk di depan Manager toko. Aku menyerahkan berkas-berkas yang mungkin dapat digunakan untuk melamar pekerjaan.

“Manami Yumiko?” Kata Manager.

“Iya, benar.” Jawabku.

“Mahasiswi kedokteran Universitas Tokyo? Anda serius mau bekerja disini?” Tanyanya seperti tidak percaya. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Manager tadi. “Mengapa Anda ingin bekerja disini? Sebenarnya Anda bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih dari hanya sekedar pegawai toko lho!” Lanjutnya.

“Ah iya, saya mencari pekerjaan untuk tambahan. Sebenarnya saya sudah berkeliling mencari pekerjaan, tapi belum ada yang menerima. Dan kebetulan saya suka sekali dengan cokelat, jadi saya memutuskan untuk melamar pekerjaan disini.” Tuturku.

Manager mengangguk-angguk seakan mengerti apa yang kurasakan. “Itu berarti Anda akan bekerja paruh waktu?”

“Iya, benar. Karena saya harus kuliah.” Jawabku. Disitu kami pun bernegosiasi mengenai waktu kerja dan gajinya. Setelah dirasa cocok, barulah kami mengakhiri negosiasi tersebut.


Aku bergegas menuju rumah kos, karena hari semakin larut. Jalanan pun hampir sepi. Aku sedikit berlari dengan masih membawa cokelat panas yang kupesan tadi.

‘Hari senin sampai jumat kamu masuk sore, jadi jam 6 sore sampai jam 12 malam. Kemudian hari sabtu dan minggu kamu masuk pagi, jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Dengan gaji per-jam 919 yen. Tapi kalau mau, kamu bisa kerja lembur untuk tambahan. Bagaimana?’

Aku masih terngiang ucapan Pak Manager tadi. Kalau dipikir-pikir, tidak ada waktu istirahat sehari pun untukku. Dan gajinya pun pas-pasan. Ya sudahlah tak apa, mungkin memang ini yang harus kulakukan.

Kurasa cokelat panas ini benar-benar panas. Tanganku sampai merah karena memegangnya sejak tadi. Ketika aku hendak meminumnya, tiba-tiba.. BRUAAK!

“AAA PANAS!! Panas panas panas!”

Aku tak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan cokelat panasku ke bajunya. Aduh aku harus bagaimana?

“Maaf! Maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja. Maafkan saya. Maafkan saya. Maafkan saya.” Aku mengucapkannya berulang kali dengan menunduk. Sampai akhirnya orang itu menghentikanku.

“Hei, cukup.” Ucapnya dengan memegang kepalaku.

Aku pun mengangkat kepalaku kembali. Orang itu terlihat sangat kepanasan karena cokelatku tadi. Aku benar-benar merasa bersalah.

“Maafkan saya..” Ucapku sekali lagi. Orang itu memandangku sejenak namun Ia hanya diam, lalu pergi begitu saja. Ia tidak marah atau apapun. Aku semakin merasa bersalah.

Kemudian aku bergegas mengambil sebuah sapu tangan dan memberikannya kepada orang itu.

“Ah tidak usah.” Ucapnya.

“Tidak apa-apa, ambillah ini untuk membersihkan baju Anda.” Kataku. Ia masih tidak mau menerimanya. Setelah kupaksa, akhirnya Ia mau membawa sapu tangan dariku itu dan pergi. Yah setidaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku.


Sesampainya di rumah kos, aku merebahkan tubuhku. Lelah sekali rasanya setelah berjalan berkeliling mencari pekerjaan. Kakiku terasa menjadi sangat besar. Perutku juga lapar. Apalagi cokelat panasku tadi belum sempat kuminum. Aku baru ingat kalau masih punya sepotong roti sisa sarapan tadi.

Aku meraih tasku dan mencari sepotong roti sisa itu. Eh? Tapi.. dimana sapu tanganku? Sapu tangan yang akan kuberikan kepada Akihiko Ichiro. Dimana? Kok tidak ada? Yang ada hanyalah sapu tanganku sendiri yang tidak ada nama Ichiro-san. Lalu dimana yang satunya? Ah iya! Berarti tadi yang kuberikan kepada orang itu adalah…. AAAAAA TIDAAAAAAKKK!!!



To be continued..

0 komentar: